Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Silakan Pilih, Mau Ular Python Goreng, Sup Kobra, atau Sate Buaya

Rabu, 26 September 2012, 05:45 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Kawasan simpang siur Patung  Dewa Ruci merupakan titik pertemuan arus lalu lintas menuju kawasan wisata Nusa Dua, Kuta, Sanur yang dikenal macet. Di tengah jalur krodit ini, terselip sebuah Art Shop sekaligus rumah makan yang menyajikan berbagai masakan ekstrim  yang memiliki khasiat dan cita rasa unik.

Jika datang dari arah Sanur menuju Nusa Dua tentu banyak yang  memperlambat kendaraan mendekati bundaran Patung Dewa Ruci karena terjebak macet. Di sebelah selatan jalan By Pass Ngurah Rai  terdapat  sebuah Art Shop  yang memajang berbagai kerajinan berbahan kulit ular dan terkesan sepi pelayan.  Namun setelah masuk ke dalam, ternyata di dalamnya  ramai  “ dihuni “  ular yang ditempatkan dalam kandang khusus. Ada berbagai  jenis ular berbisa yang jumlahnya bisa mencapai  ratusan ekor, siap untuk diolah menjadi  hidangan dalam bentuk gorengan, sup, dan sate.

“Yang paling digemari oleh pengunjung mancanegara  adalah menu fried Python, dagingnya lebih tebal dan rasanya gurih. Tidak jauh beda dengan rasa daging ayam. Sementara untuk wisatawan lokal kebanyakan mencari khasiat dari ular tersebut sebagai pengobatan  “, kata salah seorang pelayan, Anita Tambunan.

Bumbu yang dipakai untuk gorengan tidak  berbeda jauh dengan bumbu  dasar jenis ayam goreng  pada umumnya. Rempah dasar yang digunakan hanyalah bawang putih, bawang merah, kecap manis, dan jahe. Sementara olahan sate hanya  memadukan unsur minyak wijen, kecap manis, serta kecap asin, selanjutnya dipanggang hingga matang.

Sedangkan untuk hidangan sup membutuhkan  banyak variasi rempah dan bumbu, semua bergantung dari jenis sup yang akan diolah dan dipesan oleh pelanggan. Selain sajian berbahan ular, di sini juga tersedia daging olahan dari biawak, monyet, kalong, buaya. Semua daging selain ular memiliki jumlah yang terbatas, tergantung persediaan dan permintaan.

 

 

Tiap porsi yang tersaji terdiri dari lima potong daging,  baik itu berupa sate maupun  daging goreng. Semua disajikan lengkap dengan saus. Tampilannya  selalu dipercantik dengan hiasan berupa irisan tomat dan sayuran. Soal harga per porsinya mulai dari 10 dolar Amerika untuk sup kobra Indonesia  sampai dengan harga 30 dolar Amerika untuk Crocodile Satay atau sate buaya. Semua harga tadi belum termasuk tax dan service senilai 10 persen.

Selain memadukan  Art Shop dan Restaurant, tempat ini juga menyediakan berbagai jenis ramuan tradisional. Di sini, semua pelayan merangkap menjadi penjaga Art Shop, kecuali juru masak yang khusus menangani urusan dapur.   Mereka merupakan pekerja perempuan yang sudah tak mengenal rasa ragu atau takut saat mengambil serta mengolah daging ular berbisa dan selalu dibantu tongkat panjang berisikan kait pada ujungnya. Keahlian sebagai pawang ular sekaligus pemotong ular dalam mencari darah segar untuk pengobatan kadang dipertontonkan langsung di hadapan tamu secara 'On Request'.  Kepiawaiannya  jelas bisa dilihat dari balik kaca pembatas, pengunjung pun bebas mengambil gambar sebagai kenang – kenangan.

“Menghadapi ular kobra tekniknya biasa saja, nyantai saja. Paling dia hanya nyembur bisanya kalau kita menatap mereka “, jelas Anita. Dengan tujuh orang pramusaji  berpakaian merah ditambah satu juru masak, tiap harinya Art Shop plus rumah makan kuliner dengan menu  'sangar'   ini buka dari pukul 9 pagi sampai 10 malam. 
 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami