Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 7 Mei 2026
Menyulap Tebing Jadi Eco Resort
Tegallalang
Rabu, 12 Agustus 2009,
17:46 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Entah yang baru pertama di Bali atau bahkan di Indonesia, pembangunan sebuah resor dengan konsep manajemen kekeluargaan telah lahir di Banjar Bayad, Desa Kedisan Tegalalang, Gianyar. Yang dibangun tak cuma Bayad Eco Resort, tapi juga Bali Eco Adventure, dan juga Bayad Eco Agriculture.
Adalah I Ketut Sunarta, mantan pramuwisata yang sudah 15 tahun malang melintang melakoni manis getirnya dunia pariwisata ini langsung menjadi General Manager (GM) bisnis barunya ini. Lahan satu hektare yang dia miliki tidak latah dijual kepada investor.
Yang dia buat adalah konsep sistem kerjasama dengan mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan dengan mengundang sejumlah investor untuk membangun fasilitas penginapan di lahannya yang kondisi geografisnya sebagian berupa tebing terjal, tapi hawanya sejuk dengan rimbunnya banyak pepohonan.
Saat ini Sunarta bersama empat investornya sudah berhasil merealisasikan 10 unit bangunan, termasuk satu bangunan spa (treatment) dan dua bar lounge. Satu unit bangunan ada yang terdiri dari dua kamar (dua lantai), semua kamar dibuat memikliki view suasana lembah yang alami berhawa sejuk.
Untuk eco adventure, di areal ini juga menyediakan fasilitas tracking sepanjang 2,5 km yang masuk ke lahan milik 34 petani yang luasnya mencapai 20 hektare. Konsep ini tetap mengutamakan kelestarian lingkungan.
Didampingi konsultannya yang sekaligus salah satu investornya, Peter Studer, mengatakan, manajemen ini masih terbuka bagi calon investor lain untuk membangun dua unit bangunan lagi. Nilai investasi satu bangunan mencapai US $ 40.000.
Manajemen kekeluargaan yang dirancang Sunarta ini, pada intinya ingin membangun keharmonisan antar sesama tanpa membeda-bedakan latar belakangnya maupun aspek lainnya. "Pokoknya, kita ingin membangun keharmonisan antarsesama manusia, dari manapun asalnya," jelas Ketut Sunarta yang juga Kelian Dinas di Banjar Bayad, Rabu (12/8) di resornya.
Dari konsep manajemen kekeluargaan ini, kata Sunarta, bahwa para pemegang saham (investor) mendapat hak menggunakan fasilitas ini secara gratis untuk tinggal sampai 100 hari selama dalam setahun. Dan sesuai kesepakatan, kontrak ini berlaku selama 25 tahun ke depan, setelah itu masih bisa diperpanjang lagi.
Yang menarik lagi, resor seluas satu hektare ini rencananya akan diperluas satu hektare lagi untuk menunjang program Bali eco agriculture. Di dalam konsep ini, akan dibangun peternakan, penanaman palawija, dan buah-buahan lokal.
Menurut Sunarta, saat ini koleksi tanamannya tak kurang dari 500 macam, antara lain markisa, kedongdong, manggis, sampai jahe dan lainnya.
Dalam soal keamanan dan kenyaman bagi tamu yang menginap, Sunarta yang juga Kelian Dinas Banjar Bayad ini mengatakan tetap melibatkan peran masyarakat. Dalam hal ini, setiap malam digerakkan 10 anggota Pecalang melakukan ronda. Alhasil, hingga kini semuanya berjalan aman dan sangat kondusif.
"Barang-barang ini selama ini tetap rapi tersimpan, tidak ada yang mencurinya," ujar Sunarta sambil menunjuk sejumlah barang berharga yang ditaruh di rak kaca terbuka yang ada di salah satu bangunan terbuka.
