Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 16 Juni 2026
Petani di Bali Dianggap Pekerjaan Kasta Rendah
denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Jumlah petani di Bali kini semakin berkurang karena rendahnya minat untuk menjadi petani. Salah satu penyebabnya karena petani dianggap pekerjaan kasta rendah.
Hal ini disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, di Denpasar (4/12/2011).
"Secara psikologi sosial, di Bali petani itu dianggap kurang bergengsi, dianggap kelompok golongan sosial yang paling rendah, dari kasta Sudra, paling rendah. Saat ini tidak ada anak petani yang cita-citanya jadi petani. Yang lulus dari fakultas pertanian tidak ada yg mau jadi petani, tapi maunya jadi kadis (kepala dinas) pertanian. Petani di Bali saat ini sudah tua tua,"ujar Pastika.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pastika menyatakan telah mengenalkan pertanian terintegrasi yang disebut Simantri.
"Lewat program ini kita beri petani masukan teknologi pertanian yang tepat sehingga bisa menghasilakn hasil tani maksimal dan berkualitas. Dengan demikian derajat pekerjaan petani akan terangkat, 'kasta sudra'nya jadi naik," ujar Pastika.
Selain mengenalkan sistem pertanian terintegrasi kepada petani, kata Pastika, juga perlu dilakukan perubahan 'mindset' atau cara berpikir masyarakat Bali khususnya kalangan muda.
"Mindset harus dirubah, harus ada pemberian nilai tambah bagi petani seperti pemberian subsisdi, pelatihan, pendampingan dan lain sebagainya. Pertanian di Bali harus hidup, harus ada orang Bali yang jadi petani karena itu basis budaya Bali. Pariwisata Bali merupakan pariwisata budaya, budaya bernafaskan hindu, itu agraris, jadi petani harus tetap ada. Untuk itu kita perlu meyakinkan generasi muda Bali untuk menjadi petani,"paparnya. (dev)
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun