Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 16 Agustus 2026
Ratusan Ribu Orang Bali Digenosida Tahun 1965
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ratusan ribu nyawa orang Bali melayang karena dibunuh tahun 1965. Presiden Yayasan Sukarno Center, Arya Wedakarna, menyebut ini sebagai genosida atau pembersihan etnis.
"Ratusan ribu nyawa orang Bali dibunuh antara tahun 1965 hingga 1966. Mereka dibunuh karena dianggap sebagai komunis. Padahal komunis itu bukan tidak mempunyai Tuhan, tetapi komunis merupakan sebuah sistem politik,"ujar Wedakarna, saat memberi sambutan dalam upacara Atma Wedana Korban G 30 S 1965, di halaman depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar, Minggu (30/9/2012).
Menurut Wedakarna, gerakan G 30 September 1965 merupakan konspirasi antara penguasa, militer, dan ulama waktu itu. Sebelum upacara atma wedana ini digelar, banyak korban G 30 S 1965 yang tidak mendapat upacara secara lengkap. Bahkan banyak korban yang tidak diketahui secara pasti dimana letak kuburnya. "Sebelumnya banyak keluarga korban yang tidak berani mengadakan upacara. Mereka takut dianggap PKI dan dimusuhi.
Upacara atma wedana ini digelar untuk para leluhur yang telah menjadi korban namun tidak sempat diupacarai. Benar atau salah perbuatan mereka itu urusan Tuhan dan bukan urusan kita," ujar Wedakarna.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4553 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2359 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2014 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1619 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1061 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun