Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Hilangnya Pegangan Hidup dan Munculnya Kemarahan yang Berbalik pada Diri
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 28 tahun, berinisial PNK datang dengan roman wajah sedih dan beberapa kali menangis. Ia mengungkapkan perasaan sedih yang telah dirasakan sejak lama dan semakin berat dalam satu bulan terakhir setelah diberhentikan dari pekerjaan.
Kesedihan semakin meningkat setelah mendapat kabar bahwa ibunya yang menderita kanker hati mengalami penurunan kondisi dan harus dirawat di rumah sakit. Ia merasa putus asa, tidak memiliki masa depan bila ibunya meninggal, serta menyalahkan diri karena merasa tidak mampu membantu ibunya. Muncul keinginan untuk mati, meskipun belum dilakukan. Ia juga merasa lemas, kehilangan minat beraktivitas, lebih ingin berdiam di rumah, serta mengalami penurunan nafsu makan.
Dalam empat hari terakhir, suasana perasaannya berubah sangat cepat. Setelah memulai pekerjaan baru sebagai SPG, ia sempat merasa sangat bersemangat, ingin melakukan banyak hal, dan merasa tidak membutuhkan tidur. Namun, keadaan tersebut tiba-tiba berubah menjadi kesedihan, mudah tersinggung, dan perasaan bahwa suaminya tidak memedulikannya. Selama empat hari hampir tidak tidur dan semalam hanya tidur sekitar satu jam, tetapi pada pagi hari masih mampu beraktivitas.
Ia juga mengeluhkan kepala terasa penuh dan berisik, disertai suara-suara yang mengomentari, menyalahkan, dan memerintahkannya untuk mati. Sebelumnya pernah melihat bayangan tanpa objek yang jelas. Menurut keluarga dan sahabat, dalam dua minggu terakhir muncul perilaku yang tidak biasa, seperti menyendiri di tebing dan keinginan membenturkan kepala ke tembok. Ia juga menggambarkan adanya teman imajinasi dalam dirinya yang memberikan saran atau instruksi, termasuk untuk melakukan cutting, berselingkuh, merokok, atau menggunakan vape.
Riwayat depresi dan perilaku menyayat tangan sudah ada sejak tahun 2025 dan telah menjalani pengobatan rutin ke psikiater. Namun, selama empat hari terakhir tidak minum obat karena habis. Dalam kehidupan sosial terdapat berbagai tekanan, termasuk konflik dengan mertua, keterpisahan dari kedua anak, masalah ekonomi, kehilangan pekerjaan, serta hubungan dengan suami yang dirasakan kurang suportif. Sejak kecil, ia juga mengalami perpisahan orang tua, tinggal terpisah dari ibu, dan pernah mengalami perundungan terkait pernikahan kembali ibunya.
Ketika hidup terasa terlalu berat
Kasus PNK, perempuan berusia 28 tahun yang datang dengan kesedihan mendalam, perubahan suasana perasaan yang cepat, hampir tidak tidur, keinginan untuk mati, perilaku menyakiti diri, serta pengalaman mendengar suara yang menyuruhnya mengakhiri hidup, memperlihatkan satu hal penting bahwa penderitaan manusia hampir tidak pernah lahir dari satu sebab. Ia terbentuk melalui pertemuan antara tubuh dan otak, sejarah kehidupan, hubungan dengan orang lain, keadaan ekonomi, pekerjaan, keluarga, serta lingkungan sosial dan budaya tempat seseorang memberikan makna terhadap hidupnya.
Kondisi ibu yang memburuk karena kanker hati bukan sekadar sebuah berita medis bagi PNK. Dalam pengalaman subjektifnya, kabar tersebut dapat berarti ancaman kehilangan seseorang yang mempunyai makna emosional sangat besar. Keadaan ini dikenal sebagai anticipatory atau pre-loss grief, dimana proses berduka sudah dimulai bahkan sebelum kematian benar-benar terjadi. Kecemasan terhadap kematian, rasa tidak berdaya, rasa bersalah, ketidaksiapan emosional, dan keputusasaan sering muncul bersamaan.
Keadaan ini menjadi lebih dalam karena hubungan dengan ibu memiliki sejarah tersendiri. Ia mengalami perpisahan orang tua, pernah hidup terpisah dari ibu, kemudian mengalami perundungan berkaitan dengan pernikahan kembali ibunya. Dalam perspektif teori attachment, pengalaman-pengalaman awal tersebut ikut membangun internal working model tentang apakah orang yang dicintai akan tetap tersedia, apakah hubungan aman, dan apakah dirinya layak dicintai.
Terdapat hubungan yang konsisten antara pola attachment yang tidak aman dengan kesulitan regulasi emosi pada masa dewasa. Maka ketika kondisi ibu memburuk, yang terguncang mungkin bukan hanya hubungan PNK dengan ibunya hari ini, tetapi juga jejak emosional seorang anak yang pernah mengalami perpisahan dan takut kehilangan kembali.
Adanya perubahan emosi yang cepat dari sangat bersemangat, ingin melakukan banyak hal, merasa tidak membutuhkan tidur, kemudian dalam waktu singkat menjadi sedih, mudah tersinggung dan putus asa tidak dapat semata-mata dianggap sebagai orang yang emosional. Secara klinis, pola peningkatan energi, kebutuhan tidur yang sangat berkurang, labilitas afektif dan gejala psikotik merupakan tanda yang harus mendorong evaluasi terhadap spektrum bipolar dan kemungkinan keadaan dengan mixed features. Namun perubahan emosi PNK juga dapat dilihat sebagai gangguan regulasi emosi.
Dalam teori regulasi emosi, seseorang tidak hanya memiliki emosi, tetapi harus mampu mengenali, mentoleransi, memberi makna dan memodulasinya. Bila kapasitas tersebut rapuh, stimulus interpersonal yang relatif kecil dapat memunculkan perubahan afek yang sangat besar. Emotion dysregulation berkaitan erat dengan suicidal ideation dan dapat menjadi mediator antara berbagai pengalaman psikopatologis dengan risiko bunuh diri.
Pada depresi biasa, insomnia sering disertai kelelahan. Pada kasus PNK, empat hari hampir tanpa tidur, dengan semalam hanya sekitar satu jam tetapi pagi harinya masih sanggup beraktivitas, merupakan fenomena yang berbeda dari bukan hanya tidak bisa tidur, tetapi dapat merupakan decreased need for sleep. Adanya gangguan tidur merupakan bagian sentral gangguan bipolar, utamanya fase manik atau campuran yang ditandai oleh durasi tidur lebih pendek dan efisiensi tidur yang lebih rendah.
Hubungannya juga dua arah. Ketidakstabilan mood mengganggu tidur, tetapi kehilangan tidur selanjutnya memperburuk regulasi emosi, impulsivitas dan instabilitas mood. Tidur pada kasus ini bukan gejala tambahan yang remeh. Tidur adalah salah satu jangkar biologis yang sedang terlepas.
Selain itu adanya keinginan mati pada PNK tampaknya muncul ketika rasa sakit psikologis, keputusasaan, rasa bersalah, konflik relasional, masalah ekonomi dan kehilangan pekerjaan bertemu dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada kasus ini terbentuklah cognitive triad, dimana diri dipandang gagal, dunia terasa tidak memberikan jalan keluar, dan masa depan tampak tertutup. Dalam konsep learned helplessness, kegagalan berulang untuk mengendalikan peristiwa penting dapat menciptakan pengalaman bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.
Namun dalam kasus PNK, risiko sudah melampaui pemikiran abstrak tentang kematian. Ada self-harm sebelumnya, perilaku menyendiri di tebing, keinginan membenturkan kepala, serta suara yang secara langsung memerintahkannya untuk mati. Adanya suara dengan perintah menyakiti diri mempunyai hubungan kuat dengan kejadian self-harm, terutama bila suara tersebut dirasakan memiliki kekuasaan atas individu. Karena itu, kondisi ini merupakan situasi risiko tinggi yang membutuhkan asesmen dan proteksi klinis segera, bukan sekadar konseling suportif biasa.
Teman imajinasi juga tidak boleh buru-buru dimasukkan ke satu kategori. Secara fenomenologis, perlu dibedakan apakah ia merupakan auditory hallucination, dialog batin yang terpersonifikasi, dissociative self-state, pikiran intrusif, atau fenomena lain. Pada seseorang dengan pengalaman trauma, bagian-bagian pengalaman emosional yang tidak dapat diintegrasikan kadang-kadang dialami seakan berasal dari bagian diri lain. Akan tetapi, adanya suara yang mengomentari, menyalahkan dan memberikan perintah, ditambah pengalaman visual sebelumnya, juga mengharuskan penilaian serius terhadap adanya gejala psikotik.
Memahami takut kehilangan dan rasa bersalah dalam diri
Dari sudut psikodinamika, ancaman kehilangan ibu dapat mengaktifkan kembali pengalaman kehilangan sebelumnya. Dimana figur penting dalam kehidupan tidak hanya berada di luar diri, tetapi juga diinternalisasi menjadi representasi internal. Ketika hubungan yang sangat bermakna terancam hilang, seseorang dapat merasa seolah sebagian dirinya sendiri ikut hilang. Rasa bersalah karena tidak dapat membantu ibu menunjukkan konflik antara gambaran diri ideal yaitu anak yang seharusnya mampu menyelamatkan atau membalas jasa orang tua dan kenyataan bahwa penyakit kanker berada di luar kendalinya.
Kemarahan terhadap suami, mertua, keadaan ekonomi, kehilangan pekerjaan, bahkan terhadap ibu yang mungkin akan meninggalkannya, tidak selalu mudah diakui. Dalam struktur kepribadian tertentu, kemarahan tersebut dapat berbalik menjadi serangan terhadap diri, bahwa “Akulah yang salah”, “Aku tidak berguna”, yang kemudian berkembang menjadi self-harm. Cutting dalam konteks seperti ini dapat mempunyai beberapa fungsi psikologis, yaitu mengubah penderitaan emosional yang tidak berbentuk menjadi sensasi fisik yang konkret, menghukum diri, mengurangi ketegangan, atau mengembalikan sensasi kontrol.
Tidak adil apabila seluruh masalah PNK diletakkan di dalam otaknya. Dalam waktu yang berdekatan ia kehilangan pekerjaan, menghadapi kesulitan ekonomi, mendapatkan pekerjaan baru yang menuntut adaptasi, terpisah dari anak-anaknya, merasa kurang mendapat dukungan pasangan, mengalami konflik dengan mertua, dan menghadapi kemungkinan kehilangan ibu. Pada faktor determinan sosial bunuh diri menunjukkan bahwa unemployment, job insecurity, masalah pendapatan, pengalaman masa kecil dan eksklusi sosial merupakan bagian dari jaringan faktor yang memengaruhi risiko suicidal behavior.
Dalam masyarakat dengan ikatan keluarga kuat, peran sebagai anak, istri dan ibu dapat menjadi sumber identitas, makna dan perlindungan. Tetapi nilai yang sama dapat berubah menjadi tekanan ketika seseorang merasa gagal memenuhi kewajiban tersebut. Ini bukan berarti budaya menyebabkan gangguan jiwa. Budaya dapat sekaligus menjadi faktor risiko dan faktor protektif. Rasa berkewajiban terhadap ibu dapat memperberat rasa bersalah, tetapi keluarga yang hadir, menerima dan membantu juga dapat menjadi salah satu faktor penyelamat terkuat. Sehingga peran dukungan sosial merupakan faktor protektif terhadap munculnya suicidal ideation dan behavior.
Pengalaman kehidupan secara berulang dapat memengaruhi sistem biologis yang mengatur stres. Adanya trauma masa kanak-kanak berhubungan dengan perubahan pada berbagai jalur biologis, seperti sistem hypothalamic-pituitary-adrenal, proses epigenetik, struktur dan fungsi otak, attachment, regulasi emosi, coping, hingga perilaku kesehatan.
Secara sederhana, sistem amigdala membantu mendeteksi ancaman, korteks prefrontal membantu menilai dan mengendalikan respons, sementara hippocampus memberi konteks pada pengalaman. Bila sejak masa perkembangan seseorang berulang kali mengalami ketidakamanan, sistem stres dapat menjadi lebih sensitif. Pada saat dewasa, kehilangan pekerjaan, konflik pasangan atau ancaman kehilangan ibu kemudian tidak datang kepada otak yang kosong, tetapi kepada sistem yang telah mempunyai sejarah.
Pada gangguan mood, sistem circadian, neurotransmisi dopaminergik dan glutamatergik, neuroplastisitas, stres oksidatif serta proses inflamasi juga saling berinteraksi. Karena itu, empat hari kehilangan tidur pada individu yang rentan dapat menjadi bagian dari lingkaran biologis berupa gangguan ritme tidur yang meningkatkan aktivasi, aktivasi semakin menghilangkan tidur, dan kurang tidur selanjutnya menurunkan kontrol kognitif terhadap emosi dan impuls. Di sinilah kita melihat bahwa biologi tidak meniadakan cerita kehidupan, dan cerita kehidupan tidak meniadakan biologi. Keduanya adalah bahasa berbeda untuk menjelaskan manusia yang sama.
Bantulah ia kembali memiliki kehidupan
Bagi keluarga, pertanyaan pertama bukan “Mengapa kamu melakukan ini kepada kami?”, melainkan “Apa yang sedang begitu menyakitkan sampai kamu merasa kematian adalah jalan keluarnya?” Keluarga perlu memahami bahwa suicidal ideation, self-harm dan suara-suara yang memerintah bukan bentuk mencari perhatian atau kurang bersyukur.
Pada fase akut, keamanan harus menjadi prioritas, bahwa PNK tidak dibiarkan sendiri ketika risiko tinggi, akses terhadap benda atau tempat berbahaya dibatasi, pengobatan dan kontrol psikiatri dipastikan berkesinambungan, pola tidur dipulihkan, serta komunikasi keluarga diarahkan untuk menurunkan konflik. Mendengarkan tidak selalu berarti menyetujui semua persepsinya; mendengarkan berarti mengakui bahwa penderitaannya nyata.
Bagi pemerintah, kasus PNK memperlihatkan keterbatasan pendekatan yang hanya menyediakan obat setelah seseorang menjadi sangat sakit. Kesehatan jiwa harus bergerak ke masyarakat, agar pelayanan primer mampu mendeteksi gangguan mood dan risiko bunuh diri, akses obat yang tidak terputus, layanan krisis, home visit untuk kasus berisiko, rehabilitasi psikososial, perlindungan pekerjaan, dukungan ekonomi dan koordinasi dengan keluarga.
Bagi masyarakat, mungkin tugas tersulit adalah berhenti memberi identitas kepada seseorang berdasarkan episode terburuk dalam hidupnya. PNK bukan perempuan yang mencoba bunuh diri, bukan orang yang mendengar suara-suara, bukan istri bermasalah, dan bukan orang yang tidak kuat menghadapi kehidupan. Ia seorang perempuan 28 tahun yang sedang kehilangan kemampuan untuk menanggung terlalu banyak beban sekaligus. Stigma justru membuat seseorang kehilangan pekerjaan, hubungan, martabat dan kesempatan untuk pulih, dimana hal-hal tersebut sebenarnya yang dibutuhkan untuk mencegah kekambuhan.
Pada akhirnya, tujuan psikiatri komunitas dan budaya bukan hanya membuat PNK berhenti mendengar suara atau berhenti berpikir tentang kematian. Kita harus membantunya kembali mempunyai tempat di dalam keluarga, kesempatan bekerja, hubungan yang aman, kemampuan menjadi ibu, anak dan individu menurut pilihannya sendiri, serta keyakinan bahwa masa depan masih dapat dibangun. Kesembuhan bukan berarti menghapus masa lalu. Kesembuhan berarti masa lalu tidak lagi memegang seluruh kendali terhadap hari ini.
Mungkin inilah pesan paling penting dari kasus PNK, bahwa ketika seseorang berkata ingin mati, terkadang yang sebenarnya tidak sanggup ia lanjutkan bukanlah kehidupan itu sendiri, melainkan cara kehidupan itu sedang berlangsung. Tugas keluarga, tenaga kesehatan, sekolah, pemerintah dan masyarakat adalah bersama-sama mengubah keadaan tersebut, sehingga ia tidak hanya mempunyai alasan untuk tidak mati, tetapi kembali menemukan alasan untuk hidup. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4436 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2085 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1550 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1008 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 939 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun