Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Takut Digantung Geng Narkoba, Warga Meksiko Ngungsi ke AS
amerika
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, California. Ribuan warga Meksiko memilih mengungsi ke Amerika Serikat (AS) karena takut nasib mereka berakhir seperti warga lainnya, digantung di jalanan oleh geng narkoba, The knights Templar.
Daily News, Rabu (23/10/2013), memberitakan, dalam sembilan bulan terakhir, sebanyak 23 ribu orang meninggalkan Meksiko untuk mencari keselamatan di AS. Bisa jadi, ada alasan lain mereka bermigrasi ke AS, namun yang pasti teror di sebuah kota di Meksiko telah membuat siapapun yang tinggal di sana ketar-ketir.
Dalam sebuah foto esklusif yang diperoleh Daily News, misalnya, terlihat empat orang warga tewas digantung di gerbang kota Limon de la Luna di Michoacan, Meksiko, sebagai peringatan kepada warga kota untuk tidak membangkang kepada geng narkoba, The Knights Templar.
Empat warga itu berasal dari satu keluarga yakni, seorang perempuan hamil, gadis berusia 19 tahun, seorang mahasiswa, dan satu orang lagi guru SMA yang juga suami perempuan hamil itu. Dalam gambar tampak mereka mati tergantung di gerbang kota disaksikan warga kota lainnya.
Cara membunuh warga seperti itu biasa dilakukan oleh geng narkoba dan perbuatan itu dipercaya dilakukan oleh Knights Templar. Pernah pula, ada warga yang dibunuh dan digeletakkan di jalanan kota tanpa kepala. Ada pula mayat yang didudukkan di sebuah kursi dan dipajang di pinggir jalan tanpa ada orang yang berani mengusiknya. Di dadanya, tertulis pesan bahwa ia mati karena menentang geng narkoba sadis itu.
Salah seorang warga yang lari ke AS adalah Antonio Chavez. Ia tidak tahan lagi hidup dalam ketakutan dari teror Knights Templar yang terus menerus mendatangi tokonya. Mereka biasa datang ke toko itu lalu minum-minum dan pergi begitu saja tanpa membayar.
Geng narkoba itu menguasai kota kecil La Ruana. DI kota tempat tinggal Chavez itu, geng tersebut biasa meminta upeti US$150 setiap bulan sebagai fee atas musik yang dimainkan di ponsel miliknya untuk menghibur pelanggan.
“Setahun lagi saya tinggal di sana pasti tidak akan selamat,” kata Chavez yang kini tinggal di Los Angeles County, kepada Daily News.
Menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, lebih dari 23 ribu warga Meksiko meminta perlindungan politik dalam sembilan bulan terakhir. Jumlah itu empat kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun 2009. [bbn/inilah.com]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3881 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2497 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2014 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1943 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1795 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun