Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ekonomi Kreatif Jakarta dan “Kanvas” Data yang Hilang

Bagaimana Kecerdasan Buatan Menutup Celah Informasi dan Mengantar Jakarta Menjadi Kota Global

Rabu, 22 Juli 2026, 10:20 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Ekonomi Kreatif Jakarta dan Kanvas Data yang Hilang

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Dua puluh tahun terakhir mengubah ekonomi kreatif secara drastis. Ia tidak lagi dipandang sebagai aktivitas kultural yang berdiri sendiri, melainkan sudah menjadi sumber pertumbuhan yang makin dihitung serius. UNCTAD (2024) mencatat kontribusi industri kreatif terhadap PDB di berbagai negara berada di rentang 0,5% sampai 7,3%. Pada 2022, ekspor jasa kreatif dunia menembus US$1,4 triliun, berarti naik 29% dalam lima tahun. Laporan yang sama juga memberi sorotan khusus pada digitalisasi dan kecerdasan buatan sebagai daya dorong baru. Intinya tidak rumit, masa depan ekonomi kreatif sangat bergantung pada seberapa cerdas teknologi dipakai.

Arah itu juga terlihat di Indonesia. Menurut BPS (2025), PDB ekonomi kreatif nasional pada 2024 mencapai Rp1.611,2 triliun, menyumbang 7,28% terhadap PDB, lalu tumbuh 6,57%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,03%. Dari sisi tenaga kerja, sektor ini menampung sekitar 26,5 juta orang. Ekspor produk kreatif pun melesat, dari kurang lebih US$15 miliar (2023) menjadi lebih dari US$25 miliar (2024). Target pemerintah juga tegas, dalam lima tahun kontribusinya didorong menembus 8% PDB dan diposisikan sebagai mesin baru pertumbuhan.

Jakarta, sebagai pusat ekonomi nasional, otomatis memegang peran kunci. Pertumbuhan ekonomi kreatif di Jakarta naik dari 8,13% (2024) ke 9,42% (2025), tetap konsisten di atas pertumbuhan PDRB. Walau begitu, pangsanya terhadap PDRB baru 11,53%. Bank Indonesia (2026) membaca ini sebagai tanda bahwa ruang pembenahan masih lebar. Di saat yang sama, UU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta menaruh target besar, Jakarta masuk 20 besar Global City Index pada 2045, dengan pendapatan per kapita sekitar USD86.000.

Mengacu Global Cities Index A.T. Kearney (2025), posisi Jakarta masih di peringkat 71 dari 158 kota dunia. Celah terbesarnya justru ada pada human capital, information exchange, dan cultural experience. Tiga-tiganya merupakan wilayah yang dekat dengan ekonomi kreatif. Dengan lebih dari separuh penduduk Jakarta berasal dari generasi milenial dan Gen Z, penguatan subsektor seperti film, desain, musik, gim, dan konten digital terasa masuk akal, bukan sekadar tren, tetapi strategi untuk menutup gap sekaligus mengangkat daya saing global.

Masalahnya, struktur sektor ini belum seimbang. Secara nasional, kuliner (sekitar 41,69%), fesyen (18,15%), dan kriya (15,70%) menguasai kira-kira 75% PDB ekonomi kreatif. Sementara itu subsektor berbasis konten digital, film, musik, animasi, aplikasi, padahal punya efek pengganda dan potensi ekspor yang besar, masih memberi kontribusi kecil. Sebagian ketimpangan itu bukan semata karena skala usaha, melainkan karena subsektor digital sering “tidak terlihat” dalam statistik konvensional. Apa yang tidak terbaca biasanya juga tidak tersentuh kebijakan, maka kebutuhan akan pemetaan yang lebih rinci menjadi mendesak.

Di balik peluang besar, ada hambatan struktural yang jarang dibicarakan tetapi dampaknya merembet ke mana-mana, data ekonomi kreatif yang terpecah-pecah dan tidak seimbang. Bayangkan dua pelaku usaha kreatif berada di jalan yang sama. Yang satu mudah ditemukan oleh investor karena datanya lengkap. Yang lain memiliki karya yang sama baiknya, tetapi nyaris tak terlihat karena jejak usahanya tersebar di berbagai platform. Bukan kualitas yang membedakan keduanya, melainkan keterlihatan datanya. Persoalan utamanya bukan kekurangan potensi. Yang belum ada ialah semacam “sistem saraf informasi” yang mampu memotret sektor ini secara utuh, rinci, mutakhir. Artikel ini menawarkan KANVAS sebagai jawaban atas persoalan tersebut.

Hambatan yang Jarang Disorot

Jejak para pelaku kreatif tersebar di banyak tempat dan jarang saling terhubung, transaksi di lokapasar, percakapan di media sosial, pendapatan dari streaming, mutasi pembayaran digital seperti QRIS, pendaftaran kekayaan intelektual di DJKI, sampai data perizinan di OSS. Setiap kanal punya definisi, format, serta taksonomi sendiri. Akibatnya, data-data itu sulit disatukan menjadi satu profil yang padu. Seorang desainer yang berjualan di lokapasar, membangun audiens lewat media sosial, lalu mendaftarkan merek, akan tercatat sebagai tiga entitas berbeda, bukan satu pelaku yang sama.

Gambaran resmi sering bergantung pada survei dan sensus berkala yang terbit dengan jeda panjang. Data semacam ini cenderung historis dan agregat. Pengambil keputusan akhirnya memakai angka tahun lalu untuk kebijakan tahun ini. Pertanyaan sederhana yang sifatnya operasional, berapa pelaku animasi di level kecamatan dan bagaimana pergerakannya bulan ini, nyaris tidak bisa dijawab dengan data yang tersedia.

Dampaknya muncul berlapis. Untuk pemerintah, insentif dan kebijakan berisiko meleset karena basis datanya tidak mutakhir. Untuk industri dan investor, ketiadaan intelijen pasar yang granular membuat risiko terasa lebih besar, keputusan ekspansi atau kemitraan pun tertahan. Untuk lembaga keuangan, asimetri informasi, yang sudah lama dijelaskan Akerlof (1970) sebagai pemicu kegagalan pasar, ikut memunculkan credit rationing terhadap pelaku yang kekuatannya justru ada pada aset tak berwujud, hak cipta, merek, desain. Walau UU Nomor 24 Tahun 2019 dan PP Nomor 24 Tahun 2022 sudah membuka ruang kekayaan intelektual sebagai objek jaminan, praktiknya masih tersendat. Perbankan masih condong pada agunan fisik, sementara mekanisme valuasi yang baku belum tersedia.

Digitalisasi memang menciptakan peluang, tetapi tidak otomatis merangkul semua pihak. UNCTAD (2024) menunjukkan alat digital bisa menekan biaya dan memperluas pendapatan kreator, namun juga membawa risiko konsentrasi pasar. Contohnya, dominasi lima penerbit besar yang memegang sekitar 80% pasar buku AS, dan tiga perusahaan yang menguasai 59% pasar streaming musik global. Jika tidak ada infrastruktur data yang membuat pelaku kecil berada pada posisi lebih setara, transformasi digital bisa memperlebar jarak, bukan menutupnya. Di sini, creative-tech, persilangan industri kreatif dan teknologi, relevan sebagai jembatan agar digitalisasi menghasilkan nilai yang lebih merata.

KANVAS: Satu Bidang untuk Seluruh Goresan

Di titik itulah gagasan KANVAS diletakkan. Digitalisasi tidak ditempatkan hanya sebagai kanal pemasaran, melainkan sebagai fondasi intelijen. KANVAS (Kanal Analitik, Navigasi, dan Visualisasi Aktivitas Sektor Ekonomi Kreatif) adalah platform berbasis kecerdasan buatan yang mengintegrasikan jejak digital lintas kanal, lalu membentuk profil digital terstandar untuk seluruh 17 subsektor dan pelaku ekonomi kreatif secara mendekati waktu nyata (near real-time). Namanya sengaja dibuat metaforis, seperti kanvas yang menampung semua goresan dalam satu bidang, platform ini mengumpulkan “goresan” aktivitas ekonomi kreatif Jakarta ke dalam satu ruang data yang bisa dinavigasi pengambil keputusan.

Di balik layar, KANVAS bekerja melalui empat lapisan utama. Lapisan data mengumpulkan dan menstandarkan masukan dari banyak sumber lewat konektor dan API. Lapisan AI mengolah data mentah menjadi profil. Lapisan intelijen menyajikan hasilnya, dari Profil Kreatif Digital, dasbor, sampai skor kelayakan usaha. Semua itu dinaungi lapisan tata kelola yang menjaga aspek etika, hukum, dan keamanan.

Kebaruannya ada pada cara mesin KANVAS “menjahit” data yang berserakan menjadi profil yang rapi. Data multi-sumber dihimpun lalu diselaraskan ke satu taksonomi 17 subsektor. Dengan pembelajaran mesin atau pemrosesan bahasa alami untuk teks, ditambah penglihatan komputer untuk citra, setiap pelaku diklasifikasikan ke subsektor yang tepat tanpa harus mengisi formulir panjang. Algoritma kemudian menyatukan jejak dari kanal berbeda menjadi satu identitas yang utuh. Untuk menutup lubang cakupan, model estimasi mengisi bagian kosong, misalnya memproyeksikan omzet lewat proksi transaksi. Lapisan AI generatif merangkum indikator penting menjadi profil yang mudah dibaca. Terakhir, mesin penghitung nilai (KreaScore) menghasilkan skor kelayakan usaha berbasis data alternatif, mempertimbangkan konsistensi aktivitas, pertumbuhan, jangkauan pasar, dan intensitas kepemilikan kekayaan intelektual, sebagai jembatan menuju pembiayaan aset tak berwujud.

Bentuk luarannya bisa dibayangkan sebagai lembar profil tiap subsektor yang selalu diperbarui. Untuk film, misalnya, profil itu memuat estimasi jumlah pelaku dan persebaran spasialnya, proksi omzet bulanan, intensitas kepemilikan Kekayaan Intelektual (KI), hingga rekomendasi otomatis seperti dukungan festival. Kuliner bisa menonjolkan kebutuhan sertifikasi dan akses pasar. Gim akan menampilkan intensitas KI yang tinggi, lalu rekomendasi yang mengarah ke akses modal ventura. Dari kepingan data yang dulu terpencar, KANVAS menyusun gambaran yang lebih mudah dibaca dan segera ditindaklanjuti.

Dari Intuisi ke Bukti

Manfaat KANVAS paling terasa bagi tiga kelompok pengambil keputusan. Untuk pemerintah, ia menggeser kebijakan dari sekadar intuisi menuju basis bukti. Insentif bisa diarahkan lebih presisi ke subsektor dan wilayah yang paling membutuhkan. Dampak program dapat dipantau mendekati real-time. Agenda strategis, seperti pengembangan ekosistem perfilman atau festival, disusun dengan data pelaku yang jelas. Platform ini juga bisa menyertakan indikator keberlanjutan, sehingga mendukung Green Creative Industry dan pemenuhan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).

Untuk pelaku dan investor, KANVAS menjadi intelijen pasar. Rumah produksi dapat menemukan studio animasi lokal yang sesuai, investor punya gambaran yang lebih granular sebelum masuk, dan pintu integrasi ke rantai nilai global terbuka lebih lebar. Untuk lembaga keuangan, data terstandar dan mesin penghitung nilai (KreaScore) membantu menekan asimetri informasi yang selama ini menghambat pembiayaan. Skor berbasis data alternatif memberi landasan penilaian risiko yang lebih kuat, sekaligus mempercepat penerapan kekayaan intelektual sebagai agunan sebagaimana amanat PP Nomor 24 Tahun 2022.

Tata Kelola, Dampak, dan Peta Jalan

Agar bertahan dan tidak berhenti sebagai proyek, KANVAS diusulkan dikelola konsorsium penta-helix. Koordinasi dapat dipegang Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta bersama Pemprov DKI Jakarta dan Kementerian Ekonomi Kreatif. BPS berperan sebagai penjamin metodologi, perguruan tinggi menjadi mitra riset dan audit algoritma, sedangkan platform digital dan asosiasi pelaku menjadi penyedia data. Model ini memposisikan platform sebagai barang publik untuk kebutuhan kebijakan, sambil membuka layanan data premium untuk industri agar pendanaan tetap jalan. Payung etikanya tidak bisa ditawar, seluruh pemrosesan patuh pada UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, memakai persetujuan yang jelas, anonimisasi agregat, keamanan siber berlapis, serta audit berkala untuk mencegah bias algoritma.

Mengenai dampak, angka presisi memang butuh kajian lanjut, tetapi potensi kasarnya bisa digambarkan. Porsi ekonomi kreatif 11,53% dari PDRB Jakarta yang mencapai Rp3.926,15 triliun setara sekitar Rp452 triliun. Jika ketersediaan data yang lebih baik bisa mempercepat pertumbuhan sektor ini, satu poin persentase saja di atas lintasan alaminya, lewat kebijakan yang lebih tepat dan pembiayaan yang lebih lancar, tambahan nilai tahunannya sudah masuk kisaran triliunan rupiah. Artinya, investasi pada infrastruktur data menawarkan rasio manfaat-biaya yang menarik.

Pelaksanaannya perlu dibuat bertahap agar terukur. Fase fondasi (2026–2027) berfokus pada pembentukan konsorsium, penataan tata kelola data, dan uji coba pada tiga subsektor unggulan, misalnya film, kuliner, dan fesyen, di wilayah percontohan. Fase perluasan (2027–2028) memperluas cakupan ke seluruh 17 subsektor se-DKI, meluncurkan mesin penghitung nilai (KreaScore) bersama perbankan dan OJK, lalu menghubungkannya dengan program pembiayaan. Fase integrasi (2029–2030) menempatkan platform ke dalam siklus kebijakan, membangun interoperabilitas dengan sistem nasional, dan mendukung integrasi rantai nilai global.

Jakarta tidak kekurangan talenta atau potensi kreatif. Yang belum hadir ialah sistem saraf informasi yang membuat seluruh potensi itu tampak, terukur, lalu bisa ditindaklanjuti. Dengan menutup celah data, ekonomi kreatif punya peluang naik kelas, dari sektor yang tumbuh cepat namun belum maksimal, menjadi mesin pertumbuhan baru yang membantu Jakarta mendekati posisi kota global. Pada titik ini, kecerdasan artifisial bukan cuma alat produksi konten, melainkan fondasi pengambilan keputusan, dan Bank Indonesia, lewat fungsi advisory-nya, punya posisi yang kuat untuk memulai.

Penutup dan Rekomendasi

Ekonomi kreatif Jakarta merupakan mesin pertumbuhan yang belum mencapai kinerja terbaiknya. Angka pertumbuhannya memang mengesankan, tetapi fragmentasi dan asimetri data tetap menjadi penghambat struktural. Jika dibiarkan, ia terus melemahkan ketepatan kebijakan, menahan investasi, dan mempersempit akses pembiayaan. KANVAS ditawarkan sebagai jawaban, sebuah platform intelijen ekonomi kreatif berbasis AI yang mengintegrasikan jejak digital lintas kanal, membentuk profil terstandar secara near real-time, dan menyediakan instrumen kelayakan usaha untuk membuka pembiayaan bagi pelaku yang bertumpu pada aset intelektual.

Agar gagasan ini bergerak, perlu langkah nyata. Bank Indonesia (Kantor Perwakilan DKI Jakarta) diharapkan memprakarsai konsorsium penta-helix dan menempatkan KANVAS sebagai penopang fungsi advisory sekaligus penguatan fondasi data ekonomi kreatif. Pemprov DKI Jakarta perlu menjadikan KANVAS sebagai rujukan penargetan insentif dan pemantauan program, serta membuka interoperabilitas data perizinan secara aman. Kementerian Ekonomi Kreatif dan BPS diharapkan menyelaraskan taksonomi 17 subsektor dan menjaga metodologi agar luaran KANVAS dapat dipertanggungjawabkan secara statistik. OJK dan perbankan dapat memakai KreaScore sebagai instrumen pendukung penilaian kelayakan dalam skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual. Perguruan tinggi dan komunitas pun penting, melalui riset, audit algoritma, literasi data, serta pendampingan pelaku agar adopsinya benar-benar inklusif.

Transformasi ekonomi kreatif lewat digitalisasi bukan sekadar memindahkan produk analog ke format digital. Yang dibangun adalah fondasi data agar ekosistem kreatif bertumbuh dengan cara yang lebih cerdas, terukur, dan adil. KANVAS menawarkan bentuk konkret dari penguatan lingkungan creative-tech, prasyarat bagi Jakarta untuk melompat ke jajaran kota global berbasis inovasi. Dengan keberanian berinvestasi pada infrastruktur data dan kolaborasi lintas sektor, Jakarta tidak hanya berpeluang memperbaiki posisi di indeks kota global, tetapi juga menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan bagi warganya. Kota global tidak dibangun hanya oleh gedung-gedung tinggi, tetapi oleh kemampuan melihat talenta yang selama ini tidak pernah terlihat.

oleh: I Putu Agus Swastika, M.Kom

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Founder

Reporter: bbn/gus



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami