Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 18 Agustus 2026
Profesor Amerika buat buku ‘Rwa Bhineda’ dalam 3 Bahasa
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang professor Amerika, Ron Jenkins tahun ini menargetkan akan menyelesaikan penyusunan buku yang bertemakan tentang filosofi Bali, yakni ‘Rwa Bhineda’ (dua hal yang berbeda, baca: Kepalsuan dan kebenaran). Buku ini akan dicetak secara eksklusif full colour setebal sekitar 200 halaman dengan ukuran 25 cm X 35 cm.
“Untuk tahap awal akan dicetak sebanyak 3000 buku dan disebar sampai ke luar negeri,†papar Prof Ron didampingi maestro perupa Nyoman Gunarsa, Kamis (10/7) di Denpasar.
Buku tersebut akan dicetak dalam tiga bahasa, yakni Bali, Indonesia dan Inggris. Hal itu dimaksudkan agar orang asing yang tak paham bahasa Bali maupun Indonesia akan bisa mengerti isi buku sekaligus filosofi yang terkandung dalam Rwa Bhineda.
Isi buku tersebut, kata Prof Ron yang guru besar di Wesleyan University New York, selain berbicara soal makna dan filosofi Rwa Bhineda, juga tentang masalah pemalsuan karya lukisan Gunarsa yang saat ini tengah dalam proses kasasi di Mahkamah Agung.
Prof Ron sendiri saat ini sejak sekitar 7 bulan lalu tengah melakukan penelitian bidang seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Tiap 2 bulan, dia pulang ke negaranya, Amerika. (sss)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4567 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2370 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2025 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1637 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1074 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun