Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Pasukan AS Resmi Masuk ke Ukraina, Siap Gempur Rusia?

Minggu, 6 November 2022, 11:08 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/cnbcindonesia.com/Pasukan AS Resmi Masuk ke Ukraina, Siap Gempur Rusia?

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DUNIA.

Pasukan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah masuk wilayah Ukraina. Disebutkan, tentara AS itu akan membantu Kyiv melacak senjata dan peralatan bernilai miliaran dolar yang sebelumnya dikirim Washington.

Laporan tersebut pertama kali dimuat media NBC, mengutip seorang pejabat senior kementerian pertahanan dan militer. Atase pertahanan AS untuk Ukraina, Brigadir Jenderal Garrick Harmon, memimpin inspeksi dengan bantuan kedutaan besar di sana.

Adapun, pemeriksaan serupa sebenarnya telah dilakukan AS terhadap bantuannya sebelum perang. Namun selama berbulan-bulan hal itu terhenti akibat serangan Rusia.

"Ada beberapa inspeksi," menurut pejabat senior pertahanan, dikutip Sabtu (5/11/2022).

Meski begitu, belum diketahui seberapa banyak anggota militer AS yang terjun ke Ukraina. Hanya saja, mereka diyakini merupakan pasukan yang dikirim 14 Februari ke Ukraina, 10 hari sebelum invasi Rusia.

Media yang sama juga mengungkap kehadiran tentara AS tak lepas dari klaim partai oposisi pemerintah, Republik. Para senatornya menyebut ada laporan senjata AS berakhir di pasar gelap.

Hal ini kemudian dibalas Presiden AS Joe Biden dengan memerintahkan Pentagon untuk mengawasi lebih dekat bantuan yang telah dikirimnya.

"AS belum melihat bukti senjata dialihkan ke pasar gelap atau digunakan untuk apa pun selain tujuan aslinya," tambah pejabat pertahanan itu lagi.

"Tetapi Pentagon dan Departemen Luar Negeri tetap menyadari risiko tersebut dan mengambil upaya untuk mencegahnya," ujarnya.

Muncul pula beberapa kekhawatiran bahwa senjata itu akan jatuh ke tangan Rusia. Karenanya militer AS diharapkan bisa bertindak cepat.

"Rusia mungkin juga akan menggunakan senjata ini untuk mengembangkan tindakan balasan, propaganda, atau untuk melakukan operasi bendera palsu," katanya mengutip dokumen Departemen Luar Negeri.(sumber: cnbcindonesia.com)


 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami