Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Negara Emitor Mesti Bayar Ganti Rugi Rusaknya Iklim
Nusa Dua
BERITABALI.COM, BADUNG.
Koordinator Iklim Friends of Earth International (FOEI)/Walhi, Stephanie Long menegaskan, negara-negara kaya penghasil emisi (Negara Emitor) seharusnya membayar hutang-hutang atas rusaknya iklim kepada negara berkembang secara radikal untuk mengurangi emisi.
Negara industri juga harus membantu komunitas yang rentan terhadap dampak perubahan iklim tersebut.
Baca juga:
NTB Jadi Pusat Data Iklim Terbesar di ASEAN
FOEI/Walhi mendesak para anggota yang terlibat dalam pembahasan UNFCCC COP MAP 13, untuk bisa mendorong Mandat Bali yang membahas tentang krisis iklim, termasuk mengawasi komitmen negara maju yang ambisius mengurangi gas emisi dari negara berkembang, ujar Stephanie, di Nusa Dua, Selasa (4/12).
FOEI sendiri, kata Stephanie, saat ini tengah berusaha melakukan negosiasi dalam event ini agar negara maju (industri) bisa menyetujui agenda dan bernegosiasi guna menghasilkan suatu kerangka kerja internasional untuk pengurangan emisi sampai 2012.
Sebab, negara-negara maju secara legal terikat dalam pembagian kerja guna mengurangi emisi karbon, dan mereka memang harus yang paling bertanggung jawab.
Selain itu, lanjut Stephanie, FOEI juga menyetujui pendanaan terhadap negara-negara miskin di dunia sehingga mereka bisa membangun dengan tingkat (emisi) karbon yang rendah secara ekonomis dan dapat melakukan adaptasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Stephanie sendiri juga memprihatinkan tentang dijadikannya agrofuel sebagai solusi dalam mengatasi perubahan iklim. Sebab sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa produksi agrofuel merusak lingkungan dan pada beberapa kasus justru meningkatkan emisi GRK (gas rumah kaca).
Stephanie menyebutkan, populasi penduduk di Indonesia sendiri mencapai hamper 200 jutaan orang, dan 40 jutaan di antaranya adalah 'Indigenous People' (suku-suku asli) di Indonesia. Mereka adalah komunitas asli dan masyarakat adat yang bergantung pada hutan dan sumber-sumber alam.
Namun, area luas hutan yang digunakan oleh masyarakat adat dan suku-suku asli secara tradisional untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya, telah diambil alih untuk dijadikan penanaman monokultur yang kebanyakan tanaman jenis kelapa sawit. (sss)
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5897 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4624 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2592 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2234 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2209 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan