Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 13 Agustus 2026
Jalan Sepanjang 2 KM di Sakah Rusak Parah
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Jalan sepanjang 2 Kilometer yang menghubungkan Banjar Uma dan Banjar Sakah, Batuan, Sukawati, Gianyar rusak parah. Jalan alternatif ini sampai sekarang belum tersentuh bantuan perbaikan.
Menyikapi masalah ini, salah satu warga Banjar Sakah, Batuan, Sukawati, I Komang Wirajaya mengaku sangat kesal dan kecewa.
Kami sangat kecewa, beberapa kali masalah ini disampaikan ke telinga pejabat terkait, namun sampai kini belum ada respon, ujarnya.
Lebih jauh, sambung Wirajaya, jalan ini sangat
membantu kelancaran transportasi utamanya saat mengangkut hasil tani warga.
Bukan hanya itu, jalan ini juga juga kerap dipakai jalan alternatif ketika jalur Batuan, Sukawati mengalami macet
total.
Kelancaran transportasi menjadi terganggu, akibat jalan rusak, ungkapnya.
Wirajaya menyebutkan, apabila hujan turun, jalan
tersebut juga kerap digenangi air, sehingga jalur tersebut lumpuh tak bisa dilewati kendaraan.
Kalau musim hujan, sudah menjadi langganan jalan rusak, jelasnya.
Terkait persoalan jalan ini, Wirajaya berharap besar kepada pihak pemerintah Gianyar untuk melakukan
perbaikan.
Mudah mudahan para pejabat baik eksekutif dan legislative
tersentuh hatinya untuk melakukan perbaikan jalan, ungkapnya.
Reporter: bbn/art
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4507 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2322 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1966 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1592 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1036 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun