Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 27 Mei 2026
AS Wanti-Wanti Australia Jangan Dukung Larangan Senjata Nuklir
BERITABALI.COM, DUNIA.
Amerika Serikat mewanti-wanti Australia agar tidak ikut-ikutan menyetujui perjanjian pelarangan senjata nuklir. Ratusan negara diketahui membuat perjanjian yang mengatur pelarangan senjata nuklir dengan tujuan pelucutan total senjata tersebut. Perjanjian itu dibuat pada 2017 dan mulai berlaku sejak 22 Januari 2021.
Menurut AS, perjanjian itu hanya menghambat kebijakan pertahanan antara AS dan sekutunya, termasuk Australia. Menurut Washington, pakta tersebut bisa menggagalkan perjanjian pertahanan baru antara AS, Australia, dan Inggris yang dinamakan AUKUS.
"Amerika Serikat memahami dan memiliki kepentingan yang sama untuk memajukan tujuan pelucutan senjata nuklir, tapi kami tidak mendukung perjanjian tentang larangan senjata nuklir," kata juru bicara Kedutaan Besar AS di Canberra kepada The Guardian, Rabu (9/11).
"Amerika Serikat tidak percaya bahwa kemajuan menuju pelucutan senjata nuklir bisa tercapai dengan mengabaikan ancaman keamanan yang berlaku di dunia saat ini," lanjut jubir itu.
Pernyataan AS itu muncul setelah Australia mengubah posisi mereka soal perjanjian larangan nuklir dari semua menentang menjadi abstain.
Kedutaan Besar AS di Canberra mengatakan perjanjian larangan senjata nuklir ini bisa menghambat AS memperluas strategi pertahanan pencegahan (detterence) yang masih diperlukan untuk perdamaian dan keamanan internasional.
Kedutaan juga mengatakan perjanjian itu berisiko "memperkuat perpecahan" dalam komunitas internasional.
Berbeda dengan AS, Selandia Baru justru "senang melihat perubahan positif" dari Australia terkait pakta tersebut.
Wellington juga menyatakan "bakal menyambut setiap ratifikasi baru sebagai langkah penting untuk mencapai dunia bebas senjata nuklir".
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, belakangan terlibat dalam advokasi melawan senjata nuklir. Albanese menggambarkan nuklir sebagai "senjata paling merusak, tidak manusiawi, dan tidak pandang bulu yang pernah dibuat".
Pada 2018, Albanese juga sempat menggerakkan mosi pada konferensi nasional Buruh yang mendukung perjanjian. Ia mengamini tugas pelucutan itu tidak akan mudah ataupun sederhana namun akan "adil" bagi dunia.
Posisi Albanese ini kontras dengan pendahulunya, Scott Morrisson, yang justru menyepakati perjanjian AUKUS dengan AS dan Inggris yang salah satu isinya rencana membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2190 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 2057 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1526 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1411 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli