Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Gelar Permainan Tradisional Gangsing

Minggu, 20 Juni 2010, 18:26 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, TABANAN.

Petani kopi di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan tengah menunggu panen kopinya yang diperkirakan dua bulan lagi. Untuk mengisi waktu luang, warga setempat yang kebanyakan petani kopi menggelar permainan tradisional gangsing. 

Hampir tiap hari peraminan ini digelar saat musim menunggu panen seperti sekarang ini. Apalagi musim panen berbarengan dengan musim liburan sekolah.Para pemainya bukanlah anak kecil melainkan kebanyakan orang dewasa.

Permainan gangsing biasanya digelar di halaman yang luas seperti halaman sekolah atau halaman rumah warga yang luas. Waktunya pun tidak pasti, kadang pagi, siang bahkan sore hari.

Kepala Desa Pujungan Gede Putu Santiartha menjelaskan permainan gangsing ini sudah ada sejak dirinya lahir bahkan orang tuanya juga sudah mengetahui adanya peramainan gangsing ini.Yang menerik permainan ini tidak digelar tiap tahun. Melainkan digelar setiap musim panen kopi atau hasil perkebunan lainnya tiba.“Yang jelas setiap petani mau panen kopi barulah permainan ini digelar,”jelasnya.

Ia pun tidak mengetahui kenapa pernainan gangsing ini dilakukan disaat menunggu hasil panen.“permainan ini sudah ada sejak turun temurun, bahkan bapak saya sudah menemukan seperti yang ada sekarang ini,”tambahnya.Dikatakanya, aturan peramainan gangsing di Desanya terdiri dari dua tim yang bermain. Yang masing-masing tim terdiri dari delapan orang. Tim yang berhasil memukul berutut-turut lima kali berhak mendapatkan satu poin.Penilaiannya dilakukan oleh seorang juri yang sengaja bertugas menilai permainan. Diakuinya, warga setempat sekarang kesulitan untuk mendapatkan kayu yang bagus untuk membuat gangsing.

 



“Kayu yang bagus untuk gangsing adalah kayu semagga (jeruk), keberadaan kayu ini sudah langka karena warga setempat sudah tidak ada yang berkebun jeruk,”pungkasnya. (nod)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami