Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Akibat Banjir Bandang, Warga Dusun Kaje Kauh Sudaji Terisolir
BERITABALI.COM, BULELENG.
Memasuki hari k-13 pasca banjir bandang, warga Dusun Kaje Kauh Sudaji Buleleng masih terisolir. Kondisi ini terjadi karena jalan satu-satunya menuju dusun masih rusak dan dipenuhi batu-batu besar. Batu dan lumpur yang memenuhi jalan merupakan material yang terbawa saat terjadi banjir bandang.
Kepala Dusun Kaje Kauh Desa Sudaji Buleleng I Putu Suwinten mengaku telah mengajukan permohonan kepada pemerintah kabupaten Buleleng untuk menerjunkan alat berat untuk membantu masyarakat membuka akses jalan. Namun hingga kini bantuan alat berat tersebut belum ada.
"belum ada, tapi saya sudah mohon kepada bapak bupati supaya cepat ada alat berat, supaya jalan-jalan ini bisa segera di perbaiki, langsung sampai saat sekarang ini belum ada, Cuma bantuan aja sudah ada, mie itu sudah ada" kata I Putu Suwinten
Putu Suwinten menyebutkan saat ini warga dibantu anggota TNI secara perlahan berupaya membuka akses jalan dusun. Sedangkan sebanyak 30 warga yang rumahnya berdekatan dengan pusat lokasi juga masih mengungsi, karena ketakutan akan terjadi banjir bandang kembali akibat intensitas hujan yang masih tinggi.
Selain mengalami kesulitan akses menuju luar desa warga juga mengalami kesulitan air bersih.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3543 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1324 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 923 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 847 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 691 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun