Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Rebutan Guru SD, Parang Bicara

Beritabali.com, Tabanan

Senin, 8 Februari 2010, 19:35 WITA Follow
Beritabali.com

images.google.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, TABANAN.

Cinta segitiga yang terlarang antara seorang guru SD dengan dua lelaki bersitri yakni I Wayan Wiansa (44) dan Nyoman Bagiada (38) keduanya warga Desa Megati, Kecamatan Selemadeg Timur berujung dengan aksi kekerasan

Puncaknya Minggu malam (7/2) sekitar pukul 18.30 Wita kedua lelaki yang sudah beristri ini dibalut rasa cemburu. Wiansa kalap saat disetop Bagiada di Jalan Raya Sesandan Kangin, Desa Megati, Selemdeg Timur. Winasa yang saat itu baru datang dari ladang langsung menebas Bagiada dibagian lengan kanan atas dan dahi.

Akibat tiga kali tebasan yang dilepaskan Wiansa membuat Bagiada tersungkur besimbah darah. Usai menebas Bagiada, Wiansa kemudian melaporkan kejadian itu ke kelihan dinas dan kelihan adatnya.

Dan tak berselang lama malam itu juga Wianasa dijemput anggota Polsek Selemadeg Timur. Begitu juga dengan korban langsung di larikan ke BRSUD Tabanan. Kini kondisi Bagiada tinggal menunggu operasi karena luka yang dideritanya sangat parah.

 Kapolsek Selemadeg Timur AKP Slamet, Senin (8/2) mengatakan pihaknya telah menangkap tersangka Winasa malam itu juga. “tersangka telah kami tahan terlibat penganiayaan sesuai dengan pasal 351 KUHP,” jelasnya.

Selain menahan tersangka polisi juga mengamankan sebilah parang yang digunakan tersangka menebas korban.Diduga motif kejadian itu karena kedunya baik tersangka maupun korban dibakar cemburu karena memperebutkan seorang guru SD yang bertugas di Desa Megati. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/ctg



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami