Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Megawati, Memilih di Antara Pilihan Tersulit

Senin, 10 Maret 2014, 08:55 WITA Follow
Beritabali.com

inilah.com/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Hari-hari yang penting dan sangat menentukan dalam kehidupan politik Megawati Soekarnoputri agaknya sudah tiba, yaitu menetapkan pilihan terbaik di antara banyak pilihan. Pilihan Presiden ke-5 RI tersebut, tidak hanya penting bagi diri dan partai pimpinannya. Melainkan penting dan sangat menentukan atau ikut membentuk ke mana arah dan masa depan 240 juta rakyat Indonesia. Yang akan ditetapkan Megawati adalah sosok yang bakal menjadi Presiden NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Hari untuk menetapkan calon pemimpin nasional itu tiba bersamaan dengan akan digelarnya Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2014. Pileg digelar 9 April 2014 dan Pilpres 5 Juli 2014.

Menghadapi dua peristiwa terpenting dan terpanas di dunia politik nasional itu, Megawati harus maju dengan strategi jitu. Membuat strategi, melibatkan banyak pemikiran. Di antaranya intuisi, kata hati dan fakta empiris. Menghadapi agenda "Indonesia Memilih" ini, untuk pertama kalinya Megawati berjalan sendirian. Sejak terjun ke politik di Pemilu 1987, inilah Pemilu pertama dimana Megawati tidak lagi didampingi sang suami Taufiq Kiemas. Politisi senior dan mantan Ketua MPR-RI itu wafat Juni 2013 lalu.

Meninggalnya Taufiq Kiemas (TK) ditengarai mempengaruhi independensi dan determenasi politik Megawati. Selama TK masih hidup, semua sepak terjang politik Megawati selalu dibayang-bayangi atau dipengaruhi oleh suaminya almarhum. TK berperan sebagai penasehat politiknya. Bahkan di era Megawati menjadi Presiden RI, 2001 - 2004, TK menjadi semacam 'Presiden Bayangan', The Shadow President.

Kini bayang-bayang TK itu sudah tak ada. Megawati menjadi dirinya sendiri. Sehingga menghadapi tahun politik 2014, Megawati sangat berbeda dengan hari-hari ataupun tahun sebelumnya.

Di momen awal tanpa TK, bisa saja hari-hari politik Megawati diwarnai oleh kegamangan. Maklum kegamangan bisa lahir karena kesiapan mental yang kurang. Menghadapi tahun politik 2014, tahun yang sarat dengan berbagai persaingan dan intrik ini, Megawati tidak boleh gamang. Ia harus tampil sebagai politisi yang memiliki syaraf baja dan mental yang kokoh.

Itulah sebabnya Megawati harus membuang kegamangan itu dan dia harus tampil dengan jati dirinya. Megawati wajib membuang kebiasaannya yang suka menangis di depan publik. Momen 2014, tanpa kehadiran TK, harus dijadikannya waktu pembuktian bahwa dia sudah menjelma menjadi seorang politisi ulung.

Sebagai politisi ulung, satu-satunya politisi wanita di pucuk pimpinan partai, bila perlu Megawati menunjukkan diri bahwa dia merupakan politisi berwatak keras atau the iron lady. Tidak sekadar menyandang dan menjual predikat anak biologis Proklamator RI, Soekarno.

Dengan rekam jejaknya sebagai wanita pertama yang menjadi presiden di Indonesia, faktor itulah yang perlu dia jadikan modal memilih dan menetapkan siapa calon presiden yang paling tepat diajukan PDIP. Menghadapi Pileg dan Pilpres, keputusan Megawati menjadi sangat penting. Terutama bagi bangsa dan negara, buat generasi masa kini maupun generasi muda. Sehingga apapun keputusan yang dipilihnya, harus berdimensi nasional, berskala luas hingga menjangkau ke ujung masa.

Yang menjadi kesulitan utama atau lebih tepat disebut sebagai tantangan Megawati terletak pada jenis dan jumlah pilihan. Keputusan yang amat sangat penting yang ditunggu publik dari Megawati, siapa yang akan ditetapkannya menjadi capres dan cawapres PDIP dalam Pemilu 2014. Publik selama ini hanya bisa menebak, mereka-reka dan atau memberi usulan. Publik sendiri menyaksikan, ibarat barang ataupun benda hidup, PDIP sudah mengoleksi sejumlah calon untuk posisi Presiden dan Wakil Presiden. Jumlah mereka relatif cukup banyak.

Tapi yang menjadi pertanyaan apakah semua calon tersebut memiliki kualitas dan kapabilitas sebagai pemimpin nasional? Apakah mereka jauh lebih baik dibanding Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono, keduanya dari Partai Demokrat? Tidak ada yang bisa memastikan. Tidak ada yang bisa menjamin. Termasuk Megawati sendiri. Tapi seperti diisyaratkan, tidak semua dari mereka yang akan menjadi alternatif pilihan itu, memenuhi kriteria, sesuai dengan yang diharapkan Megawati.

Untuk capres, pilihan Megawati kelihatannya makin mengerucut. Yaitu Joko Widodo (Jokowi), Gubernur DKI Jaya periode 2012-2017. Tapi pengerucutan itu terjadi, bukan karena Jokowi merupakan kader terbaik di antara semua yang terbaik. Pengerucutan kepada nama Jokowi terjadi karena popularitas mantan Walikota Solo itu, memamg fenomenal.

Pilihan pada Jokowi, tidak bisa disebut "yang terbaik di antara yang terbaik" atau "the best amongst the best". Pilihan itu lebih "yang terbaik di antara yang berkemampuan rata-rata".

Tapi karena pilihan nampaknya sudah mengerucut ke Jokowi, maka yang perlu dipikirkan Megawati adalah siapa yang akan mendampingi Gubernur DKI Jakarta ini? Pekerjaan berpikir dan mencari pendamping Jokowi inilah yang menjadi sebuah pekerjaan besar dan persoalan serius. Terutama karena semua hasil survei baru membatasi diri pada siapa figur capres yang disukai pemilih. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami