Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 1 September 2026
KPU Bali Dorong Pemuda Buleleng Berani Tolak Politik Uang dan Hoaks
BERITABALI.COM, BULELENG.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali mendorong generasi muda di Kabupaten Buleleng tidak hanya menggunakan hak pilih saat Pemilu, tetapi juga aktif mengawal seluruh tahapan demokrasi. Pemuda juga diminta berani menolak politik uang serta tidak ikut menyebarkan hoaks di media sosial.
Pesan tersebut disampaikan Ketua KPU Provinsi Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) edukasi kepemiluan bersama Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) se-Kabupaten Buleleng.
Kegiatan tersebut diikuti 96 peserta yang merupakan pemilih pemula. Edukasi kepemiluan ini digelar untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai demokrasi, hak politik, tahapan Pemilu, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal proses demokrasi.
Lidartawan mengatakan pemuda memiliki posisi strategis dalam demokrasi karena jumlah pemilih muda dan pemilih pemula cukup besar. Pada Pemilu 2024, Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Bali mencapai 3.269.516 pemilih yang didominasi kelompok pemilih muda dan pemilih pemula.
Menurutnya, peran pemuda dalam Pemilu tidak berhenti setelah memberikan suara di tempat pemungutan suara (TPS). Generasi muda dapat terlibat sejak tahapan awal, termasuk memastikan dirinya terdaftar sebagai pemilih, membantu edukasi pencocokan dan penelitian (coklit), hingga melakukan pengawasan partisipatif.
"Pemuda harus mengambil peran lebih besar dalam setiap tahapan pemilu, termasuk berani menolak praktik politik uang di TPS," tegas Lidartawan, dikonfirmasi Selasa (1/9).
KPU Bali Ingatkan Bahaya Hoaks di Media Sosial
Selain politik uang, KPU Bali juga menyoroti tantangan demokrasi di ruang digital. Lidartawan mengingatkan pemilih muda agar tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang beredar melalui media sosial.
Menurutnya, media sosial telah menjadi salah satu ruang demokrasi. Namun, ruang tersebut juga rentan dimanfaatkan untuk penyebaran hoaks, disinformasi hingga ujaran kebencian yang dapat memengaruhi kualitas demokrasi.
"Timeline-mu adalah ruang demokrasi. Jadilah pemilih digital yang cerdas dengan menerapkan prinsip saring sebelum sharing melalui langkah Stop, Check, Share (Tahan, Telusuri, Tanggapi) sebelum menyebarkan informasi," ujarnya.
KPU Bali juga mendorong generasi muda tidak hanya menjadi pemilih dan pengawas partisipatif, tetapi berani masuk ke ruang politik. Pemuda dinilai tidak cukup hanya mengkritik politik dari luar, tetapi dapat bergabung dengan partai politik untuk ikut menentukan arah kebijakan.
Keterlibatan anak muda dalam dunia politik dinilai penting untuk membuka ruang lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang berkualitas sekaligus memperkuat regenerasi kepemimpinan.
"KPU bukan sekadar penyelenggara pemungutan suara, tetapi penjaga integritas seluruh proses demokrasi," tandasnya.
Melalui edukasi kepemiluan tersebut, KPU Bali berharap pemuda Buleleng dapat menjadi bagian penting dalam pengawasan Pemilu sekaligus menjadi benteng masyarakat dari praktik politik uang, hoaks dan berbagai narasi negatif yang berpotensi mengganggu kualitas demokrasi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 315 Kali
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Dibaca: 247 Kali
Panahan Buleleng Raih 5 Emas di Kejurprov Bali
Dibaca: 198 Kali
Lomba Layang-layang Jembrana Disorot, Bupati Kembang Kecewa
Dibaca: 195 Kali
Benih Kerapu Bali Makin Laris, Ekspor Tembus Rp6,4 Miliar
Dibaca: 188 Kali
ABOUT BALI
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman