Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Seniman Gianyar Buat Patung Soekarno dari Anyaman Bambu
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Seniman asal Banjar Kelingkung, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, I Wayan Agus Eri Putra (36) membuat patung Soekarno yang dari anyaman bambu. Setinggi 19 meter dengan berat 3 ton.
Patung dibuat di Balai Banjar Kelingkung, masih dalam proses pengerjaan. Patung dipesan dan akan dipajang di objek wisata di Tegallalang.
“Banyak pihak yang membantu pengerjaannya. Anyaman bambunya dikerjakan oleh warga, kemudian itu kita kumpulkan dan kita rangkai disini, dibentuk menjadi anatomi tubuh,” ujarnya.
Konsepnya, patung Soekarno sedang duduk dengan memegang tongkat komando dan menunjuk. Posenya mirip dengan patung di perempatan jalan raya Tabanan. Pengerjaan sudah berjalan selama 2 bulan, mencapai 80 persen lebih.
“Tinggal menunggu jadwal pengangkutan dari sini (Balai Banjar Kelingkung) ke Alas Harum,” imbuhnya.
Patung dibuat dalam beberapa potongan. Total ada 15 potongan yang nantinya tinggal dirangkai di Alas Harum Bali. “Untuk mempermudah pengangkutan jadi ada 15 potongan dalam patung ini,” tandasnya.
Nanti satu per satu bagian akan diangkut ke objek wisata itu. Mulai dari kepala, pinggul, perut, dada, tangan, kepala, dan terakhir potongan kaki yang akan dipasang.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3503 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1322 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 923 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 846 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 691 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun