Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 April 2026
Saran Anas SBY Cawapres, Jebakan atau Strategi
jakarta
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Setelah kurang lebih sepekan, saran Anas Urbaningrum untuk SBY menjadi perbincangan luas di masyarakat, giliran pesaing politik Anas dan SBY bersuara. Menurut Puan Maharani, Ketua DPP PDIP, saran Anas untuk SBY, tidak masuk akal dan bertentangan dengan Undang-Undang.
Saran Anas untuk SBY agar Presiden RI ke-6 ini maju sebagai Calon Wakil Presiden di Pilpres 2014. Saran ini cukup menarik. Sebab belum ada yang mewacanakannya. Dari segi dialog politik, persaingan politik, substansi dan paradigma tentang jabatan politik di lembaga tinggi negara, saran ini membuat banyak pihak yang terkejut.
Saran ini seperti sebuah kelanjutan dari fenomena di Pemilu Kepala Daerah (Pilkada). Dimana seorang Bupati/Walikota/Gubernur yang sudah dua kali menduduki jabatannya, tiba-tiba berganti posisi. Turun menjadi 'wakil'. Dan nyatanya, sejumlah Kepala Daerah cukup berhasil.
Wacana Anas ini semakin menarik, sebab setelah berbulan-bulan komunikasi politik antara dia dan SBY terputus, inilah dialog politik pertama mereka, sekaligus memberi kesan permusuhan serius antara Anas dan SBY dapat diakhiri dengan gampang.
Saran Anas agar SBY mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden dalam Pilpres 2014, bukan hanya meniupkan angin rekonsiliasi tetapi juga mengandung pesan moral baru. Seorang kader (Anas) tetap cinta pada masa depan partai yang membesarkan namanya. Seorang kader memang tidak boleh lupa akan kulitnya.
Seorang politisi yang tersingkir, memang seharusnya tidak mendirikan partai baru. Lebih dari itu Anas tidak menginginkan seorang SBY, selain Presiden yang juga merangkap Ketua Umum Partai Demokrat, kehilangan kontrol atas kekuasaan di NKRI tercinta.
Anas dan SBY boleh diganti atau hilang dari Demokrat, tetapi Demokrat harus tetap menjadi bagian ataupun penguasa di Indonesia. Kalaupun tidak bisa menjadi Presiden lagi, karena UU membatasi siapapun termasuk SBY jadi Presiden untuk ketiga kalinya, tetapi tidak masalah kalau terpaksa harus turun jabatan.
Turun menjadi Wakil Presiden dari posisi presidensebenarnya tidak masalah. Apalah artinya sebuah nama atau jabatan? Lebih baik turun satu tingkat dari pada kehilangan semua kekuasaan.
Turunnya jabatan SBY kali ini oleh Anas dianggap sebagai sesuatu yang lebih patut dari pada langsung menjadi rakyat biasa. Toh SBY juga sudah pernah turun posisi. Dari pejabat tertinggi di Partai Demokrat (Ketua Majelis Tinggi), kemudian turun (hanya) sebagai Ketua Umum.
Sehingga saran Anas dalam wacana oleh beberapa kalangan dinilai sebagai sebuah bantuan pemikiran. Bantuan internal dari seorang kader senior Partai Demokrat kepada SBY sebagai pendiri partai.
Tapi ada juga yang mempertanyakan - apakah saran itu bukan bagian dari strategi Anas dalam berpolitik khususnya untuk menjerumuskan Demokrat dan SBY di jurang kekalahan? Betapa malunya kalau SBY maju sebagai calon Wakil Presiden, tapi gagal memenangi pertarungan ?
Disebut sebagai sebuah penjerumusan, karena semenjak Anas digantikan langsung oleh SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat bukan sekali dua kali Anas membuat pernyataan yang mencerninkan kekecewaannya.
Anas mengesankan kemarahan terhadap Demokrat dan SBY tak bisa disembuhkan.Hanya saja cara bekas Ketua Umum PB HMI itu menyatakan kekecewaan dan kemarahan, selalu dalam bentuk pasemon (sindiran) dan hanya dikirim kepada orang tertentu.Bahasanya sangat halus, santun dan cenderung jenaka. Tapi semangat meledek bahkan melecehkan, terkesan sangat kuat.
Pasemon-pasemon Anas terhadap SBY yang dikirim melalui twitter, tadinya hanya dipahami oleh etnis Jawa. Kebetulan Anas dari Blitar dan SBY dari Pacitan yang kedua kotanya berada di Jawa Timur. Tapi pasemon (bahasa Jawa) itu lambat laun kemudian dimengerti oleh publik Indonesia secara keseluruhan.
Oleh karena itu, tidak heran jika muncul pertanyaan sekaligus yang meragukan niat Anas menolong SBY. Pertanyaan dan keraguan itu terus bertambah besar, sebab selain pasemon, Anas juga pernah menegaskan sikapnya.
Ketika mendeklarasikan berdirinya ormas Pergerakan Indonesia (PI) Anas antara lain menyebut ormas tersebut akan digunakannya untuk menggembosi perolehan suara Partai Demokrat di Pemilu 2014. Dalam pengertian lain, Anas tidak menghendaki Demokrat menang dalam Pemilu tahun depan. Konsekwensinya, Demokrat bakal tidak bisa mengajukan calonnya sendiri.
Nah, boro-boro menyarankan SBY jadi Cawapres. Selama ini Anas berharap, Demokrat keok di Pemilu 2014. Sehingga disini terlihat sebuah kontradiksi. Isi twitter Anas memberi saran konkrit dan konstruktif. Tapi dalam deklarasi PI Anas menegaskan pihaknya akan menggembosi Partai Demokrat.Penegasan itu sampai saat ini tidak pernah dicabut!
Adapun tanggapan Puan Maharani (PDIP) yang menyebut saran Anas sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, sah-sah saja. Tapi sebetulnya pernyataan Puan cukup menyiratkan kegamangan dalam menghadapi persaingan di Pilpres 2014. Ketidak setujuan itu terkesan Puan tidak memahami apa yang tersirat dari saran Anas.
Puan hanya melihat politik yang dtawarkan Anas seperti sebuah abjad. Setelah "A" ada "B" dan seterusnya atau dalam rumus hitungan-hitungan, 1+1 berarti 2.Sebab jika gerakan dan pernyataan Anas pasca-lengser dari kursi Ketua Umum Demokrat diikuti secara cermat, saran Anas untuk SBY tidak mengacu pada teori abjad dan hitung-hitungan.
Saran itu lebih berarti sebuah jebakan. Sebab bisa saja saran Anas untuk SBY, yang sebetulnya tidak ikhlas, tapi kemudian dijadikan rujukan oleh SBY atau Demokrat. Sementara gerakan penggembosan oleh PI terhadap Demokrat dan SBY terus dimaksimalkan.
Bagi Anas, berhasil tidaknya SBY dan pasangannya keluar sebagai pemenang dalam Pilpres 2014, tidak masalah. Jika SBY masuk dalam daftar petarung, Anas bisa mengklaim, dia masih merupakan kader Demokrat yang peduli. Karena kepedulian itu, ia memberi saran untuk Ketua Umum (SBY).
Dampaknya posisi para loyalis Anas yang masih bertahan di Demokrat, menjadi lebih aman. Mereka tak akan bisa dizolimi oleh kelompok yang memusuhi Anas. Anas sendiri, mungkin sudah berhitung, kalau pada akhirnya SBY mengikuti sarannya, dia akan berada di posisi 'nothing to lose'.
Jika SBY menang, secara politik dan psikologis Anas bisa mengklaim, dialah yang memberi inspirasi kepada SBY dan Partai Demokrat. Sehingga SBY dan partainya memiliki utang politik kepadanya. Dia adalah kader yang pernah dibuang namun sebetulnya sangat diperlukan partai.Sebaliknya jika SBY mengikuti saran tersebut tetapi gagal, Anas pun bisa menuai kemenangan. Anas berhasil dengan pasemonnya.
Oleh sebab itu Puan yang menjabat salah satu Ketua DPP PDIP, sepatutnya tidak perlu berreaksi secara 'berlebihan'. Puan atau PDIP sepatutnya menjadi penonton saja dari petarungan antara Anas dan SBY. Karena yang berkepentingan agar SBY dan Demokrat gagal memenangi Pilpres 2014, bukan hanya PDIP saja.
Hampir dapat dipastikan, semua partai peserta Pemilu 2014 tidak menginginkan SBY dan Demokrat keluar sebagai pemenang. Jadi yang lebih aman, menempatkan pesan Anas untuk SBY sebagai sebuah pasemon semata. [bbn/inilah.com]
Reporter: -
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3862 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1813 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang