Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Muluskan Jokowi, Mega Harus Komunikasi dengan SBY

Selasa, 8 April 2014, 08:25 WITA Follow
Beritabali.com

inilah.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri disarankan membuka komunikasi politik dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal ini dilakukan untuk memuluskan langkah Jokowi sebagai Capres PDI Perjuangan yang akan bertarung di Pilpres 2014 nanti.

"Dengan posisi SBY sebagai Presiden, Jokowi sebagai gubernur harus mendapatkan izin jika ingin maju sebagai calon presiden. Atau, jika sangat pecaya diri akan memenangkan Pemilu Presiden, Jokowi dapat mengambil langkah mundur dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Itu menurut UU Pilpres 2008," ujar Sekretaris Jenderal Founding Fathers House (FFH) Syahrial Nasution, Selasa (8/7/2014).

Menurutnya, sesuai dengan UU No.42/2008 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden di Pasal 7 ayat 1 menyebut bahwa Gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, walikota, dan wakil walikota yang akan dicalonkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagai calon Presiden atau calon Wakil Presiden harus meminta izin kepada Presiden.

Sedangkan di Pasal 7 ayat 2 menyatakan, surat permintaan izin gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, walikota, dan wakil walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada KPU oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagai dokumen persyaratan calon Presiden atau calon Wakil Presiden.

Dengan UU tersebut, SBY memegang kunci keberhasilan Jokowi di Pilpres 2014 nanti. Sebab ada kemungkinan SBY tak mengizinkan Jokowi mundur sebagai Gubernur jika terpilih menjadi presiden 2014.

Syahrial menjelaskan, pengalaman yang sama pernah terjadi saat 1999 lalu dimana PDI Perjuangan menjadi pemenang dengan 33,75 persen suara namun gagal mengantarkan Megawati menjadi presiden.

"Karena pada saat itu, Megawati dan PDIP merasa yakin akan mampu merebut kursi RI-1 sehingga menutup diri. Terbukti, akhirnya impian tersebut dikandaskan oleh manuver Poros Tengah," ungkapnya.

Sementara itu, peneliti senior FFH Dian Permata menambahkan, hubungan Mega dan SBY tidak berjalan harmonis.

Hal ini dilatarbelakangi oleh peristiwa politik pada tahun 2003. Dimana saat itu SBY mengundurkan diri sebagai Menteri Kordinator Politik, Hukum, dan HAM serta maju sebagai capres dari dari PD di Pilpres 2004.

"Sebagai seorang negarawan dan anak dari salah satu founding fathers, Mega harus ke luar dari persoalan-persoalan masa lalu yang membelenggu. Mega juga harus belajar dari kasus Soekarno ketika menyelesaikan masalah politik dengan Sutan Syahrir,” kata Dian.

Dalam survei terkini FFH periode Maret-April 2014, PDIP diprediksi memenangi Pileg 2014. Elektabilitas PDIP berada di kisaran 25 hingga 27 persen. Sedangkan elektabilitas Joko Widodo sebagai calon presiden bertengger di angka 37,4 persen.

Survei dilaksanakan 11 Maret hingga 5 April 2014. Jumlah sampel 1090. Margin of Error 2,98. Level of Confidence 95 persen. Responden adalah calon pemilih, berumur 17 tahun atau belum berumur 17 tahun tapi sudah menikah, serta bukan TNI/Polri aktif. Survei dilaksanakan di 34 provinsi.

Menurut Dian, elektabilitas Jokowi belum sefenomenal SBY pada Pemilu 2004 dan 2009. Apabila PDIP tidak membangun koalisi dari awal maka dapat dibayangkan polarisasi di DPR.

PDIP tentu akan kesulitan menjinakkan partai lainnya dalam melakukan lobi-lobi politik. Imbasnya, pemerintahan kuat dan stabil yang diinginkan oleh PDI Perjuangan akan jauh dari harapan.

Kesalahan terbesar PDI Perjuangan dan Megawati jauh-jauh hari sudah mengatakan tidak mau berkoalisi dalam menghadapi Pilpres 2014. Kasus Pileg 1999 bisa dijadikan studi kasus tentang kegagalan PDIP membangun koalisi.

Begitu juga dengan studi kasus lahirnya Setgab yang dimotori Partai Demokrat. SBY bersama Partai Demokrat kerap kewalahan dengan manuver yang dilakukan oleh PKS dan Partai Golkar dalam Hak Interpelasi Bank Century.

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami