Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 2 Juli 2026
Hasil Medis Tidak Tunjukkan Adanya Penyakit
BERITABALI.COM, BULELENG.
Menyikapi peristiwa misterius yang mengegerkan warga Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, atas hilangnya dua puting susu milik Luh Suliastini (24), Senin (22/10) siang dilakukan pemeriksaan secara medis di RSUD Kabupaten Buleleng. Namun, secara medis tidak menunjukkan adanya penyakit atau kejanggalan atas hilang dua puting susu itu.
Luh Suliastini, warga Desa Tambakan, Kubutambahan yang dibawa ke RSUD Kabupaten Buleleng diantar langsung oleh pihak Puskesmas II Kubutambahan yang dikoordinir oleh Kepala Puskesmas setempat, dr. Made Suadhi Arka.
Suliastini telah ditangani oleh berbagai ahli kedokteran di bidangnya dengan menggunakan peralatan medis. Baik itu ahli bedah maupun penyakit dalam serta bidan, namun tidak bisa disimpulkan kejadian yang menimpa Suliastini akibat penyakit tertentu. Saat di Rontgen pun tidak menunjukkan adanya penarikan kedalam puting susu,ujar Ketua Ikatan Bidan Kabupaten Buleleng, Ni Ketut Simpen.
Pemeriksaan Luh Suliastini di RSUD Kabupaten Buleleng tidak terlepas dari peran PDI Perjuangan Buleleng, Ketua DPRD Buleleng, Nyoman Muliarta bersama fraksi PDIP dan Ketua DPC PDIP Buleleng, Dewa Nyoman Sukrawan, yang langsung mendampingi pengobatan Sulistiani di RSUD Kabupaten Buleleng.
Ketua DPRD Buleleng Muliarta meminta kepada pemerintah dalam hal ini pihak RSUD Kabupaten Buleleng supaya membebaskan segala biaya pengobatan yang dilakukan oleh Suliastiani. Sementara langsung memberikan bantuan susu dan uang untuk kepentingan perawatan si bayi.
RSUD Buleleng setelah melakukan pemeriksaan langsung memutuskan untuk membebaskan biaya pengobatan Suliastini serta memberikan alat Typle hoed, agar bayi bisa langsung menetek dari payudara Suliastini.
Reporter: bbn/ctg
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun