Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 1 Agustus 2026
Dishub Buleleng Setop Penggunaan Sirine Totot untuk Kawal Bupati
BERITABALI.COM, BULELENG.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Buleleng Gede Gunawan AP menegaskan penggunaan sirine atau "totot" saat pengawalan pejabat, khususnya Bupati, telah diminimalisir.
Hal ini menindaklanjuti imbauan dari Mabes Polri yang kini tengah mengatur kembali penggunaan sirine di jalan raya.
Dikonfirmasi Jumat (3/10), Gunawan menyebut, sirine sebelumnya digunakan pihaknya maupun Satpol PP Buleleng untuk mengawal rombongan pejabat. Tujuannya untuk meminta prioritas di jalan, agar rombongan tiba di lokasi tepat waktu.
Namun mengingat belakangan totot sering mendapat keluhan dari masyarakat, penggunaannya pun kini dibatasi. Sirine dengan bunyi panjang, hanya diperbolehkan bagi kendaraan dalam kondisi gawat darurat, seperti mobil pemadam kebakaran dan ambulans.
"Pak Bupati sendiri yang juga minta agar pengawalan tidak menggunakan totot," terang Gunawan.
Dengan tidak menggunakan totot, pola pengawalan sebut Gunawan telah diubah. Pihaknya telah meminta protokol untuk memperhitungkan waktu keberangkatan pejabat sejak awal, sehingga tidak bergantung pada penggunaan sirine.
“Sekarang sesuai imbauan, tidak menggunakan sirine. Jadi, kalau Bupati mau ke suatu tempat, waktunya harus diprediksi lebih awal, tidak terburu-buru. Dengan begitu, penggunaan sirine bisa diminimalisir,” pungkas Gunawan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 88 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 52 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 37 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun