Beritabali.com - Klungkung. Konon, Nusa Penida sebelumnya merupakan daerah yang subur. Berlimpah mata air, di hulu maupun hilir.
Hal ini jelas berbanding terbalik dengan kondisi Nusa Penida kini. Beberapa wilayah, utamanya daratan atas sangat sulit mendapat air. Bahkan daerah-daerah tersebut terhitung sebagai daerah kering dan tandus. Sebut saja misalnya, Desa Bunga Mekar, Pejukutan, Tanglad, Batu Madeg, dan lainnya.
Kondisi desa-desa tersebut justru kontras dengan desa lainnya seperti Desa Sakti, Ped, dan Kutampi Kaler yang kesemuanya terletak hampir di pinggir pulau. Desa-desa ini justru berkecukupan dengan air. Bahkan kualitas airnya pun cukup baik.
Tentu, kondisi keringnya Nusa Penida bukan menjadi hal baru yang ditemui warga maupun pelancong. Sudah menjadi tantangan, jika ingin berlibur di pulau cantik ini, pelancong harus siap-siap dengan teriknya matahari dan keringnya suasana pulau. Walau demikian, keindahan pulau dan budayanya tentu tak sebanding dengan kondisi tersebut. Indahnya pulau dan beragam budaya yang ada di Nusa Penida mampu menjadi obat tersendiri. Masalah kekeringan dan panas sudah barang tentu bukanlah masalah bagi pelancong.
Namun, usut punya usut, ada beberapa dogeng yang berkembang mengenai sejarah Nusa Penida yang kering saat ini dan subur di masa lalu.
Diceritakan, jauh sebelum kondisi ini terjadi, masyarakat percaya, dahulu pulau ini memiliki banyak sungai. Tidak timpang kesuburannya. Air bukan hal sulit di Nusa Penida. Jelas, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Penida saat ini, tiada sungai maupun mata air yang dapat ditemui di daratan atas.
Ketimpangan kondisi ini coba dijelaskan lewat legenda yang juga telah cukup membesarkan betapa hebatnya Nusa Penida dahulu. Masih berkaitan dengan perang melawan Kerajaan Bali, legenda ini juga memberi alasan keringnya Penida kini.
Disebutkan bahwa sebelum Dalem Dukut menerima kekalahannya, raja nusa penida ini begitu murka. Alasan murkanya Dalem Dukut lebih disebabkan akibat serangan curang dari Kerajaan Bali yang menggunakan kekuatan Besakih. Perang kedua kerajaan jelas tidak seimbang. Murkalah Dalem Dukut kemudian.
Semua mata air di daratan atas kemudian dituangkan ke bawah. Mata air tersebut kemudian mengalir ke bawah dan menetap di pesisir. Kekuatan yang dimiliki Dalem Dukut telah menghempaskan seluruh mata air di daratan tinggi Nusa Penida. Pada akhirnya, hingga kini, mata air yang dituangkan tersebut tetap berada di bawah pulau. Jadilah daratan Penida kemudian kering di daratan tingginya dan subur di pinggir pesisir pulau.
Alhasil, tiada mata air di tempat tinggi yang dapat ditemui. Mata air justru dapat ditemui di bagian pinggir pulau. Bahkan kesemua mata air tersebut berada di dekat pantai. Misalnya saja, mata air yang dapat ditemui di Penida, Guyangan, Sewehan, maupun Toya Ning.
Maka cobalah bermain ke beberapa lokasi wisata Nusa Penida, seperti misalnya Crystal Bay. Disana terdapat mata air di pinggir pantai. Jadi, selepas bermain air pantai yang lengket, pelancong langsung bisa memandikan diri di mata air tersebut. [wrt]