Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 7 Mei 2026
Tari Bali Dwipa Djaya, Tarian Penuh Makna
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sebuah tarian baru dipentaskan untuk pertama kalinya di pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-34 tahun 2012 di Taman Budaya Denpasar. Tari garapan para cedekiawan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dibawah koordinator Rektor ISI Denpasar Prof. I Wayan Rai ini bernama Tari Bali Dwipa Djaya. Pencetus ide dari tarian yang menggambarkan kemegahan Bali ini adalah Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Rektor ISI Denpasar Prof. I Wayan Rai menuturkan gerak dalam Tari Bali Dwipa Djaya merupakan bentuk interprestasi estetis dari lambang Pulau Dewata. Rangkaian gerakan dalam tari Bali Dwipa Djaya sendiri menggambarkan terbentuknya Pulau Bali dengan beragam dinamika yang terjadi dari masa ke masa. Tari ini juga mengangkat kearifan lokal yang ada di Bali yang diterjemahkan dari konsep Tri Angga yaitu terdiri dari kepala, badan dan kaki. “Ibarat manusia ada kepala, ada badan dan ada kaki, ibarat pemimpin ada proses pemilihannya , ada masa berkuasa, ada masa berakhirnya, demikian juga dalam kebijakan ada konsep, ada masa pelaksanaan dan masa akhirnya, jadi ini juga bisa bermakna lahir, hidup dan mati” ucapnya.
Guna menggambarkan kepala, pada tahap awal dari tari ini menggambarkan terbentuknya Pulau Seribu Pura ini secara religius. Jika dicermati Dalam gerak tari dalam dilihat dengan adanya gerakan Mudra dari para penari. Secara mitologi Hindu, ini berkaitan dengan Dewa Siwa yang disebut-sebut sebagai dewa tarian. Beliau memutar dunia ini dengan suatu gerakan-gerakan mistis yang disebut dengan mudra, yang memiliki kekuatan gaib. Dimana setiap gerakan tangan dan gerakan tubuhya memiliki kekuatan, sehingga tarian ini tidak semata-mata mementingkan keindahan rupa. Namun didasari atas gerakan mudra tersebut, sehingga tarian tersebut memiliki kekuatan sekala dan niskala atau kekuatan nyata dan tidak nyata.
Pada bagian badan tari menggambarkan dinamika yang terjadi di Bali dari masa ke masa. Dinamika yang terjadi dari masa ke masa yang terjadi di Bali ini diterjemahkan dalam gerakan yang abstrak. Gerak abstrak ini juga untuk menggambarkan bahwa dinamika yang terjadi di Bali itu terjadi karena factor eksternal dan internal. Sedangkan pada bagian akhir (kaki) menggambarkan proses pencarian penyelesaian dari seluruh dinamika yang terjadi, sehingga tercapai kehidupan yang tentram dan harmonis di Bali.
Tari Bali Dwipa Djaya memang penuh dengan makna filosofi. Dilihat dari segi penari juga mengandung penuh makna yaitu hadirnya konsep purusa dan Predana atau konsep lingga dan yoni yang melambangkan laki-laki dan perempuan atau baik dan buruk yang selalu hidup berdampingan untuk menciptakan keseimbangan. Namun yang menarik dari jumlah penari adalah hanya satu penari laki-laki yang dihadirkan, sedangkan jumlah penari perempuan disesuaikan dengan luas panggung pertunjukkan.
Kehadiran satu penari laki-laki memiliki makna bahwa pemimpin hanya ada satu orang dan tidak mungkin terdapat dua pemimpin. Jika terdapat dua pemimpin maka bentrok kepentingan pasti terjadi dan menyebabkan masyarakat kebingungan. Berbeda dengan jumlah penari perempuan yang jumlahnya menyesuaikan dengan luas panggung diartikan sebagai jumlah warga dalam suatu kelompok yang jumlahnya juga berbeda-beda sesuai luas wilayah. “pemimpinnya tetap satu, tetapi jumlah rakyatnya akan terus berubah-ubah, makanya jumlah penari wanita itu selalu berubah sesuai luasan panggung” papar Prof. I Wayan Rai
Wayan Rai menjelaskan jika diperhatikan dari segi kostum penari juga mengandung makna tersendiri yang diambilkan dari lambang pemerintah provinsi Bali. Seperti lambang bintang, padi dan kapas serta warna-warna dalam lambang Bali Dwipa Djaya juga dituangkan dalam konsep warna kostum penari. “Lambang Candi ada, lambang rantai ada, semua ada termasuk warna-warna dalam lambang yang dituangkan dalam warna kostum penari” jelas rektor ISI Denpasar
Rai memaparkan khusus untuk iringan musik Tari Bali Dwipa Djaya menggunakan Tabuh Gong Gede. Gambelan barungan Gong Gede di pilih karena gambelan ini merupakan barungan terbesar dalam kerawitan Bali. Secara makna gong gede memiliki watak yang agung dan ini untuk menggambarkan bahwa Bali adalah sebuah pulau yang agung. Penggunaan Gong Gede juga dipadukan dengan Kulkul (kentongan), Gentha, Gentha Urang, dan vocal dalam bentuk kidung. Penggabungan suara-suara ini merupakan bentuk konsep Panca Swara (lima suara) sebagai bagian dari kelengkapan upacara dalam tradisi Hindu Bali.
“ini untuk menimbulkan suasana religius, bagaimana orang ketika mendengarkan suara gambelan yang dipadukan dengan getha, kidung dan kulkul merasa seolah-olah di Pura, karena ketika Bali diciptakan juga dalam kondisi yang sangat religius” ujarnya.
"Makna lain yang dapat dijumpai dalam Tari Bali Dwipa Djaya adalah dalam hal waktu atau lama tarian yang mencapai 9 menit. Dilihat dari konsep Hindu angka 9 dimaknakan dalam bentuk 9 dewa penguasa arah mata angin. Sedangkan jika dilihat secara ilmiah ini bisa diartikan bahwa Bali terdiri dari 9 wilayah yang terbagi dalam kabupaten/kota. “ paparnya.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Bali Ketut Suastika menyatakan Tari Bali Dwipa DJaya ini akan menjadi maskot dari provinsi Bali, seperti halnya kabupaten/kota di Bali yang telah memiliki tarian yang menjadi maskot daerahnya masing-masing. Kabupaten Klungkung dengan mascot tari sekar cempaka, Kota Denpasar dengan maskot tari Sekar Jempiring. Menurut Suastika, Tari Dwipa Djaya akan selalu ditampilakan dalam setiap kegiatan ataupun pelaksanaan konferensi di Bali.
“kalau selama ini yang ditampilkan adalah Tari Panyembrama atau Tari Pendet, tari itu merupakan tari penyambutan, berbeda dengan Tari Bali Dwipa Djaya yang menggambarkan kemegahan Bali” tutur Ketut Suastika.
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 716 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 660 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 485 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 466 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik