Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 20 Juni 2026
Final STE XXVII Ricuh
BERITABALI.COM, TABANAN.
Babak final Kejuaraan Sarung Tinju Emas (STE) malam ini (6/4) berlangsung ricuh. Pemicunya, petinju Sumatera Utara dituding menggigit leher petinju DKI Jakarta. Kericuhan pada STE ke-27 ini, terjadi pada pertandinga ke-123 di kelas 64 kilogram putra, antara petinju DKI Titus Tibalimeten melawan petinju Sumatera Utara Daniel Pasaribu. Babak pertama hingga ke empat berlangsung cukup menarik dan sportif. Kedua petinju memperlihatkan permainan tinju yang baik dan profesional.
Kericuhan mulai muncul pada babak kelima atau terakhir, saat petinju DKI, Titus, terjatuh ke kanvas dan mengerang kesakitan. Kepada pelatih dan ofisialnya, Titus mengaku lehernya digigit Daniel Pasaribu. Pelatih dan Ofisial DKI kemudian mengajukan protes kepada wasit. Mereka meminta petinju Sumatera Utara ini dihukum karena dinilai curang menggigit leher lawan. Nah, disinilah puncak kekisruhan ini. Pelatih, ofisial, dan para atlet tinju Sumatera Utara menolak petinjunya dikatakan curang. Mereka juga berteriak dan memaki ke arah wasit, yang dinilai tidak tegas dalam mengambil keputusan.
Suasana lapangan Alit Saputra untuk beberapa saat menjadi tegang, karena ada 3 kelompok yang bersitegang yakni kubu kontingen Sumatera Utara, kubu DKI, dan para wasit pertandingan. Ketegangan ini akhirnya diatasi Kapolres Tabanan, AKBP Drs Onto Cahyono. “Saya Kapolres Tabanan meminta semua yang hadir agar bisa mengendalikan diri dan dapat bersikap tenang agar pertandingan ini dapat dilanjutkan,” tegasnya. Sebagai bentuk protes, kontingen Sumatera Utara akhirnya meninggalkan Lapangan Alit Saputra, termasuk petinjunya Daniel Pasaribu. Juara di kelas 64 kilogram ini akhirnya diberikan kepada Titus Tibalimeten dari DKI.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun