Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 4 Agustus 2026
Pikap Terjun Bebas ke Sungai Sedalam 25 Meter di Jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Satu unit kendaraan jenis Pikap memuat buah-buahan terjun bebas ke sungai sedalam sekitar 25 meter Senin (27/06/2022) di jalur maut Denpasar - Gilimanuk, Kilometer 76-77 Desa Yeh Sumbul Kecamatan Mendoyo, Jembrana, sekitar jam 08.45 WITA.
Kecelakaan diduga karena sopir mengantuk saat mengemudi. Beruntung dalam kecelakaan tersebut tidak menelan korban jiwa hanya mengalami luka ringan dan patah tulang.
"Kecelakaan tersebut berawal dari mobil pikap P 8083 VH yang memuat buah-buahan, melaju dari arah barat menuju ke timur dengan kecepatan tinggi," ungkap Kasat Lantas Polres Jembrana AKP. Aan Saputra.
Aan Saputra menambahkan, saat memasuki lokasi kejadian tiba-tiba pikup yang dikemudikan Supriyanto (62) asal Bangorejo Kabupaten Banyuwangi tersebut oleng, kemudian menabrak payal atau pagar pembatas jembatan. Pikup akhirnya terjun ke dasar sungai Jembatan Yeh Sumbul.
Akibat laka tersebut, pengemudi mengalami luka ringan, dan dua penumpang lainnya salah satu mengalami patah tulang pada tangan kanan dan luka dibagian kepala. Mereka kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Kendaraan kemudian dievakuasi ke atas menggunakan mobil derek.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 832 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 755 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 672 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 390 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 352 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun