Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Jurnalis Bali Diingatkan Tak Jadi Budak AI

Sabtu, 5 September 2026, 23:08 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Jurnalis Bali Diingatkan Tak Jadi Budak AI.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya konten media sosial yang belum terverifikasi, jurnalis dituntut semakin kritis dalam memastikan kebenaran informasi sebelum menjadi berita.

Pesan tersebut mengemuka dalam pelatihan peningkatan kapasitas jurnalistik yang digelar Radar Bali bertajuk "Pemanfaatan Akal Imitasi (AI) untuk Cek Fakta Menjaga Kepercayaan Publik" di Quest Hotel, Denpasar, Sabtu (5/9).

Pelatihan ini menjadi ruang bagi para jurnalis untuk meningkatkan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi sekaligus memahami pemanfaatan AI secara tepat dalam proses jurnalistik.

Ketua Panitia sekaligus Pemimpin Redaksi radarbali.id, Muhammad Ridwan, mengatakan adaptasi dan transformasi menjadi bagian penting yang harus dilakukan insan pers seiring perubahan teknologi.

"Seperti di Tiongkok yang sudah menggunakan AI, tapi tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada teknologi tersebut. Kalau bicara ilmu jurnalistik, baik tingkat dasar maupun lanjutan, intinya adalah bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan zaman dari era konvensional, digital, hingga AI saat ini," jelas Ridwan, usai acara pelatihan.

Pelatihan tingkat lanjut atau high level tersebut diikuti jurnalis dari berbagai platform media, mulai dari media cetak, online, televisi hingga radio.

Ridwan yang juga menjadi moderator menghadirkan dua praktisi media sebagai narasumber, yakni Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanuel Dewata Oja, dan Wakil Direktur Jawa Pos Radar Bali, Ibnu Yulianto.

Menurut Ridwan, kegiatan serupa ke depan diharapkan dapat menjangkau peserta yang lebih beragam. Tidak hanya wartawan lapangan, tetapi juga editor dan jajaran redaksi yang memiliki peran penting dalam proses produksi serta verifikasi berita.

Dalam pemaparannya, Emanuel Dewata Oja atau yang akrab disapa Edo menjelaskan penggunaan kecerdasan buatan dalam karya jurnalistik telah memiliki pedoman melalui Peraturan Dewan Pers No: 1/Peraturan-DP/I/2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.

"Di sana diatur secara lengkap bagaimana AI masuk ke ruang redaksi. Aturan inilah yang ingin saya segarkan kembali kepada rekan-rekan jurnalis sebagai pedoman dalam bekerja," jelasnya.

Edo menegaskan penggunaan AI bukan sesuatu yang dilarang dalam aktivitas jurnalistik. Namun, pemanfaatannya tetap harus mengikuti rambu-rambu yang berlaku, terutama dengan menempatkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sebagai landasan utama.

Sosialisasi mengenai aturan tersebut dinilai penting untuk mencegah jurnalis terjebak dalam kesalahan jurnalistik, termasuk misinformasi, disinformasi hingga persoalan hukum.

"Jurnalis tidak boleh menjadi budak mesin. Karena satu karya jurnalistik bersinggungan dengan banyak rezim hukum, maka kita harus berhati-hati. Jika tanpa pengetahuan yang cukup, pasti kita tidak siap menghadapinya," terang Edo.

Selain persoalan pemanfaatan teknologi, Edo turut mengungkap berbagai tantangan yang dihadapi jurnalis dalam menjalankan tugas. Salah satunya tekanan hukum yang sengaja dilakukan pihak tertentu untuk menimbulkan efek kejut atau chilling effect.

Menurutnya, pelatihan jurnalistik seperti yang digelar Radar Bali penting untuk memperkuat mental sekaligus menambah pengetahuan wartawan agar tetap percaya diri menghadapi dinamika di lapangan.

Sementara itu, Ibnu Yunianto selaku praktisi dan akademisi media digital memaparkan berbagai instrumen atau tools AI yang tersedia saat ini dan dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan jurnalis.

Pemanfaatan teknologi tersebut, menurutnya, semestinya tidak membuat jurnalis khawatir AI akan mengambil alih peran manusia. Justru, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas kerja, termasuk dalam proses pemeriksaan fakta.

Tantangan terbesar muncul ketika jurnalis berhadapan dengan derasnya informasi dari media sosial. Banyak informasi yang beredar belum teruji kebenarannya, tetapi kerap menjadi bahan awal dalam pembuatan berita.

Ibnu memaparkan sejumlah riset menunjukkan banyak wartawan menggunakan media sosial sebagai sumber awal untuk mencari bahan artikel. Persentasenya berbeda-beda berdasarkan kawasan, mulai dari 62 persen, 72 persen hingga 94 persen. Sementara itu, sekitar 15 persen wartawan merujuk artikel di media cetak sebagai bahan awal.

Tingginya ketergantungan terhadap media sosial tersebut memperlihatkan betapa pentingnya kemampuan verifikasi informasi bagi jurnalis. Kecepatan mendapatkan informasi harus diimbangi dengan ketelitian dalam memastikan fakta. Karena itu, Ibnu mengingatkan jurnalis agar mampu menganalisis informasi secara tajam sehingga tidak ikut menjadi bagian dari rantai penyebaran berita bohong atau hoaks.

Menurut Ibnu, kepercayaan publik menjadi taruhan utama bagi media. Ketika hoaks dan konten media sosial semakin banyak digunakan sebagai bahan berita, jurnalis dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga cerdas dalam menguji informasi.

"Penggunaan AI dalam verifikasi fakta ini menjadi benteng agar karya jurnalistik kita tetap presisi, akurat, dan terus menjaga trust masyarakat," tandas Ibnu.

Sepanjang kegiatan, peserta terlihat antusias mengikuti paparan kedua narasumber. Diskusi berlangsung interaktif dengan para jurnalis turut menyampaikan keresahan dan pengalaman terkait tantangan, etika serta batasan penggunaan AI dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami