Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Menyimpan Al Qur’an Keturunan Raja Buleleng

Jumat, 12 Oktober 2007, 17:57 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Masjid Agung Jamik Singaraja yang berdiri megah di Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng memiliki cerita unik.

 

 

Dimana, didalam Masjid yang berdiri tahun 1846 itu menyimpan sebuah Mus’haf Al Qur’an yang ditulis sendiri oleh salah satu keturunan Raja Buleleng.

“Memang ada Al Qur’an yang ditulis langsung keturunan ke-VI dari Anak Agung Panji Sakti, pendiri Kota Singaraja. Tidak ada perbedaan dalam kitab itu, hanya saja memiliki kaligrafi khas Hindu,” ungkap Ketua Umum Takmir Masjid Agung Jamik Singaraja, Ahmad Muchlis Sanusi.

Tercatat dalam sejarah singkat Masjid Agung Jamik Singaraja, disebutkan Keturunan Raja Buleleng ke VI yang menulis Al Qur’an itu bernama Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi yang kemudian memeluk agama Islam dan bertempat tinggal di Kampung Kajanan. ”Sampai sekarang masih ada keturunan beliau dan tetap menggunakan nama Gusti walaupun memeluk agama islam,” ungkap Muchlis Sanusi.

Masjid Agung Jamik Singaraja yang dibangun Abdullah Mascatty atas restu Raja Buleleng, Anak Agung Ngurah Ketut Jelantik Polong sempat menimbulkan konflik antar umat muslim saat itu. “Awalnya, ada yang menolak memindahkan masjid lama yang bernama Masjid Keramat di jalan Hassanudin saat ini ke Masjid Agung Jamik sehingga menimbulkan perbedaan pandangan saat itu,” cerita Ahmad Muchlis Sanusi.

Selain menyimpan Al Qur’an tulisan keturunan Raja Buleleng, Masjid Agung Jamik juga memiliki sebuah Kori atau pintu gerbang utama yang merupakan pemberian I Gusti Anglurah Ketut Jelantik VIII.

”Pintu gerbang ini langsung dipindahkan dari Puri Buleleng dan dipasang didepan Masjid,” papar Muchlis Sanusi.Menurut cerita,

 

pemberian Kori atau Pintu Gerbang berukir khas Bali dari Puri Agung Buleleng itu pada tahun 1860 sebagai wujud untuk mencegah adanya perbedaan pandangan untuk memindahkan umat dari Masjid Keramat ke Masjid Jamik.

Sampai saat ini, Masjid Agung Jamik Singaraja yang merupakan Masjid terbesar di Kota Singaraja tetap menjadi pusat bagi umat islam di Singaraja untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/ctg



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami