Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




20 Tahun Bisnis Perak, Deni Kini Terjun ke Kuliner

Kamis, 3 September 2026, 22:42 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/20 Tahun Bisnis Perak, Deni Kini Terjun ke Kuliner.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Dua dekade bergelut di bisnis perak tidak membuat Ketut Deni Aryasa berhenti mencoba hal baru. Pengusaha asal Karangasem ini kini melebarkan sayap ke dunia kuliner dengan menghadirkan restoran bernama Doche di Kota Denpasar.

Pria yang akrab disapa Deni tersebut memilih konsep yang cukup berbeda ketika memulai bisnis kulinernya. Latar belakangnya di dunia arsitektur turut dituangkan dalam desain dan dekorasi restoran yang berlokasi di Jalan Tukad Batanghari No 62A, Dauh Puri Klod, Kecamatan Denpasar Barat.

Konsep interior menjadi salah satu daya tarik yang disiapkan Deni untuk membuat Doche memiliki magnet tersendiri, khususnya di kalangan generasi Z. Perpaduan pengalaman bisnis, arsitektur dan kreativitas menjadi bagian dari upayanya menghadirkan restoran dengan karakter berbeda.

Doche sendiri mulai dibuka pada Juli 2026. Restoran ini menawarkan pilihan menu yang cukup beragam, mulai dari masakan Jepang seperti sushi dan ramen, makanan western, hingga ayam guling yang dapat dibawa pulang atau take away.

Tidak hanya mengandalkan pilihan makanan, Deni juga menghadirkan sajian kopi sebagai bagian dari konsep Doche. Restoran tersebut menyediakan kopi 100 persen arabika yang berasal dari Flores. Pilihan menu yang beragam tersebut menjadi salah satu keunikan yang ditawarkan Doche. Pengunjung dapat menemukan makanan dengan karakter Jepang, western hingga menu ayam guling dalam satu tempat.

Keputusan Deni masuk ke bisnis kuliner juga menjadi babak baru setelah sekitar 20 tahun menjalani bisnis perak. Pengalaman di bidang arsitektur kemudian menjadi modal lain dalam membangun identitas visual dan suasana restoran.

Dengan lokasi di kawasan Denpasar Barat, Doche hadir membawa konsep kuliner yang tidak hanya mengedepankan makanan, tetapi juga pengalaman ruang melalui desain restoran.

Lantas, seperti apa sebenarnya konsep yang dibangun Deni melalui Doche? Apa yang membuat restoran ini berbeda dan bagaimana perjalanan pengusaha asal Karangasem tersebut dari bisnis perak hingga merambah dunia kuliner? Berikut petikan wawancara beritabali.com dengan pemilik restoran Doche, Ketut Deni Aryasa.

Bagaimana sebenarnya konsep restoran yang dibangun Deni dan apa keunikan dari Doche yang mulai dibuka sejak bulan Juli 2026 lalu tersebut? Berikut petikan wawancara beritabali.com dengan pemilik restoran Doche tersebut.

Bisa diceritakan bagaimana konsep bangunan dan interior dari Doche ini? Mengapa terlihat sangat unik?

Iya, model bangunannya memang sengaja saya buat unik agar pengunjung merasa sangat cozy dan nyaman. Arsitekturnya mengusung style Italia dengan jendela-jendela yang membuat dapurnya terbuka semua. Untuk interiornya, kami menggunakan unsur-unsur alam seperti batu dan besi, serta sangat menghindari penggunaan filter plastik. Tanaman-tanaman di sini juga semuanya tanaman asli agar suasana terasa lebih alami dan nyaman

Bagaimana dengan konsep menu makanan yang ditawarkan di sini?

Menu utama kami memang Jepang, tetapi konsepnya seperti one stop. Kami juga menjual menu western yang cukup banyak pilihannya. Saat ini kami sedang melengkapi departemen lainnya, seperti bakery untuk sarapan yang bisa di-take away. Lalu ada juga departemen untuk ayam guling atau ayam grill di bagian depan yang juga bisa di-take away. Selain itu, ada departemen coffee shop yang menggunakan 100% kopi Arabika dari Flores.

Tempat ini terlihat sangat eksklusif seperti galeri seni. Bagaimana Anda merancang estetikanya agar menarik bagi gen Z?

Kami memang ingin tempat ini sangat nyaman, mulai dari penataan pencahayaan atau lighting-nya yang tidak norak tetapi tetap nyaman. Walaupun kelihatannya sangat eksklusif seperti galeri seni, bangunannya diukir langsung menggunakan semen putih sehingga memberikan kesan yang sangat estetik. 

Generasi baru sekarang kan mencari sesuatu yang berbeda, mereka tidak mau tempat makan yang biasa saja di mana mereka datang, makan, lalu pulang. Saya ingin ada repeat customer yang senang nongkrong atau bekerja di sini, sehingga kami menyediakan fasilitas Wi-Fi berkecepatan tinggi

Terlepas dari penampilannya yang eksklusif, kabarnya harga menu di sini justru sangat terjangkau?

Betul sekali, harganya sebenarnya sangat murah. Es krim kami jual seharga Rp8.000 saja. Harga kopi juga jauh di bawah tempat lain. Di sushi bar kami, plating dimulai dari harga Rp15.000. Menu Binsu (es serut Korea) kami hanya Rp26.000, padahal di tempat lain bisa Rp38.000, dan kami menggunakan es krim beneran sebagai topping, bukan hanya foam kocok

Bagaimana dengan kualitas rasa dari menu-menu tersebut?

Untuk menu Jepang, rasanya sangat terjamin karena koki kami diajari langsung oleh ayahnya yang pernah menjadi koki di Jepang selama 25 tahun sebelum akhirnya pulang dan bekerja sama di restoran ini. Kami juga memiliki menu spesial Spanish (Spanyol) yang bumbunya sangat otentik namun harganya jauh di bawah kompetitor, bahkan hampir setengah dari harga pasaran di Amerika.

Saya tidak ingin tempat yang eksklusif membuat orang ragu untuk makan karena khawatir dengan harganya. Saya ingin tempat ini terasa ramah dan hangat seperti rumah (home)

Apakah ada promo khusus selama masa pembukaan ini?

Saat ini kami sedang dalam masa soft opening atau trial opening dan menawarkan promo diskon 15%. Syaratnya cukup dengan mengunggah foto ke Instagram (upload IG) dan melakukan tag ke akun kami. Ke depannya tentu kami akan menyediakan banyak promo menarik lainnya

Latar belakang Anda sendiri sebenarnya dari mana? Mengapa akhirnya tertarik terjun ke bisnis kuliner?

Latar belakang saya sebenarnya adalah pengusaha perak. Saya adalah desainer perak sejak tahun 2005, jadi sudah sekitar 20 tahun berkecimpung di dunia perak (silver). Karena saya memiliki latar belakang pendidikan di bidang arsitektur, saya sangat mengerti cara membuat interior yang bagus, estetik, dan detail. Detail lukisan dan ukiran di tembok-tembok Doche ini sangat instagramable.

Alasan saya beralih ke kuliner karena saya dan teman-teman sering mencari tempat nongkrong yang cozy dengan harga terjangkau. Saya ingin membuat sesuatu yang lebih otentik, bukan sekadar coffee shop biasa yang hanya menyediakan meja dan kursi. Saya bahkan mengawasi sendiri pembuatan furniturnya langsung ke Jepara agar hasilnya sempurna. 

Saya ingin semua panca indra pengunjung dimanjakan—mata melihat tanaman hijau alami, lidah merasakan makanan enak, dan dompet tetap aman dengan harga yang bersahabat. Tempat ini juga dirancang ramah keluarga (family-friendly), bukan hanya untuk tempat nongkrong anak muda.

Mengapa memilih lokasi di daerah Panjer ini?

Rencananya kami akan buka sampai malam hari, dan Jalan Tukad di daerah Panjer ini merupakan pusat kuliner di Denpasar yang dikelilingi oleh anak kos, perkantoran, sekolah, serta apartemen. Lokasi ini sangat menunjang konsep all-in-one kami. 

Jadi, jika ada satu keluarga atau rombongan datang ke sini, semua keinginan mereka bisa terpenuhi di satu tempat—ada yang mau makan Jepang, makan western, ngopi, makan es krim Rp8.000-an, atau sekadar membawa pulang (take out) ayam panggang. Semuanya ada di Doche.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami