Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 5 Agustus 2026
Puluhan Hektar Sawah Kekeringan, Petani Merana
jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Beritabali.com. Mendoyo. Musim kemarau berkepanjangan yang terjadi di tahun 2013 ini mengakibatkan puluhan hektar tanaman padi di Subak Telepud, Kelurahan Tegalcangkring mengalami kekeringan. Untuk mendapatkan air, petani terpaksa menyedot air sumur dengan menggunakan mesin penyedot air. Hal ini tentu saja menyebabkan biaya produksi petani meningkat dua kali lipat.
Musim kemarau yang menyebabkan debit air menurun, kekeringan di Subak Telepud, Kelurahan Tegalcangkring tersebut juga disebabkan karena sebagian besar petani menanam padi sebelum musim tanam. Akibatnya pasokan air subak tidak dapat dialirkan ke subak tersebut.
Menurut sejumlah petani di subak setempat, seharusnya pada saat ini di Subak Telepud adalah masa menanam palawija. Namun
berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya menanam palawija hasilnya kurang paksimal, mereka lebih memilih menanam padi. Dengan harapan saat menanam padi hujan akan turun sehingga bisa mengaliri padi mereka.
“ Tapi kenyataannya meleset, dari awal tanam sampai umur padi sebulan belum pernah turun hujan. Jadinya ya seperti
ini, padi saya kekurangan air,” ujar Made Adi Sutama (43) petani setempat (16/9/2013).
Lantaran kekurangan air, tanaman padi miliknya seluas 80 are padinya menjadi kerdil. Bukan hanya itu, tanahnya juga retak-retak.
“ Kondisinya semua seperti ini. Di sini ada sekitar 20 hektar lebih padi kekurangan air," terangnya.
Agar tidak gagal panen, Sutama dan sejumlah petani lainnya terpaksa menyedot air sumur yang sengaja dibuat di sawah dengen menggunakan mesin pompa penyedot air.“ Saya dan petani lainnya nyedot air setiap hari 24 jam agar padi tidak mati dan itu biayanya tidak sedikit," imbuhnya.
Pengakuan Sutama dari mulai menanam hingga padi berumur satu bulan, dia telah menghabiskan biaya Rp 500 ribu lebih khusus untuk membeli bensin untuk mesin penyedot air.
“ Baru sebulan saja biayanya sudah segitu, apalagi sampai panen nanti. Mudah-mudahan saja saya tidak rugi,” harapnya.
Namun menurut Sutama, petani yang memiliki mesin pompa air masih bisa bertahan walaupun biayanya cukup besar. Sedangkan bagi petani yang tidak memiliki mesin pompa air, mereka memilih membiarkan saja padi mereka mati. Karena untuk menyewa mesin sudah pasti akan merugi. Disamping itu mereka juga kesulitan menyewa mesin pompa air.(Jsp)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 842 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 770 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 738 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 391 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 371 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun