Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kendang Mebarung Berumur Ratusan Tahun Dipentaskan

Negara

Selasa, 6 Agustus 2013, 21:49 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Beritabali.com. Negara. Dalam menyambut HUT Kota Negara ke-118, kesenian khas Jembrana yaitu Kesenian langka Kendang Mebarung ditampilkan di panggung Gedung Kesenian Bung Karno (GKBK) Jembrana, Selasa (5/8) malam.

Dua kendang, masing-masing milik Sekaa Kendang Lohkita Suara asal Desa Dangin tukadaya Kecamatan Jembrana beradu kekuatan suara dengan Sekaa Kendang Merdu Suara asal Desa Pohsanten Kecamatan Mendoyo.

Bahkan kendang Lohkiita Suara yang berusia ratusan tahun masih memiliki suara yang cukup kental dan menggema. Menurut Ketua Sekaa Lohkita Suara Gusti Agung Kade Widiasa, kendang yang ia pelihara bersama anggota sekaa sudah ada sejak Tahun 1912, itu berarti kendang tersebut kini berusia 101 tahun.

Kendang yang berdiameter sekitar 2 meter tersebut terbuat dari kulit sapi tua, bingkai kayu yang digunakan pun berupa kayu utuh yang diperoleh di daerah Madura-Jawa Timur. Meski sudah berusia ratusan tahun kendang Lohkita suara masih awet dan sedikitpun tidak termakan rayap.

“Berbeda dengan kendang- kendang yang ada sekarang kayunya banyak yang rakitan, karena sekarang ini sangat sulit mencari kayu utuh yang berdiameter dua meter,“terang Widiasa.

Seperti kesenian gambelan lainnya, tabuh yang dibawakan oleh kedua sekaa, meliputi Tabuh Pengungkab Sabda dan Tabuh Bebarungan.

Saat tampil mebarung melawan kendang Merdu Suara, gema kendang ratusan tahun milik Lohkita Suara mampu menenggelamkan suara kendang Merdu Suara, selama kendang tersebut dipukul.

Menurut penggemar Seni Kendang, Budiasa, usia kendang dan kekencangannya dengan bingkai kayu sangat mempengaruhi suara kendang. Yang menentukan menang kalahnya adalah gema yang ditimbulkan dari kendang yang dipukul, suara keras belum tentu menghasilkan gema yang kuat.

“Diperlukan kecermatan untuk mendengarkan dari jarak dekat, biasanya untuk mengetahui gemanya didengarkan dari jarak jauh “ kata Budiasa.(Jsp)
 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami