Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Mulai 1 Mei, Sampah di Buleleng Tak Dipilah Tak Diangkut
BERITABALI.COM, BULELENG.
Pemerintah Kabupaten Buleleng mulai memberlakukan kebijakan tegas dalam pengelolaan sampah. Mulai 1 Mei 2026, masyarakat diwajibkan memilah sampah dari rumah. Sampah yang tidak dipilah berpotensi tidak akan diangkut petugas, bahkan dapat dikenakan sanksi.
Kebijakan ini seiring perubahan sistem pengelolaan sampah di TPA Bengkala yang ke depan hanya menerima sampah residu. Sementara sampah organik tidak lagi diperbolehkan masuk ke lokasi tersebut.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra menegaskan langkah ini tidak bisa ditunda karena kondisi sampah yang terus meningkat serta dorongan dari pemerintah pusat.
“Penanganan sampah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Bahkan Presiden menargetkan penanganan sampah selesai dalam tiga tahun ke depan,” ujarnya, Senin (13/4).
Selain itu, sistem pembuangan terbuka atau open dumping di TPA Bengkala ditargetkan dihentikan paling lambat akhir Juli 2026. Pemerintah daerah mendorong penerapan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) yang dimulai dari rumah tangga hingga perkantoran.
Dalam sistem baru ini, sampah harus sudah dipilah sebelum diangkut. Jadwal pengangkutan pun dibedakan, yakni sampah organik pada tanggal ganjil dan non-organik pada tanggal genap.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, I Gede Putra Aryana mengungkapkan, timbulan sampah yang masuk ke TPA Bengkala saat ini mencapai sekitar 450 meter kubik per hari. Kondisi tersebut membuat TPA mengalami overkapasitas.
“Sampah yang tidak dipilah tidak akan diangkut dan berpotensi dikenakan sanksi administratif hingga penindakan,” tegas Putra Aryana.
Untuk mendukung kebijakan ini, masyarakat didorong mengolah sampah organik secara mandiri, memperkuat peran TPS3R dan bank sampah, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Pemerintah juga telah melakukan sosialisasi kepada Forkopimda, OPD, camat, lurah, hingga kepala desa. Para pemimpin wilayah diharapkan menjadi contoh agar sistem baru ini berjalan efektif.
Dengan kebijakan ini, Buleleng mulai beralih dari pola lama kumpul-angkut-buang menuju sistem pengelolaan sampah berbasis sumber yang menuntut partisipasi aktif masyarakat.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5918 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2608 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2265 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan