Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 15 Mei 2026
Kisah Korban Begal Jadi Tersangka: Saya Tidak Punya Ilmu Kebal
BERITABALI.COM, NTB.
Bagi sebagian besar warga di Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, NTB, membawa senjata tajam saat keluar dari rumah, apalagi malam hari menjadi hal biasa.
Tujuannya, untuk berjaga-jaga saja. Bukan untuk melakukan tindakan kriminal dan lain sebagainya. Dalam tradisi masyarakat Sasak, ada istilah Sekap (barang/benda untuk jaga-jaga. Nyekap (membawa barang/benda untuk jaga-jaga.
Sekap/nyekap itu identik dengan yang kecil atau secukupnya. Saat kita berkendara akan terasa aman kalau kita membawa/nyekap uang meskipun cuma 10 ribu rupiah misalnya. Untuk jaga-jaga siapa tahu pecah ban atau kehabisan bensin.
Akan sama halnya kita bepergian membawa/nyekap senjata tajam itu, semata-mata untuk memberi rasa aman saat bepergian.
Yang dibawa itu pun sebilah pisau kecil atau keris yang bisa diselipkan di pinggang karena bukan untuk berperang atau mesiat. Karena kalau untuk berperang atau mesiat, senjatanya pastilah klewang atau yang berukuran besar.
Mengapa tradisi Nyekap itu masih eksis sampai sekarang? Itu karena dari jaman Papuq Baloq atau nenek moyang kita sampai sekarang, rasa aman itu belum didapatkan sepenuhnya.
Rasa kurang aman dan masih rawan itulah yang menjadi penyebab, Amaq Sinta (34 tahun), korban begal yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka karena membunuh 2 dari 4 orang pelaku begal yang akan merampas motor miliknya.
Dengan pisau dapur yang dibawa dari rumah sebagai sekap, selama perjalanan membawakan makanan untuk ibunya yang sedang terbaring opname di rumah sakit.
“Saat kejadian saya bawa pisau dapur,” tandasnya.
Dengan pisau dapur itulah, Amaq Sinta melumpuhkan dua terduga begal. Ada yang terkena tusuk di dada sebelah kanan dan ada pula terkena tusuk di punggung. Hingga dua terduga pelaku begal tumbang bersimbah darah. Keduanya berinisial P, 20 tahun dan OW, 21 tahun.
Malam itu, Minggu (10/4) pukul 00.30 Wita, Murtede alias Amaq Sinta mengeluarkan sepeda motor dari rumahnya. Dia hendak membawa makanan untuk keluarga yang sedang menunggu ibunya yang terbaring sakit di Lombok Timur.
Makanan itu rencana untuk makan sahur. Seolah tidak terjadi apa-apa, ia mengendarai motor jenis Honda Scoopy melewati jalan raya. Sepanjang jalan, ia hanya mendengarkan lantunan ayat-ayat Alquran dari masjid dan musala.
Sesekali ada kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas. Setelah itu, sepi. Tidak ada satu pun kendaraan lagi yang melintas. Namun, tiba-tiba dari belakang ada dua kendaraan yang membuntuti. Masing-masing berboncengan.
Awalnya, ia mengira dua pengendara itu akan pulang ke rumah. Namun, tepat di Dusun Bebile para pengendara tersebut menyapa.
“Mau kemana itu,” ujar Murtede meniru sapaan terduga pelaku begal.
Ia pun tidak menjawab dan tetap konsentrasi mengendarai motornya. Satu pengendara motor menghadang dari depan. Kemudian secara tiba-tiba menyerang. Begitu pula terduga pelaku begal yang lainnya. Hingga aksi membela diri dilakukan Murtede.
Di tubuhnya terasa benda tajam jenis cerurit melayang. Tepatnya di tangan kanan sebanyak dua kali. Kemudian jenis samurai sebanyak dua kali di punggung. Anehnya, ia tidak terluka. Hanya luka memar dan bajunya saja yang mengalami robek.
“Itu sambil saya berteriak minta tolong. Tapi tidak ada satu pun warga yang datang,” cerita Murtede, di rumahnya, Kamis (14/4).
Kondisi seperti itu, membuat dua terduga begal berusaha mengambil motornya. Seketika dia lari guna menyelamatkan motor sembari melakukan perlawanan. Bagi Murtede, itu dilakukan daripada mati konyol. Lebih baik melawan.
Melihat dua temannya tumbang. Dua terduga pelaku begal lainnya merasa takut dan akhirnya memilih melarikan diri. Keduanya berinisial W, 32 tahun dan H, 17 tahun.
“Saat itulah, beberapa warga keluar. Lalu, saya memberitahukan ke warga bahwa saya korban jambret,” ujarnya lagi.
Warga kemudian memberikan pertolongan kepadanya dengan memberikan air minum. Lalu, mengamankan kendaraannya. Sementara dua terduga begal yang tewas dibiarkan begitu saja, sambil menunggu polisi datang.
“Saya kemudian memutuskan pulang ke rumah. Tidak jadi menjenguk ibu saya yang sakit,” kata bapak dua orang anak tersebut.
Kini Murtede alias Amaq Sinta akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya di Dusun Matek Maling, Desa Ganti, Kacamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, setelah mendapat penangguhan penahanan dari penyidik Polres Lombok Tengah.
"Alhamdulilah saya merasa senang sekali bisa bebas dan berkumpul lagi bersama keluarga," kata Amaq Sinta.
Amaq Sinta dan istrinya Mariana (32 tahun) serta keluarganya bekerja menjadi petani setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, ia juga hanya merupakan warga biasa, karena tidak pernah sekolah.
"Saya kerja sebagai petani," katanya.
Usai melumpuhkan dua orang begal hingga tewas, Amaq Sinta kemudian pergi ke rumah keluarga untuk menenangkan diri. Setelah itu diantar pihak keluarga, Amaq Sinta menyerahkan diri ke polisi.
Akibat kejadian itu, Amaq Sinta yang memiliki dua anak tersebut tidak mengalami luka, namun badannya terasa sakit akibat terkena senjata tajam dari para pelaku.
"Saya tidak ada kepandaian dan tidak memiliki ilmu kebal. Tapi ini memang saya dilindungi Tuhan," katanya.
Pasca diamankan dan ditetapkan menjadi tersangka oleh Polres Lombok Tengah, ia dan keluarganya merasa syok dan tidak bisa tidur, karena memikirkan kasus yang menimpanya.
Namun, ia merasa agak senang setelah mendapat penangguhan penahanan yang diberikan pasca adanya dukungan dari masyarakat Lombok Tengah khususnya.
"Saya berharap bisa dibebaskan murni dan tidak sampai di Pengadilan. Supaya bisa berkerja kembali seperti biasanya. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung saya," katanya.
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1304 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1006 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 836 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 754 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik