Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Balita di Banyuning Meninggal Akibat Komplikasi DBD

Jumat, 10 April 2026, 13:16 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Balita di Banyuning Meninggal Akibat Komplikasi DBD.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Seorang balita asal Lingkungan Banyuning Timur, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kadek Giara Dwitya Pradyanti (4), meninggal dunia pada Selasa (7/4), akibat mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) atau komplikasi demam berdarah dengue (DBD).

Ditemui di rumah duka, Jumat (10/4), Ayah korban, Gede Andy Pradnyana (31) menuturkan anak keduanya itu mulai mengalami gejala demam sejak sejak Kamis (2/4). Namun saat itu penanganan khusus belum diberikan, karena dianggap demam biasa.

"Hari Jumat (3/4) sempat kami bawa ke IGD RS Puri Bunda Singaraja, gejalanya demam, mual dan muntah. Dikasih obat dan rawat jalan," jelas Pradnyana.

Setelah mendapat penanganan, kondisi sang anak kata Pradnyana sempat membaik. Bahkan, keluarga sempat mengajaknya sembahyang saat hari raya Saraswati, Sabtu (4/4), serta menjalani cek darah ke salah satu laboratorium swasta di Buleleng.

"Hasil cek darahnya, katanya masih dalam batas normal. Demamnya juga mereda. Namun Minggu (5/4) pagi, anak saya kembali demam, disertai sakit perut. Malam harinya langsung saya larikan lagi ke IGD RS Puri Bunda. Dilakukan cek darah ulang, Di situ langsung disebut gejala DBD, sehingga diambil tindakan opname,” jelas Andy.

Memasuki Senin (6/4), kondisi Giara semakin menurun. Tubuhnya lemas, tangan dan kakinya terasa dingin. Ia juga mengalami buang air besar berwarna hitam, dengan trombosit diangka 60 ribu. Hal ini lantas membuat balita malang itu dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif.

"Kemudian Selasa (7/4) trombositnya turun lagi diangka 30 ribu, disertai buang air besar berdarah. Sekitar jam 1 siang, anak saya sudah tidak tertolong lagi," ungkap Andy.

Andy mengaku tidak mengetahui pasti sumber penularan virus dengue, mengingat di lingkungan sekitar rumahnya tidak terdapat kasus serupa. Ia juga mengaku sangat terpukul atas kepergian putrinya yang terjadi begitu cepat, hanya dalam dua malam perawatan di rumah sakit. “Tidak menyangka cepat sekali. Baru dua malam diopname. Istri saya juga sedang hamil 8 bulan, sangat terpukul,” tambahnya.

Sementara, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhuka Jaya menyebut, kasus ini menjadi peringatan serius karena DBD merupakan penyakit endemik yang rawan meningkat saat musim hujan.

“DB ini jelas penyakit endemik yang menyebar lewat nyamuk. Biasanya berkaitan dengan lingkungan, seperti sanitasi, sampah, dan kepadatan penduduk,” ujarnya.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk lebih gencar melakukan upaya pencegahan, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk, fogging saat ditemukan kasus, hingga edukasi kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

“Seringkali masyarakat menganggap demam itu biasa selama beberapa hari, padahal bisa jadi DBD. Ini yang harus diwaspadai. Puskesmas harus turun mengecek jentik dan memetakan penyebaran,” tegasnya.

Menurutnya, wilayah Banyuning yang padat penduduk memang tergolong rawan kasus DBD yang berulang setiap tahun, sehingga perlu penanganan serius agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).

“Kami dorong semua pihak bergerak, tim harus turun, termasuk tenaga ahli, agar kasus seperti ini tidak terulang lagi dan tidak meluas,” tandasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami