Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 3 Agustus 2026
Israel Gencar Serang Rafah Saat Hamas Setuju Gencatan Senjata
BERITABALI.COM, DUNIA.
Israel mulai melancarkan serangan udara secara masif di Rafah, Senin (6/5) malam. Sebelumnya Israel telah memberikan peringatan agar warga Palestine segera meninggalkan Rafah, jelang invasi ke kota tersebut.
"Serangan itu hampir terus menerus dalam 30 menit terakhir," mengutip Koresponden AFP, di Rafah.
Serangan tersebut diluncurkan Israel di tengah kelompok militan Palestina, Hamas menyetujui proposal gencatan senjata di Gaza.
Anggota senior Hamas, Khalil al-Hayya, mengatakan proposal yang disepakati oleh kelompok tersebut mencakup gencatan senjata tiga tahap dengan tujuan gencatan senjata permanen.
Hayya mengatakan setiap fase akan berlangsung selama 42 hari. Kesepakatan tersebut mencakup rencana untuk penarikan mundur penuh Israel dari Gaza, pemulangan warga Palestina yang terusir oleh perang yang sedang berlangsung, pertukaran sandera dan tahanan, serta tujuan gencatan senjata permanen.
Seorang pejabat senior Hamas mengatakan Israel harus segera memutuskan apakah menerima atau menolak gencatan senjata di Gaza.
"Setelah Hamas setuju dengan proposal mediator untuk gencatan senjata, sekarang giliran Israel, apakah akan setuju dengan perjanjian gencatan senjata atau menghalanginya," kata pejabat yang tidak disebutkan namanya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan proposal tersebut jauh dari tuntutan-tuntutan penting Israel. Kendati demikian Pemerintah Israel mengeklaim akan mengirim perwakilan untuk membicarakan 'keberatan' tersebut hingga mencapai kesepakatan.
Sementara, keluarga para sandera yang ditawan Hamas di Gaza menuntut agar Israel memanfaatkan kesempatan persetujuan Hamas terhadap proposal gencatan senjata, untuk mencapai kesepakatan bagi pemulangan semua sandera tersebut.
Forum Keluarga Sandera dan Keluarga yang Hilang menyatakan pengumuman kelompok militan Palestina tersebut harus membuka jalan bagi pemulangan sandera yang ditawan selama tujuh bulan terakhir.
"Sekarang adalah waktu bagi semua pihak yang terlibat untuk memenuhi komitmen mereka dan mengubah kesempatan ini menjadi kesepakatan bagi pemulangan semua sandera," dikutip AFP.
Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai sekutu Israel mengatakan akan meninjau respons Hamas tersebut. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 344 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 291 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 222 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun