Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Dua Orang Berjenggot Diamankan

Beritabali.com, Negara

Kamis, 27 Agustus 2009, 18:33 WITA Follow
Beritabali.com

images.google.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Perjalanan dua orang jemaah tabliq menuju Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) terpaksa terhenti di Pos Pemeriksaan KTP Gilimanuk. Pasalnya, salah satu diantaranya tidak bisa menunjukkan KTP saat diperiksa.



Dari informasi yang dihimpun, Kamis (27/8) Sahrudin (32) dan Lalu Samsul Bahri (34), keduanya asal Lombok Tengah (Loteng), NTB terpaksa mengurungkan niatnya kembali ke kampung halamannya di Loteng seusai berdakwah di Lampung selama 40 hari.



Pasalnya, saat pemeriksaan KTP di Pos Pemeriksaan KTP Gilimanuk, Sahrudin tidak bisa menunjukan KTPnya dan terpaksa harus dikeler ke Markas Sat Pol PP Jembrana. Kendati Samsul Bahri dapat menunjukkan KTPnya namun dirinya memilih untuk menemani Sahrudin lantaran dirinya rasa solidaritasnya.


“Dia (Sahrudin) adalah teman seperjuangan saya saat berdakwah di Lampung selama 40 hari,” ujar Samsul Bahri saat ditemui di Markas Sat Pol PP, Kamis (27/8).

Samsul Bahri mengungkapkan kalau dirinya dan Sahrudin hendak pulang ke Loteng, NTB seusai melakukan perjalanan dakwah hingga ke Lampung selama 40 hari. “Karena tugas berdakwah di Lampung sudah selesai, kami berniat pulang ke Loteng,” ujarnya.

Samsul Bahri menolak kalau mereka disamakan dengan gerombolan teroris yang identik dengan jenggot panjang. “Kami ini mujahid. Jihad yang kami lakukan adalah melawan hawa nafsu. Beda dengan jihad yang dilakukan Amrozi dan teman-temannya. Melakukan pengeboman jelas bukanlah cara jihad. Kami dari jamaah tabliq atau ada yang menyebut dengan jamaah berjenggot tidak setuju dengan cara jihad yang dilakukan Amrozi,” terangnya.

Sementara Sahrudin mengaku kalau dirinya sempat ragu-ragu saat mau berangkat lantaran KTPnya sudah kadaluarsa dan minimnya persediaan dana.

“Sebenarnya saya sudah ragu sebelum berangkat. Di samping karena KTP saya sudah mati, waktu itu kami belum punya dana. Namun saat ada rejeki, kami lalu berangkat tanpa sempat mengurus KTP,” kelit Sahrudin yang berjenggot panjang ini yang mengaku pernah memilki studio Radio dan akrab dengan teman-teman Press di Loteng ini.

Ditambahkan Sahrudin, perjalanan dakwah yang dilakukannya semata-mata karena panggilan Allah. “Bahkan saya relakan diri saya jauh dari istri dan dua anak saya demi memberikan pencerahan umat,” ujarnya.



Sahrudin juga mengakui kalau perjalanan dakwahnya tidak selalu mulus “Ada saja penolakan bahkan cibiran dan anggapan kalau kami ini berbahaya. Padahal apa yang kami lakuakan betul-betul untuk memberikan kasih sayang kepada semua orang,” beber Sahrudin yang mengaku biaya perjalanan dakwahnya ini dari hasil penyisihan hasil jerih payahnya sebagai tukang. (dey)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami