Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 17 Agustus 2026
Sosok Kapten Candra Buana, Pejuang Muda Karangasem Gugur Sebelum Proklamasi RI di Usia 20
beritabali/ist/Sosok Kapten Candra Buana, Pejuang Muda Karangasem Gugur Sebelum Proklamasi RI di Usia 20.
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Sehari sebelum bangsa Indonesia memperingati Proklamasi Kemerdekaan, seorang pejuang muda asal Karangasem gugur di medan pertempuran. Ia adalah Kapten (Anumerta) Anak Agung Made Karang Candra Buana, putra Puri Kaleran yang gugur menghadapi pasukan NICA di Desa Poh, Budakeling, pada 16 Agustus 1947.
Kisah perjuangannya kembali dikenang dalam Pameran Pembangunan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Taman Budaya Candra Bhuana, Karangasem. Puri Kaleran menampilkan dua foto sosok pejuang muda tersebut sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan jiwa.
Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, A.A. Gede Suryawisesa, mengatakan kehadiran foto Kapten A.A. Made Karang Candra Buana dalam pameran bukan sekadar untuk mengenalkan sosoknya. Namun, juga menjadi sarana untuk menyampaikan kembali sejarah perjuangan kepada generasi muda.
“Sejarah perjuangan ini harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak datang begitu saja, tetapi melalui perjuangan dan pengorbanan para pejuang,” ujar Suryawisesa, Senin (17/8/2026).
A.A. Made Karang Candra Buana lahir pada 1927 dari pasangan Anak Agung Wayan Karang dan Mekele Wanasari asal Purwa Ayu, Kemuda, Karangasem. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Semangat perjuangan telah tumbuh sejak ia masih muda. Lingkungan Puri Kaleran saat itu tidak lepas dari kisah perjuangan para leluhur melawan penjajahan Belanda, termasuk perjuangan dalam Perang Jagaraga bersama Patih Jelantik.
Semangat tersebut kemudian mengantarkan para putra Puri Kaleran untuk ikut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan setelah Indonesia merdeka. Bahkan, hampir seluruh putra Puri Kaleran terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda dan NICA di Karangasem.
Salah satu dukungan penting datang dari pamannya, Anak Agung Gde Rai, yang kala itu menjabat sebagai Punggawa Abang. Ia meninggalkan jabatannya demi mendukung perjuangan. Lahan pertaniannya di lereng Gunung Agung, kawasan Purasana hingga Tanah Aron, digunakan sebagai markas sekaligus tempat penyediaan logistik bagi para pejuang.
Ketika pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai melakukan long march menuju Karangasem, kawasan tersebut turut menjadi bagian dari jalur dan dukungan perjuangan.
A.A. Made Karang Candra Buana bersama para pemuda pejuang terlibat dalam sejumlah perlawanan terhadap pasukan NICA. Jejak perjuangannya tercatat dalam berbagai peristiwa, mulai dari Padang Bai, Desa Duda, Bukit Ababi, Desa Suter hingga Pertempuran Tanah Aron.
Pertempuran Tanah Aron pada 7 Juli 1946 menjadi salah satu catatan penting. Pasukan Ciung Wanara di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan NICA.
Namun, perjalanan perjuangan A.A. Made Karang Candra Buana berakhir setahun kemudian. Menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-II pada 1947, A.A. Made Karang Candra Buana bersama pasukannya berada di Desa Poh, Budakeling. Mereka tengah mempersiapkan kegiatan untuk memperingati hari kemerdekaan. Namun, persiapan tersebut berubah menjadi tragedi.
Rencana tersebut bocor. Pasukan NICA melakukan serangan secara tiba-tiba. Dalam peristiwa tersebut, A.A. Made Karang Candra Buana bersama sejumlah pejuang lainnya, di antaranya Jaya Tirta, I Ketut Alit, I Wayan Sinta dan Kandi, gugur.
Saat gugur, A.A. Made Karang Candra Buana masih berusia sekitar 20 tahun. Ironisnya, ia gugur tepat sehari sebelum rakyat Indonesia memperingati Proklamasi Kemerdekaan, 16 Agustus 1947.
“Beliau masih sangat muda, tetapi keberanian dan pengabdiannya untuk mempertahankan kemerdekaan luar biasa. Karena itu, perjuangannya tidak boleh hilang dari ingatan generasi sekarang,” kata Suryawisesa.
Pengorbanan A.A. Made Karang Candra Buana kemudian mendapat penghormatan. Berdasarkan catatan Kantor Administrasi Veteran Cadangan IX/25 Karangasem dan Surat Pernyataan Yayasan Kebaktian Proklamasi Daerah Karangasem, ia diberikan pangkat Kapten secara anumerta.
Namanya juga diabadikan di Tugu Taman Pahlawan Margarana. Sementara makamnya di Desa Poh, lokasi gugurnya bersama rekan seperjuangannya, I Wayan Sinta, menjadi salah satu penanda sejarah perjuangan kemerdekaan di Karangasem.
Kini, namanya kembali diabadikan sebagai bagian dari identitas sejarah daerah. Melalui SK Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 tertanggal 31 Maret 2026, Taman Budaya Kabupaten Karangasem di Amlapura ditetapkan menggunakan nama Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candra Buana.
Bagi Puri Kaleran, penamaan tersebut bukan sekadar nama sebuah tempat. Ada pesan sejarah yang ingin terus diwariskan: bahwa kemerdekaan yang dirasakan generasi hari ini pernah diperjuangkan oleh anak-anak muda yang rela mempertaruhkan hidupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4562 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2363 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2016 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1628 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1068 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun