Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 23 Juni 2026
Dua Orang Berjenggot Diamankan
Beritabali.com, Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Perjalanan dua orang jemaah tabliq menuju Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) terpaksa terhenti di Pos Pemeriksaan KTP Gilimanuk. Pasalnya, salah satu diantaranya tidak bisa menunjukkan KTP saat diperiksa.
Dari informasi yang dihimpun, Kamis (27/8) Sahrudin (32) dan Lalu Samsul Bahri (34), keduanya asal Lombok Tengah (Loteng), NTB terpaksa mengurungkan niatnya kembali ke kampung halamannya di Loteng seusai berdakwah di Lampung selama 40 hari.
Pasalnya, saat pemeriksaan KTP di Pos Pemeriksaan KTP Gilimanuk, Sahrudin tidak bisa menunjukan KTPnya dan terpaksa harus dikeler ke Markas Sat Pol PP Jembrana. Kendati Samsul Bahri dapat menunjukkan KTPnya namun dirinya memilih untuk menemani Sahrudin lantaran dirinya rasa solidaritasnya.
Baca juga:
Gunung Api Sakurajima di Jepang Erupsi
“Dia (Sahrudin) adalah teman seperjuangan saya saat berdakwah di Lampung selama 40 hari,” ujar Samsul Bahri saat ditemui di Markas Sat Pol PP, Kamis (27/8).
Samsul Bahri mengungkapkan kalau dirinya dan Sahrudin hendak pulang ke Loteng, NTB seusai melakukan perjalanan dakwah hingga ke Lampung selama 40 hari. “Karena tugas berdakwah di Lampung sudah selesai, kami berniat pulang ke Loteng,” ujarnya.
Samsul Bahri menolak kalau mereka disamakan dengan gerombolan teroris yang identik dengan jenggot panjang. “Kami ini mujahid. Jihad yang kami lakukan adalah melawan hawa nafsu. Beda dengan jihad yang dilakukan Amrozi dan teman-temannya. Melakukan pengeboman jelas bukanlah cara jihad. Kami dari jamaah tabliq atau ada yang menyebut dengan jamaah berjenggot tidak setuju dengan cara jihad yang dilakukan Amrozi,” terangnya.
Sementara Sahrudin mengaku kalau dirinya sempat ragu-ragu saat mau berangkat lantaran KTPnya sudah kadaluarsa dan minimnya persediaan dana.
“Sebenarnya saya sudah ragu sebelum berangkat. Di samping karena KTP saya sudah mati, waktu itu kami belum punya dana. Namun saat ada rejeki, kami lalu berangkat tanpa sempat mengurus KTP,” kelit Sahrudin yang berjenggot panjang ini yang mengaku pernah memilki studio Radio dan akrab dengan teman-teman Press di Loteng ini.
Ditambahkan Sahrudin, perjalanan dakwah yang dilakukannya semata-mata karena panggilan Allah. “Bahkan saya relakan diri saya jauh dari istri dan dua anak saya demi memberikan pencerahan umat,” ujarnya.
Sahrudin juga mengakui kalau perjalanan dakwahnya tidak selalu mulus “Ada saja penolakan bahkan cibiran dan anggapan kalau kami ini berbahaya. Padahal apa yang kami lakuakan betul-betul untuk memberikan kasih sayang kepada semua orang,” beber Sahrudin yang mengaku biaya perjalanan dakwahnya ini dari hasil penyisihan hasil jerih payahnya sebagai tukang. (dey)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun