Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 2 Juli 2026
Harga Merosot, Petani Enggan Panen
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Ternyata saat panen bukanlah waktu yang menggembirakan bagi para petani, khususnya petani kelapa. Pasalnya, justru saat panen harga kelapa di pasaran merosot sehingga mereka lebih memilih untuk tidak melakukan panen.Dari informasi yang dihimpun, Senin (21/6), harga kelapa di pasaran saat ini hanya mencapai Rp.600-Rp.800 per butirnya.
Dari harga tersebut, petani masih harus menanggung ongkos petik dan biaya angkut hingga ke pinggir jalan sesuai dengan permintaan pengepul.Tambahan ongkos ini membuat petani kelapa hanya menerima keuntungan separuh dari harga pasar tersebut. Rendahnya harga pasar membuat para petani lebih memilih membiarkan buah kelapanya masih bergelantungan di pohon ketimbang memanennya.
Musim panen ini tergolong gagal karena harga pasar tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memanennya, ujar IB Mantera petani kelapa warga Dusun Gunung Sekar, Mendoyo Dauh Tukad, Mendoyo, Senin (21/6).Mantera mengakui kalau saat musim panen ini banyak pembeli yang datang hanya saja mereka menawarkan harga yang relatif rendah jika dibandingkan dengan musim panen sebelumnya yang mencapai Rp. 1.500 per butirnya.
Sekarang pengepul hanya mau membeli Rp 600 perbutir. Dari harga tersebut, petani harus membayar ongkos petik. Kalau kebunnya dekat jalan raya tidak perlu dipotong biaya angkut yang menjadi tanggungan petani, terangnya.Menurut Mantera, setelah dipotong biaya-biaya tersebut, bersihnya petani hanya menerima Rp. 400 perbutirnya. Itu untuk kelapa dengan ukuran standar. Kalau kecil-kecil, harganya lebih rendah, akunya.
Hal senada juga diungkapkan Wayan Mudita. Petani warga Desa Poh Santen, Mendoyo yang mengaku habis panen kelapa mengakui kalau harga kelapa di pasaran merosot tajam.Bayangkan perbutir hanya dihargai Rp.600 sampai Rp.800. Itu belum dipotong biaya angkut dan ongkos petik. Jadi petani hanta menerima bersih Rp.400-Rp.500 per butirnya, tandasnya.
Mudita juga mengaku kalau teman-temannya sesama petani kepala lebih membiarkan buah kelapanya bergelantungan di pohon dibandingkan memanennya. Teman-teman yang lokasi kebunnya jauh dari jalan raya malah lebih memilih membiarkan buah kelapanya tak dipetik, imbuhnya.
Merosotnya harga kelapa juga terjadi di tingkat pengepul. Menurut informasi, hal ini disebabkan karena panen kelapa berlangsung serentak sementara permintaan kelapa butiran dari Jawa mengalami penurunan.Memang harga kelapa masih di bawah Rp. 1.000 perbutirnya. Namun untuk butiran yang besar malah bisa mencapai harga di atas itu, ujar Tini, salah seorang pengepul kelapa di Jembrana, Senin (21/6).Kondisi ini membuat pengepul warga Desa Dangin Tukadaya, Mendoyo ini hanya mampu membeli kelapa petani dengan harga di bawah Rp.1.000 perbutirnya.
Kalau di atas itu, tidak nutup karena mesti harus menanggung biaya transportasi dan ongkos angkut serta biaya mengupasnya, pungkasnya seraya menjelaskan kalau permintaan kelapa dari Jawa kebanyakan kelapa butiran yang sudah dihilangkan sabutnya. (dey)
Reporter: bbn/net
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun