Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 14 Juni 2026
Aparat Desa Kurang Sigap
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Kasus flu burung kembali muncul di Jembrana, kali ini wabah virus yang mematikan tersebut menyerang Banjar Pasar, Desa Yehembang, Mendoyo, dalam sebulan ribuan ayam peliharaan milik 15 KK mati secara mendadak.
Namun kejadian tersebut rupanya tidak segera mendapat respon dari aparat desa terutama kelihan banjar setempat. padahal menurut warga, ayam peliharaan kelihan banjarlah yang pernama diserang.
Satu ekorpun ayam milik kelihan banjar tidak ada yang hidup, tapi kelihannya tidak mau melaporkan kejadian tersebut. Padahal ayamnya mati secara mendadak,” terang Kayan Tabik warga setempat yang mengetahui puluhan ekor ayam milik Kelihan Banjar Pasar, Nengah Astawa mati secara mendadak.
Menurut Kayan Tambik yang juga puluhan ekor ayam peliharaannya mati mendadak kejadian tersebut sejak sebulan yang lalu. Namun karena tidak mendapat penanganan dari istansi terkait serta banyak warga yang membuang bangkai ayam ke sungai dan selokan sehingga sampai saat ini masih banyak ayam warga mati mendadak. Ida Bagus Kembar(48) sejak tiga hari lalu hampir 30 puluh ekor ayamnya mati secara mendadak.
“Tadi pagi dua ekor ayam jantan saya yang besar mati mendadak. Padahal tidak ada tanda-tanda sakit, saya langsung buang di laut,” terangnya. Ayam peliharaan milik warga yang terbanyak mati adalah milik Ketut Sarjana. Dalam seminggu sekitar 500 ekor ayam peliharaannya mati. Sedangkan Wayan Nedra sekitar 200 ekor lebih ayamnya mati mendakak.
Anehnya saat Perbekel Desa Yehembang, Ketut Wadia dikonfirmasi mengaku tidak tahu ribuan ayam milik warganya mati karena tidak ada laporan dari warga dan kelihan banjar. Ini cukup membuktikan betapa penanganan pihak aparat desa terkait flu burung tidak serius padahal wabah ini sangat mendapat perhatian pemerintah.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan KehutananKabupaten Jembrana Ketut Wiratma saat dikonfirmasi melalui telpon sangat menyayangkan aparat desa terutama kelian banjar sebagai ujung tombak di masyarakat tidak melaporkan kasus ini. Padahal pihaknya telah melayangkan surat edaran terkait penanganan flu burung dan rabies. Seharusnya pihak aparat desa bisa bertindak cepat jika menemukan kasus ayam mati mendadak agar sesegera mungkin dilakukan penanganan.
“ Kalau tidak ada laporan dari pihak desa bagaimana kita tahu ada ayam warga yang mati mendadak,” terangnya. Namun untuk kasus yang terjadi di Yehembang, pihaknya akan segera turun untuk melakukan pengecekan termasuk melakukan tes, apakah terindikasi terkena virus H5N1. Untuk itu Wiratma menghimbau masyarakat jika ada ayamnya yang mati mendadak jangan buru-buru dikubur agar bisa dilakukan pengecekan.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Kasus Penjualan Gading Gajah di Tampaksiring Masuk Tahap Penuntutan
Dibaca: 1020 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli