Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




5G di Bali Belum Maksimal, Ini Dua Kendalanya

Sabtu, 15 Agustus 2026, 22:02 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/5G di Bali Belum Maksimal, Ini Dua Kendalanya.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Pengembangan jaringan 5G di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan perangkat yang mendukung teknologi tersebut hingga minimnya edukasi kepada masyarakat. Kondisi ini turut menjadi perhatian industri telekomunikasi di Bali.

Group Head Marketing Segment Smartfren XLSmart, Astiyanto Tri Muktiwibowo, mengatakan ketersediaan perangkat atau device yang mendukung 5G masih menjadi salah satu kendala dalam memperluas penggunaan jaringan generasi kelima tersebut.

"Penetrasinya itu lebih ke device. Memang kita lihat belum semua device ini yang sudah mendukung 5G, masih banyak digunakan oleh masyarakat. Nah, ini yang kita lihat," jelasnya, Sabtu (15/8/2026) di Legian, Kuta, Badung.

Menurutnya, faktor harga juga memengaruhi tingkat adopsi perangkat 5G. Saat ini, perangkat yang telah mendukung jaringan 5G masih memiliki harga lebih tinggi dibandingkan perangkat 4G baru.

"Namun, perkembangan adopsinya dan device-device baru yang hadir itu lebih banyak sudah support 5G. Nah, memang kalau ditanya kendala, artinya ini butuh waktu untuk harga device yang support 5G ini lebih ke harga yang lebih mass atau lebih affordable (terjangkau).Kalau misalkan kita lihat, memang saat ini device yang support 5G itu mungkin di kisaran Rp2,6 – Rp2,7 juta untuk yang paling rendah. Sedangkan untuk device 4G itu kan pasti sudah di angka Rp1,8 jutaan untuk device baru. Itu mungkin salah satu kendalanya dari segi device," paparnya.

Selain perangkat, edukasi masyarakat mengenai karakteristik jaringan 5G juga dinilai masih perlu diperkuat. Salah satu persepsi yang berkembang adalah anggapan bahwa penggunaan jaringan 5G membuat kuota internet lebih cepat habis atau baterai ponsel lebih boros.

Menurut Muktiwibowo, persoalan baterai dapat terjadi ketika perangkat harus berpindah-pindah jaringan akibat cakupan 5G yang belum merata.

"Kenapa bisa gitu? Karena kalau kita switch on ke 5G, begitu network dari suatu operator itu belum merata semuanya 5G, device itu akan selalu mencari: "Mana ya device 5G-nya? Mana device 5G-nya?" Dia akan bolak-balik antara 4G dan 5G. Ini yang membuat baterainya jadi boros. Nah, tapi persepsi di masyarakat menganggap bahwa 5G itu baterainya boros," sebutnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut berbeda apabila cakupan jaringan 5G tersedia secara merata. Menurutnya, XL Smartfren saat ini memiliki jaringan 5G yang disebut telah blanket atau tercover penuh, sehingga pengguna tidak perlu terlalu sering berpindah antara jaringan 4G dan 5G ketika berada di suatu kota.

Muktiwibowo menilai penguatan jaringan dan edukasi konsumen menjadi bagian penting dalam mendorong masyarakat beralih menggunakan teknologi 5G.

"Jadi mungkin itu ada dua hambatan. Dan bagaimana menghadapi sisi kompetitor? Artinya, kalau dari XL Smartfren (khususnya Smartfren), Network-nya paling bagus. Bukan kami yang mengklaim, tapi itu berdasarkan data. Produknya sudah sangat kompetitif dan affordable. Jadi saya rasa, semoga kompetitor yang berpikir bagaimana harus berhadapan dengan XL Smartfren khususnya Smartfren," tutup Muktiwibowo.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami