Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Mendesak, Swakelola Sampah Plus di Denpasar

Denpasar

Senin, 29 September 2008, 17:14 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Volume sampah di Kota Denpasar setiap harinya cenderung meningkat. Oleh karena itu, system swakelola sampah tingkat desa mendesak untuk dilakukan secara menyeluruh.

Setiap harinya, Kota Denpasar menghasilkan sampah antara 2000 – 2200 meter kubik. Oleh karenanya metode swakelola plus diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).



”Jika swakelola plus di tingkat desa/kelurahan berjalan baik, lama-kelamaan jumlah sampah yang dibuang ke TPA berkurang drastis,” tegas Direktur Yayasan Bali Fokus Yuyun Ismawati kepada wartawan Senin (29/9) di Denpasar.

Saat ini swakelola plus tercatat berjalan di tiga wilayah, Kelurahan Ubung, Desa Sanur Kauh dan Desa Sanur Kaja.

Yayasan Bali Fokus menjadi motivator swakelola plus Kelurahan Ubung dengan program bertajuk KIPRAH (kita pro sampah).


Sementara swakelola di Sanur Kaja dan Sanur Kauh merupakan inisiatif warga setempat.

Dalam swakelola plus, sampah rumah tangga (RT) dikumpulkan dan dikelola di instalasi MRF (material recovery facility) tingkat desa. Kemudian sampah dipilah, dikelola dan dimanfaatkan sehingga meminimalkan buangan ke TPA.

”Sampah organik diproses menjadi kompos, anorganik didaur ulang atau dijual, sisanya berupa residu dalam jumlah kecil baru dikirim ke TPA,” ujar aktivis lingkungan ini.



Swakelola plus dilaksanakan di tingkat desa agar lebih efisien. ”Biaya operasional MRF antara Rp 5 – 8 juta jika dibagi jumlah KK 500 – 1000 diperoleh biaya bulanan antara Rp 5.000 – Rp. 10.000,” ujar Yuyun.

MRF sendiri memerlukan investasi antara 200 – 400 juta dengan luas lahan 2 – 4 are yang biayanya dapat disokong dari lembaga donor dan pemerintah.

Bahkan jika di rumah tangga bisa memilah sendiri sampahnya, biaya operasional akan makin rendah. Begitu juga jika makin banyak kompos dan barang daur ulang yang dihasilkan maka keuntungan pengelola makin tinggi juga.

Pembebanan biaya ke masyarakat hanya untuk membiayai operasional, sebagai cost recovery. ”Biaya operasional seperti gaji karyawan, BBM, perawatan, listrik dan lainnya harus dihitung dan dibebankan kepada masyarakat sehingga pengelolaan berkesinambungan,” jelasnya.

Selama ini seringkali biaya ini diabaikan sehingga swakelola macet di tengah jalan. ”Jika separuh saja dari 43 desa/kelurahan menerapkan swakelola plus, TPA Suwung bisa makin suwung (sepi) dari sampah,” ujar aktivis yang bergelut di sampah dan limbah sejak tahun 2000 ini.



Kepala Desa Sanur Kauh Made Dana juga mengungkapkan keunggulan swakelola plus yang dapat mengurangi kiriman sampah ke TPA.

”Sanur Kauh setiap hari ”memproduksi” sampah antara 20 – 25 meter kubik,” tegas pria humoris ini.

Swakelola plus yang dibentuknya tahun 2006 berhasil menangani 15 – 17 meter kubik per hari. ”Sebanyak 4 truk dan 2 pick up sampah diolah setiap hari, hanya menyisakan residu sebanyak 1 truk (4 meter kubik) setiap dua minggu,” jelasnya.

Pihaknya berencana meningkatkan kapasitas penanganan sampah di wilayah yang menjadi ikon pariwisata Kota Denpasar ini. (ctg/*)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami