Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 25 Juni 2026
Gratis 3.000 Tusuk Sate di Buleleng Festival
buleleng
BERITABALI.COM, BULELENG.
Beritabali.com, Buleleng. Festival memberikan kejutan kepada wisatawan dan warga. Mereka mendapatkan sebanyak 3.000 tusuk sate yang dibagi-bagikan saat pembukaan festival pertama di Bali Utara ini. Pembukaan Buleleng Festival digelar di depan Patung Singa Ambara Raja, Jumat (23/8/2013).
Ribuan tusuk sate itu dibakar oleh kelompok nelayan serta anggota Pramuka Saka Bahari Kwarcab Buleleng. Total panjang panggangan yang disiapkan untuk membakar ribuan tusuk sate itu mencapai 20 meter.
Ribuan tusuk sate itu terdiri dari sate udang, sate ikan kerapu, sate ikan kakap, dan yang paling istimewa sate ikan sepat mutiara. Sate ikan sepat mutiara hanya diambil dagangnya, dan disebut-sebut sebagai ikan yang paling kaya protein.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Buleleng Nyoman Sutrisna mengungkapkan, pembakaran ikan secara massal itu merupakan bagian dari kampanye Diskanla Buleleng dalam gerakan gemar makan ikan.
“Dari gerakan gemar makan ikan ini, kami harapkan muncul generasi yang kuat, sehat, dan cerdas. Apalagi Buleleng kaya dengan potensi bahari, bukan hanya ikan air tawar, namun juga ikan air laut,” ujar Sutrisna.
Sutrisna menambahkan, ribuan tusuk sate itu dibagikan secara gratis kepada seluruh masyarakat yang ingin menikmatinya. Sate ikan itu diberikan kepada masyarakat yang bersedia mengantre. Namun, ribuan tusuk sate itu hanya ada pada hari pembukaan Bulfest saja.
Salah satu wisatawan asal Belanda, Jack, mengaku sangat senang datang ke Buleleng Festival, terutama saat menyantap sate ikan laut. “Istri saya dari Lombok dan satenya disana lebih manis. Tapi kalau disini rasanya lebih pedas, saya suka taste-nya,” kata Jack.(bbn/dev)
Reporter: -
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun