Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Tak Bisa Melihat, Tapi Tangan Mereka Menghidupi Keluarga

Stan Pijat Tunanetra Warnai Pameran Semarak Jembrana

Sabtu, 15 Agustus 2026, 19:19 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Tak Bisa Melihat, Tapi Tangan Mereka Menghidupi Keluarga.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Di tengah kemeriahan Pameran Semarak Jembrana 2026 dalam rangka HUT Kota Negara ke-131, sebuah stan sederhana milik Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Jembrana menyimpan cerita berbeda.

Stan yang berada tidak jauh dari pintu masuk pameran tersebut menawarkan layanan pijat yang dilakukan para penyandang tunanetra. Selain menjadi ruang untuk mendapatkan penghasilan, keberadaan stan itu sekaligus menunjukkan kemampuan penyandang disabilitas dalam berkarya dan bekerja secara mandiri.

Pertuni Jembrana mendapat kesempatan membuka stan massage dengan fasilitasi Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Sosial. Ketua Pertuni Jembrana I Gusti Ngurah Kade Sudiartana mengatakan, layanan pijat dilakukan secara bergiliran oleh anggota.

“Di sini kami koordinasikan teman-teman Pertuni. Mereka berjaga secara bergiliran, dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan,” ujar Gusti Ngurah Kade, asal Mendoyo.

Pengunjung dapat memilih terapis laki-laki maupun perempuan sesuai kebutuhan. Tarif layanan juga disesuaikan dengan jenis pijatan, mulai dari pijat kaki hingga pijat seluruh tubuh.

"Kalau ada yang minta jasa pijat perempuan, kita kasih perempuan. Kalau minta laki-laki, kita kasih laki-laki. Tarifnya bervariasi. Rp30 ribu untuk pijat kaki, Rp70 ribu untuk kaki dan punggung, sedangkan full body Rp100 ribu,” jelasnya pada hari pertama pembukaan pameran, Jumat (14/8/2026), sebelum acara resmi dibuka jajaran Pemerintah Kabupaten Jembrana.

Layanan pijat berlangsung sekitar 45 menit untuk pijat kaki dan punggung. Ruangan yang digunakan cukup sederhana dengan satu tempat tidur dan kipas angin.

Ada sisi menarik dari layanan yang diberikan di stan Pertuni Jembrana. Para terapis tidak dapat melihat nominal uang yang diberikan pelanggan ketika transaksi pembayaran berlangsung.

Kondisi tersebut membuat kejujuran pelanggan menjadi bagian penting dalam setiap transaksi.

Dalam salah satu layanan, pelanggan memberikan uang Rp100 ribu untuk membayar tarif pijat Rp70 ribu. Terapis kemudian memberikan uang kembalian berupa satu lembar Rp20 ribu dan satu lembar Rp10 ribu setelah pelanggan menyebutkan nominal uang yang dibayarkan.

Situasi sederhana tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan penglihatan bukan penghalang bagi anggota Pertuni untuk memberikan layanan secara profesional. Di sisi lain, pelanggan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembayaran dilakukan secara jujur.

Gusti Ngurah Kade menjelaskan, kegiatan anggota Pertuni Jembrana tidak hanya berkaitan dengan jasa massage. Para anggota juga menjalankan berbagai aktivitas dan usaha, termasuk berkesenian serta usaha kecil-kecilan.

Pertuni Jembrana juga berupaya meningkatkan keterampilan anggota agar dapat mengikuti perkembangan teknologi. Salah satunya melalui rencana pelatihan penggunaan telepon pintar berbasis Android.

“Kebetulan beberapa waktu ini kami memohon ke Dinas Sosial untuk melakukan pelatihan menggunakan HP Android. Mudah-mudahan ke depannya, seiring perkembangan zaman, karena kita semua bergerak di bidang media sosial dan digitalisasi, kami bisa melaksanakan itu,” harapnya.

Untuk wilayah Negara, Gusti Ngurah Kade menyebut jumlah anggota Pertuni yang tercatat sekitar 43 orang. Jumlah tersebut termasuk mitra bakti atau relawan yang membantu kegiatan Pertuni di lingkungan internal maupun eksternal.

Ia berharap perhatian pemerintah terhadap penyandang tunanetra terus berlanjut melalui program pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan sekaligus kemandirian.

“Mudah-mudahan massage ini perlu ditingkatkan, termasuk pelatihan-pelatihan lain untuk meningkatkan skill kami. Karena di zaman sekarang, dalam persaingan dengan masyarakat umum, sebagai penyandang disabilitas atau tunanetra kami tidak kalah dari segi kemampuan,” tegasnya.

Semarak Jembrana Diikuti 134 Peserta

Pameran Semarak Jembrana 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian HUT Kota Negara ke-131 berlangsung pada 14–23 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut melibatkan 134 peserta dari berbagai kategori, mulai dari pelaku UMKM, kuliner, flora dan fauna, instansi pemerintah hingga sejumlah lembaga lainnya.

Pameran menjadi ruang promosi sekaligus pengembangan potensi dan produk unggulan lokal Kabupaten Jembrana.

Selain pameran, rangkaian kegiatan juga menghadirkan Job Fair yang melibatkan 18 perusahaan dan empat Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

Bursa kerja tersebut diharapkan dapat mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja di Jembrana.

Di tengah ramainya Pameran Semarak Jembrana, stan Pertuni menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bahwa penyandang tunanetra tetap mampu bekerja, berkarya dan mengembangkan keterampilan. Dari layanan pijat sederhana tersebut, pengunjung juga diingatkan bahwa kejujuran menjadi bagian penting dalam setiap transaksi.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami