Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Pemkab Buleleng Bentuk Satgas Sampah Libatkan Desa Adat dan Pecalang
BERITABALI.COM, BULELENG.
Pemerintah Kabupaten Buleleng membentuk Satuan Tugas (Satgas) Sampah yang akan bergerak hingga ke tingkat desa adat. Dalam satgas ini, pecalang dilibatkan untuk memperkuat pengawasan sekaligus mengajak masyarakat lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan.
Satgas Sampah tersebut berada di bawah koordinasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng. Perannya mencakup pengaturan penanganan sampah dari sumber, edukasi kepada masyarakat, hingga memastikan lingkungan tetap tertib dan bersih.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan persoalan sampah kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bahkan, isu tersebut juga mendapat sorotan Presiden RI Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi beberapa waktu lalu.
“DLH menjadi leading sector yang mengkoordinasikan seluruh kegiatan kebersihan dan pengelolaan sampah di Buleleng,” kata Sutjidra, Selasa (10/2).
Baca juga:
Koster Janji Beri Insentif Untuk Pecalang
Menurut Sutjidra, keterlibatan pecalang bukan sekadar pelengkap. Desa adat dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Ia mencontohkan, berbagai kegiatan adat seperti Tumpek Uye telah melibatkan pecalang dalam gerakan menjaga kebersihan. Pola tersebut kini diterapkan secara menyeluruh di desa adat se-Kabupaten Buleleng.
“Jadi bukan hanya seremonial. Desa adat dan pecalang memang kita dorong ikut aktif dalam pengendalian sampah,” tegasnya.
Sejalan dengan pembentukan satgas, Pemkab Buleleng pada tahun ini juga menyiapkan dukungan anggaran untuk penguatan desa adat. Setiap desa adat direncanakan menerima bantuan sebesar Rp50 juta, sedangkan subak mendapatkan Rp10 juta.
Selain itu, pemerintah daerah juga memberi perhatian khusus pada pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Salah satu yang dijadikan percontohan berada di Desa Adat Buleleng.
Di lokasi tersebut, sampah organik termasuk sisa upacara keagamaan diolah menjadi eco-enzyme. Cairan hasil olahan tersebut dimanfaatkan untuk membantu proses pembuatan kompos yang kemudian digunakan masyarakat.
“Kami sudah melihat langsung, hasilnya memang bagus dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” tandas Sutjidra.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5935 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4650 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2619 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2276 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2219 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan