Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 15 Agustus 2026
Filosofi Lawar Menurut Mahayastra: Simbol Kebersamaan
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Lawar bukan sekadar kuliner tradisional Bali. Bagi Bupati Gianyar I Made "Agus" Mahayastra, lawar memiliki filosofi tentang kebersamaan, keberagaman dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Mahayastra saat menghadiri Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Mahayastra mengibaratkan proses meracik lawar sebagai gambaran kehidupan sosial. Beragam bahan dan bumbu harus berpadu dengan takaran yang tepat sehingga menghasilkan cita rasa yang seimbang.
"Lawar memiliki makna kebersamaan, keragaman. Kalau salah satu mendominasi, rasanya tidak akan enak," ujar Agus Mahayastra.
Menurutnya, prinsip keseimbangan dalam lawar dapat menjadi gambaran bagaimana masyarakat hidup berdampingan. Setiap unsur memiliki peran, namun tidak boleh ada satu unsur yang mendominasi.
Ia mencontohkan, rasa lawar akan berubah jika salah satu bumbu digunakan secara berlebihan. Garam yang terlalu banyak membuat rasa menjadi asin, sementara cabai yang terlalu dominan akan membuat rasa hanya terasa pedas.
"Yang enak adalah bagaimana mereka bercampur, bersatu padu, membuat rasa yang enak. Itulah lawar, itulah rasa kebersamaan kita di Gianyar," tegasnya.
Ngelawar Jadi Ruang Kebersamaan
Bagi masyarakat Gianyar, tradisi ngelawar tidak hanya berkaitan dengan aktivitas memasak. Kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat dan kerap hadir dalam berbagai kegiatan adat.
Ngelawar dapat ditemui dalam hajatan keluarga, upacara piodalan hingga kegiatan adat di banjar. Warga berkumpul dan bekerja bersama untuk menyiapkan lawar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Mahayastra menilai tradisi tersebut menjadi sarana bagi masyarakat untuk saling berbaur. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing sehingga tidak ada yang hanya menjadi penonton.
Semangat itulah yang menurutnya perlu terus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat Gianyar.
"Kalau hadir di tengah-tengah masyarakat, apakah kita bengong? Malu dong kita bengong. Minimal bisa berbaur. Entah kalau tidak bisa dalam hal A, di hal B kita bisa," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4532 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2343 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1990 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1605 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1048 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun