Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




TMS di Denpasar: Cara Kerja dan Keamanannya Menurut dr Nyoman Artha Megayasa

Sabtu, 8 Agustus 2026, 20:50 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/TMS di Denpasar: Cara Kerja dan Keamanannya Menurut dr Nyoman Artha Megayasa.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

TMS dilakukan tanpa operasi dan pasien tetap sadar selama prosedur. dr. Nyoman Artha Megayasa menjelaskan pemeriksaan yang diperlukan sebelum terapi, efek samping yang mungkin muncul, serta alasan hasilnya dapat berbeda pada setiap pasien.

Transcranial magnetic stimulation atau TMS merupakan metode stimulasi otak yang menggunakan pulsa magnetik. Prosedur dilakukan dari luar kepala tanpa sayatan. Pasien biasanya tetap sadar dan dapat berkomunikasi selama sesi. Walaupun terdengar sederhana, TMS tidak dapat diberikan hanya berdasarkan keluhan atau keinginan mencoba teknologi baru.

Dokter spesialis neurologi dr. Nyoman Artha Megayasa, Sp.N., S.H., FNR menjelaskan bahwa setiap program TMS perlu diawali dengan diagnosis yang jelas, tujuan terapi yang masuk akal, dan pemeriksaan faktor risiko. TMS bukan terapi untuk semua keluhan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, bagian otak yang menjadi sasaran, serta bukti ilmiah untuk protokol yang dipilih.

Bagaimana TMS bekerja?

Saat terapi berlangsung, kumparan (coil) ditempatkan di dekat kulit kepala. Alat kemudian menghasilkan medan magnet yang berubah sangat cepat. Perubahan ini menimbulkan arus listrik lemah pada jaringan saraf di area yang dituju. Jika pulsa diberikan berulang dengan pola tertentu, prosedurnya disebut repetitive transcranial magnetic stimulation atau rTMS (National Institute of Mental Health, tanpa tahun; Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, 2025).

Menurut dr. Artha, pertanyaan terpenting bukan sekadar bagaimana alat bekerja, melainkan apa tujuan terapinya. Keluhan yang berbeda dapat memerlukan sasaran dan protokol yang berbeda. Karena itu, target perlu ditentukan sejak awal dan dirumuskan menjadi hasil yang dapat dinilai. Penjelasan mengenai cara kerja dan keamanan rTMS dapat digunakan sebagai bacaan awal sebelum berkonsultasi.

Apa yang diperiksa sebelum terapi?

Sebelum sesi pertama, dokter perlu memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Pemeriksaan mencakup riwayat penyakit, terapi yang sedang dijalani, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan tujuan yang ingin dicapai. Bila TMS dipertimbangkan dalam pemulihan fungsi, kondisi awal sebaiknya dicatat agar perubahan setelah terapi dapat dibandingkan secara objektif.

Menurut dr. Nyoman Artha Megayasa, pasien perlu memberi tahu dokter jika pernah mengalami kejang, kehilangan kesadaran tanpa sebab yang jelas, cedera atau penyakit otak, serta gangguan tidur berat. Daftar obat dan suplemen juga perlu dibawa, termasuk perubahan dosis terbaru. Obat tidak boleh dihentikan sendiri hanya karena pasien akan menjalani TMS.

Implan elektronik dan benda logam tertentu di dalam atau dekat kepala juga harus diperiksa. Dokter akan menilai jenis bahan, lokasi, jarak dari kumparan, dan fungsi perangkat tersebut. Logam yang berada jauh dari kepala tidak selalu menjadi alasan untuk menolak TMS, tetapi keamanannya tetap harus dinilai secara individual. Riwayat operasi kepala, kehamilan, konsumsi alkohol, dan perubahan kondisi kesehatan juga perlu disampaikan (Rossi et al., 2021).

Apa yang dirasakan selama sesi?

Pasien biasanya duduk di kursi dengan posisi kepala yang nyaman. Ketika alat bekerja, terdengar bunyi klik atau ketukan. Sebagian pasien merasakan ketukan, kesemutan, atau kedutan ringan pada otot kulit kepala dan wajah. Pelindung telinga digunakan untuk mengurangi paparan bunyi. Jika sensasi terasa mengganggu, pasien dapat langsung menyampaikannya kepada petugas.

Keluhan yang paling sering dilaporkan umumnya ringan dan sementara, seperti sakit kepala, rasa tidak nyaman pada kulit kepala, kesemutan, atau pusing. Risiko yang lebih serius, termasuk kejang, jarang terjadi bila TMS diberikan sesuai pedoman dan faktor risiko sudah diperiksa. Namun, jarang bukan berarti tidak mungkin. Fasilitas tetap perlu memiliki tenaga terlatih, pemantauan, dan prosedur penanganan keadaan darurat (Rossi et al., 2021).

Apakah TMS bermanfaat untuk semua kondisi?

Jawabannya tidak. Penelitian TMS mencakup berbagai gangguan neurologis dan psikiatris, tetapi kekuatan buktinya tidak sama. Dukungan ilmiah yang lebih kuat hanya ditemukan pada kombinasi kondisi, bagian otak, dan pola stimulasi tertentu. Beberapa contohnya adalah protokol tertentu untuk depresi, nyeri neuropatik, dan pemulihan fungsi motorik pada fase pasca-akut stroke (Lefaucheur et al., 2020).

Menurut dr. Artha, hasil penelitian terkini pada sekelompok pasien tidak menjamin hasil yang sama pada setiap orang. TMS lebih tepat dipertimbangkan sebagai bagian dari rencana terapi pada pasien yang sesuai. Dalam banyak keadaan, TMS diberikan bersama obat, psikoterapi, latihan, atau rehabilitasi yang masih diperlukan, bukan untuk menggantikannya.

Hasil terapi perlu diukur

Sebelum terapi dimulai, pasien dan dokter sebaiknya menyepakati perubahan apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara menilainya. Ukurannya dapat berupa perubahan gejala, kemampuan melakukan aktivitas, hasil pemeriksaan fungsi, atau indikator lain yang sesuai dengan kondisi pasien.

Evaluasi perlu dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Jika tidak terlihat perubahan yang bermakna, muncul efek samping, atau tujuan terapi berubah, program perlu ditinjau kembali. Menambah sesi tanpa alasan klinis yang jelas bukanlah tujuan pengobatan.

Penutup

TMS menawarkan cara non-invasif untuk menstimulasi area otak tertentu, tetapi alat bukan satu-satunya penentu kualitas terapi. Diagnosis, pemeriksaan keselamatan, pemilihan protokol, kompetensi petugas, serta evaluasi hasil memiliki peran yang sama penting. Bagi masyarakat di Denpasar dan Bali, konsultasi sebaiknya digunakan untuk memahami apakah TMS memang sesuai, bukan untuk langsung menentukan terapi sendiri.

Tentang narasumber

dr. Nyoman Artha Megayasa merupakan dokter spesialis neurologi dengan keahlian neurorestorasi dan neuroengineering. Beliau menulis materi edukasi berbasis bukti mengenai pemulihan fungsi otak dan sistem saraf. Informasi lebih lengkap terkait edukasi pemulihan fungsi saraf dapat dipelajari melalui neurorestorasi.id.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/adv



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami