Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Pasutri Tuna Netra di Saba, Tetap Bekerja Dalam Keterbatasan
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Pasangan suami istri penyandang disabilitas tuna netra di Banjar Saba, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh tetap semangat bertahan hidup meski dalam kondisi keterbatasan.
Sang suami I Wayan Warka, 54, tetap bekerja mengangkut air. Sedangkan istri Ni Made Tangen, 35, tetap mejejahitan membuat tatakan canang. Selain bertahan hidup, pasutri ini juga bekerja demi membesarkan buah hati semata wayangnya I Wayan Widiasa, 10.
Ditemui di kediamannya, Rabu (4/8) Ni Made Tangen tampak telaten mejejahitan meski tidak melihat. Made Tangen mengaku sudah punya pelanggan tetap. Setiap hari mendapat pesanan tatakan canang berbahan janur.
Hanya saja, hasil mejejahitan tidak seberapa. Kisaran Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per hari. Demikian pula sangat suami, hanya mendapatkan nilai tukar air sekitar Rp 2.000 per ember. Meski sedikit, pasutri ini tetap bekerja.
"Kami tidak mungkin berdiam diri. Kami lakukan apa yang bisa kami usahakan," ungkap Made Tangen.
Warka yang masih bisa melihat samar-samar itu setiap hari bekerja mengangkut air dari kelebutan (sumber air) untuk disalurkan ke rumah-rumah warga. Cara yang dilakukan Warka tergolong konvensional, yakni mengangkut air menggunakan ember lalu dibawa ke rumah-rumah penduduk yang memerlukan jasa airnya.
Warka pun mendapat upah dari rutinitasnya itu. Begitu pula sang istri, meski tidak mampu melihat, namun setiap hari selalu membuat canang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk membeli bahan baku janur, pasutri ini tetap semangat berjalan kaki sekitar 2 kilometer ke pasar terdekat. Kadang kala, dalam perjalanan ke pasar inilah Nyoman Warka dan Made Tangen mendapat uluran tangan.
"Kadang di jalan ada yang ngasi sejumlah uang, ya kami terima saja. Syukur berterima kasih ada yang peduli," ujar Warka menambahkan.
Pasutri tuna netra ini merupakan salah satu keluarga miskin yang sudah mendapatkan program bedah rumah. Pasangan ini dikaruniai putra normal, I Wayan Widiasa, 10 tahun. Saat ini, Wayan Widiasa masih mengenyam pendidikan di SDN 3 Saba. "Sekarang kelas V," ujarnya.
Oleh karena masih situasi PPKM, sekolah berlangsung secara daring. Wayan Widiasa biasanya dibantu oleh sepupunya saat membuat tugas. Termasuk akses internet, Widiasa sering mencari Wifi di Balai Banjar maupun rumah temannya. Sedangkan HP untuk belajar daring, merupakan sumbangsih dari Sekolah Mahatmia Tabanan.
Uniknya, Widiasa tidak makan nasi. Sehari-hari hanya kentang dan jagung saja yang bisa masuk ke dalam perut. Menurut ibunya Made Tangen, anaknya semenjak balita sudah trauma makan nasi.
"Waktu bayi, saya biasa kasi minum air titisan. Begitu agak besaran, dikasi bubur gak mau dimakan. Katanya butiran nasi itu kayak ulat. Jadi sampai sekarang tidak makan nasi," jelas Made Tangen alumni Sekolah Mahatmia Tabanan ini.
Mengenai kondisi tuna netranya, Made Tangen alami sejak lahir. "Saya lahir tanpa kedua bola mata. Jadi memang tidak bisa melihat sejak lahir sampai sekarang," kenangnya.
Sampai usia 15 tahun, Made Tangen dibesarkan di kampungnya Desa Taro, Kecamatan Tegallalang. Sebelum akhirnya dia mengenyam pendidikan khusus di Sekolah Driaraba Denpasar dan melanjutkan ke Mahatmia Tabanan. Saat mengenyam pendidikan inilah, Made Tangen bertemu dengan Nyoman Warka.
"Pertemuan yang sangat singkat. Saat mengikuti seminar pertumbuhan tuna netra di Hotel Graha Pertiwi, kenal sehari langsung diajak nganten," kenangnya.
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3504 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1322 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 923 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 846 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 691 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun