Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Minggu, 27 September 2026
Untuk Biaya Sekolah, Koster Pernah Jadi Kuli Angkut Saat SD
Senin, 5 Maret 2018,
18:30 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com.Denpasar. Tidak banyak yang tahu jika calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster harus melalui kegetiran hidup untuk meraih kesuksesan. Di hadapan ratusan warga di Banjar Tag-Tag Tengah, Koster bercerita soal kisah hidup yang membentuk jati dirinya hingga saat ini.
[pilihan-redaksi]
Ia menjelaskan, jika ia lahir di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng dalam kondisi memprihatinkan. "Rumah saya terbuat dari bedeg dan lantainya tanah. Belum ada kompor zaman dulu. Orangtua saya pakai tungku," ujar Koster, Minggu (4/3).
Ia menjelaskan, jika ia lahir di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng dalam kondisi memprihatinkan. "Rumah saya terbuat dari bedeg dan lantainya tanah. Belum ada kompor zaman dulu. Orangtua saya pakai tungku," ujar Koster, Minggu (4/3).
Lantaran hidup di tengah kemiskinan, hampir saban hari Koster kecil hanya mengonsumsi umbi-umbian sebagai makanan. Menu makanan babi guking amat istimewa baginya kala itu yang tak tiap hari bisa ia santap. Bahkan, Koster mengaku bisa terhitung jari ia menyantap menu makanan khas lezat tersebut.
"Saya makannya umbi-umbian. Makan babi guling itu kalau ada orang bikin acara. Makan nasi seperti mimpi buat saya. Itu sebabnya perawakan saya kecil begini. Mungkin kalau sekarang saya dibilang kurang gizi atau gizi buruk," ucap Koster berkelakar disambut gelak tawa warga.
Kelas 4 SD Koster terpaksa harus menjadi buruh angkut di desanya. Itu dilakukan untuk menambah uang sakunya. Uang hasil bekerja dititipkan kepada orangtuanya. Uang itu digunakan untuk membiayai segala keperluan pendidikannya kala itu. Jika ada sisa, sang ibu akan membelikannya selembar baju. Itu pun dibeli saban hari raya Galungan saja.
Itu sebabnya Koster selalu menyayangi segala hal yang diberikan oleh orangtuanya. Bahkan, baju yang dibelikan ibunya tak langsung dikenakan. Ia simpan dahulu dan dipakai jika ada acara tertentu.
"Kelas 4 SD saya mekuli (bekerja) jadi buruh angkut pasir juga angkut bata. Saya jalan angkut-angkut sejauh tiga kilometer," ujar Koster.
Koster kecil sadar jika pendidikan satu-satunya jalan mengubah nasib. Ia belajsr begitu giat. Itu sebabnya sejak SD ia selalu menjadi bintang kelas. "Meski miskin saya juara," ujarnya. Koster kecil nyaris putus sekolah. Beruntung ada pihak yang membantunya melanjutkan sekolah begitu ia lulus SD. "Lulus SD ada yang bantu saya bisa masuk SMP. Begitu juga lulus SMP saya juga ada yang bantu bisa masuk SMA," katanya.
Di tingkat SMP, Koster satu angkatan dengan Gede Prama di Bhaktiyasa. Bersama tokoh motivator Bali itu ia berpacu dalam prestasi. Kadang kala Koster juara 1 dan Gede Prama juara 3. Namun di lain kesempatan terjadi sebaliknya, Gede Prama juara 1, Koster juara 3. Kebersamaan Koster dan Gede Prama berlanjut hingga tingkat SMA. Hanya saja, Gede Prama mengambil jurusan IPS, sementara calon gubernur yang berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati itu mengambil jurusan IPA.
"Begitu lulus SMA saya masuk ITB pada tahun 1981. Saya modal nekat kuliah. Saya sudah siapkan diri sambil kerja untuk membiayai kuliah," jelasnya. Tahun 1987, Koster muda lulus S1 ITB. Ia kemudian diterima sebagai pegawai honorer di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai peneliti. "Tahun 1987 itu saya terima honor Rp60 ribu tiap bulan. Saya nyambi sambil mengajar matematika. Saya senang sekali dengan matematika. Dari honor mengajar saya dapat tambahan uang Rp70 ribu.
Ada lebihnya saya kirim ke kampung untuk orangtua dan adik-adik saya," papar dia.
[pilihan-redaksi2]
Tak hanya itu, Koster juga mulai membiasakan diri menulis. Hingga suatu ketika naskahnya diterima oleh penerbit untuk dicetak menjadi buku. "Karena tidak punya uang saya berpikir keras cari tambahan. Tapi dari situ saya kemudian jadi senang menulis buku. Waktu itu juga saya sambil berdagang," papar Koster.
Tak hanya itu, Koster juga mulai membiasakan diri menulis. Hingga suatu ketika naskahnya diterima oleh penerbit untuk dicetak menjadi buku. "Karena tidak punya uang saya berpikir keras cari tambahan. Tapi dari situ saya kemudian jadi senang menulis buku. Waktu itu juga saya sambil berdagang," papar Koster.
Meski bernasib cukup baik, Koster menyesal tak dapat berbuat banyak untuk keempat adiknya yang tak dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti dirinya. Dari sana pula Koster begitu serius jika bicara pendidikan, utamanya di DPR RI. "Empat adik saya tidak ada yang menolong seperti saya. Orangtua saya tidak punya biaya untuk keempat adik saya," tutup Koster. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8475 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5825 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3650 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2479 Kali
05
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026