Namanya juga konsep kebersamaan dan kekeluargaan, Sunarta mengatakan bahwa dari keuntungan yang nantinya diraih akan dibagi sedemikian adil, misalnya 50% ke investor, 30% bagi pemilik lahan, dan masing-masing 10% kepada masyarakat setempat, untuk kegiatan sosial (pendidikan, kesehatan). (sss)
Adalah I Ketut Sunarta, mantan pramuwisata yang sudah 15 tahun malang melintang melakoni manis getirnya dunia pariwisata ini langsung menjadi General Manager (GM) bisnis barunya ini. Lahan satu hektare yang dia miliki tidak latah dijual kepada investor.
Yang dia buat adalah konsep sistem kerjasama dengan mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan dengan mengundang sejumlah investor untuk membangun fasilitas penginapan di lahannya yang kondisi geografisnya sebagian berupa tebing terjal, tapi hawanya sejuk dengan rimbunnya banyak pepohonan.
Saat ini Sunarta bersama empat investornya sudah berhasil merealisasikan 10 unit bangunan, termasuk satu bangunan spa (treatment) dan dua bar lounge. Satu unit bangunan ada yang terdiri dari dua kamar (dua lantai), semua kamar dibuat memikliki view suasana lembah yang alami berhawa sejuk.
Untuk eco adventure, di areal ini juga menyediakan fasilitas tracking sepanjang 2,5 km yang masuk ke lahan milik 34 petani yang luasnya mencapai 20 hektare. Konsep ini tetap mengutamakan kelestarian lingkungan.
Didampingi konsultannya yang sekaligus salah satu investornya, Peter Studer, mengatakan, manajemen ini masih terbuka bagi calon investor lain untuk membangun dua unit bangunan lagi. Nilai investasi satu bangunan mencapai US $ 40.000.
Manajemen kekeluargaan yang dirancang Sunarta ini, pada intinya ingin membangun keharmonisan antar sesama tanpa membeda-bedakan latar belakangnya maupun aspek lainnya. "Pokoknya, kita ingin membangun keharmonisan antarsesama manusia, dari manapun asalnya," jelas Ketut Sunarta yang juga Kelian Dinas di Banjar Bayad, Rabu (12/8) di resornya.
Dari konsep manajemen kekeluargaan ini, kata Sunarta, bahwa para pemegang saham (investor) mendapat hak menggunakan fasilitas ini secara gratis untuk tinggal sampai 100 hari selama dalam setahun. Dan sesuai kesepakatan, kontrak ini berlaku selama 25 tahun ke depan, setelah itu masih bisa diperpanjang lagi.
Yang menarik lagi, resor seluas satu hektare ini rencananya akan diperluas satu hektare lagi untuk menunjang program Bali eco agriculture. Di dalam konsep ini, akan dibangun peternakan, penanaman palawija, dan buah-buahan lokal.
Menurut Sunarta, saat ini koleksi tanamannya tak kurang dari 500 macam, antara lain markisa, kedongdong, manggis, sampai jahe dan lainnya.
Dalam soal keamanan dan kenyaman bagi tamu yang menginap, Sunarta yang juga Kelian Dinas Banjar Bayad ini mengatakan tetap melibatkan peran masyarakat. Dalam hal ini, setiap malam digerakkan 10 anggota Pecalang melakukan ronda. Alhasil, hingga kini semuanya berjalan aman dan sangat kondusif.
"Barang-barang ini selama ini tetap rapi tersimpan, tidak ada yang mencurinya," ujar Sunarta sambil menunjuk sejumlah barang berharga yang ditaruh di rak kaca terbuka yang ada di salah satu bangunan terbuka.
Namanya juga konsep kebersamaan dan kekeluargaan, Sunarta mengatakan bahwa dari keuntungan yang nantinya diraih akan dibagi sedemikian adil, misalnya 50% ke investor, 30% bagi pemilik lahan, dan masing-masing 10% kepada masyarakat setempat, untuk kegiatan sosial (pendidikan, kesehatan). (sss)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 638 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 603 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 449 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 439 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026