Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 3 Agustus 2026
100 Tahun Rarud Batur, Mitigasi Bencana Masuk Prioritas
BERITABALI.COM, BANGLI.
Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis sebagai arah baru pengelolaan kawasan Batur yang lebih terpadu, berkelanjutan, serta berpijak pada sejarah dan nilai-nilai budaya.
Rekomendasi tersebut akan menjadi landasan penyusunan Naskah Akademik dan Roadmap Batur 2026–2045, yang diharapkan menjadi pedoman pembangunan lintas sektor, mulai dari pelindungan budaya, pemulihan ekologi, mitigasi bencana, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mengangkat tema "Citra Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Peluang Masa Depan", seminar menjadi ruang konsolidasi gagasan dari akademisi, tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat.
Forum tersebut menegaskan bahwa peristiwa Rarud Batur pada 1926 bukan sekadar perpindahan masyarakat akibat erupsi Gunung Batur. Peristiwa tersebut dinilai menjadi tonggak yang membentuk kembali ruang hidup, tata nilai, pranata adat, hingga identitas masyarakat Batur.
Baca juga:
Buku Seabad Relokasi Batur Rekam Resiliensi Warga Pascaletusan Gunung Batur
Karena itu, peringatan satu abad Rarud Batur diharapkan tidak berhenti pada kegiatan mengenang sejarah. Momentum tersebut diarahkan menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan yang belajar dari pengalaman sejarah.
Kawasan Batur Dipandang sebagai Satu Kesatuan
Dalam rumusan seminar, kawasan Batur harus dipandang sebagai satu kesatuan lanskap yang menghubungkan gunung api, danau, kawasan suci, situs sejarah, pertanian, permukiman, pariwisata, hingga kehidupan sosial masyarakat.
Pendekatan pembangunan yang memisahkan aspek budaya, spiritual, geologi, ekologi, sosial, dan ekonomi dinilai berpotensi menghilangkan identitas kawasan sekaligus meningkatkan risiko kerusakan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, forum merekomendasikan penyusunan Roadmap Batur 2026–2045 melalui tiga pilar utama. Pertama, Batur Lastari, yang berorientasi pada pelindungan sejarah, budaya, dan ekologi. Kedua, Batur Matangi, yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat, pendidikan, mitigasi, dan kelembagaan.
Ketiga, Batur Ngawerdi, yang diarahkan untuk mendorong kesejahteraan melalui pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, serta investasi yang bertanggung jawab.
Penguatan Budaya dan Sejarah Batur
Dari perspektif kebudayaan, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si. memandang Rarud Batur sebagai peristiwa kebudayaan dan spiritual yang membentuk kembali hubungan manusia dengan ruang suci.
Ia menggarisbawahi pentingnya penyusunan Piagam Etika Pembangunan Batur, pembentukan pusat dokumentasi pernaskahan dan budaya, penguatan pendidikan Bebaturan bagi generasi muda, serta forum koordinasi yang mempertemukan unsur adat, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Pada sesi sejarah, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. menjelaskan bahwa Rarud perlu dipahami sebagai peristiwa sejarah sosial-budaya yang mencakup kronologi sebelum erupsi, proses bencana dan mitigasi, hingga kesinambungan perubahan setelahnya.
Gunung Batur tidak hanya dipandang sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai kosmologi, sumber kehidupan, memori kolektif, dan identitas masyarakat.
Karena itu, seminar mengusulkan penyusunan Blueprint Mitigasi Berbasis Sejarah dan Kebudayaan, pusat memori dan edukasi Rarud, serta penguatan kajian berkelanjutan mengenai Batur.
Danau Batur Jadi Perhatian
Dari perspektif lingkungan, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S. menempatkan Danau Batur sebagai jantung kehidupan kawasan. Ia memaparkan kerangka pembangunan Tanah Rahayu, Petani Ayu, dan Desa Urip sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Sejumlah tantangan turut menjadi perhatian, mulai dari tekanan terhadap kualitas danau, kesehatan tanah, krisis lahan dan air, regenerasi petani, penggunaan bahan pertanian, pengelolaan limbah, hingga keberlanjutan pangan.
Sementara itu, Jero Penyarikan Duuran Batur menekankan bahwa arah kebijakan pembangunan Batur harus berangkat dari sumber pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Rajapurana, lontar, prasasti, ritus, tradisi lisan, situs, nama tempat, memori keluarga, hubungan pasihan, hingga desa-desa aliansi dinilai sebagai fondasi penting yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan.
Untuk itu, diusulkan penyusunan Naskah Induk Sejarah dan Tata Nilai Batur, peta budaya-spiritual, arsip digital, Rumah Memori Rarud, pendidikan lokal, serta revitalisasi hubungan pasihan.
Mitigasi Bencana Berbasis Sejarah
Dari aspek geologi dan kebencanaan, STJ. Budi Santoso menjelaskan bahwa ingatan terhadap Rarud perlu diterjemahkan menjadi ketangguhan geologi masyarakat.
Status Geopark juga dinilai harus dimaknai sebagai komitmen terhadap konservasi, pendidikan, keselamatan, dan pembangunan masyarakat.
Sejumlah rekomendasi yang muncul meliputi penyusunan Rencana Aksi Geologi, Geopark, dan Ketangguhan Bencana, atlas risiko, sekolah lapang geologi, standar geowisata, SOP pendakian, sertifikasi pemandu, serta penguatan koordinasi permanen dengan lembaga teknis.
Tantangan Kawasan Batur
Seminar juga mengidentifikasi berbagai tantangan yang kini dihadapi kawasan Batur. Di antaranya degradasi ekosistem Gunung dan Danau Batur, tekanan pembangunan dan investasi, risiko kebencanaan, menurunnya kualitas lingkungan, serta keterputusan generasi muda terhadap sejarah dan budaya.
Selain itu, penguatan tata kelola lintas sektor dinilai menjadi kebutuhan penting agar pembangunan Batur dapat berlangsung secara terukur, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Hasil Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur selanjutnya akan disampaikan kepada Pemucuk Jero Gede Batur sebagai bahan pertimbangan moral dan kultural.
Rekomendasi tersebut kemudian akan diteruskan kepada Gubernur Bali sebagai landasan awal penyusunan kebijakan lintas sektor mengenai pelestarian budaya, pemulihan ekologi, mitigasi bencana, tata ruang, pengembangan sumber daya manusia, serta pembangunan ekonomi yang sesuai dengan karakter kawasan Batur.
Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan momentum satu abad Rarud sebagai titik awal lahirnya kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.
Dengan menjadikan sejarah sebagai sumber pengetahuan dan pengetahuan sebagai dasar kebijakan, Batur diharapkan mampu tumbuh tanpa kehilangan identitas, berkembang tanpa merusak alam, serta mewariskan kehidupan yang lestari bagi generasi mendatang.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 345 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 294 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 223 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun