Swastika Bali, sebuah organisasi alumni pelajar dan mahasiswa Bali di Surabaya, mengadakan Lokakarya Desa Wisata Kemetug Gunung Salak di Ayucious Resto and Lounge Renon
Denpasar pada Jumat (27/1).
Menurut, Ketua Swastika Bali Drs. I Wayan Bagiarta Negara Apt., M.M, lokarya ini difungsikan sebagai pilot project untuk membahas rencana desa wisata yang sudah disetujui pemerintah.
"Pada lokakarya ini kami meminta masukan tentang desa wisata," ungkap Bagiarta Negara.
Bagiarta Negara menjelaskan bahwa Desa
Wisata memang menjadi program utama Swastika Bali yang dibentuk sejak Februari 2016 lalu ini.
"Diawal pembentukannya, Swastika Bali memang ingin berpikir dan berbuat untuk kemajuan Bali," imbuhnya.
Dari keinginan tersebut, dibentuklah Swastika Bali dengan desa wisata sebagai program utamanya. Bagiarta menambahkan, memang telah banyak konsep desa wisata di Bali, hanya saja konsep desa wisata oleh Swastika Bali adalah tidak hanya menjadikan desa sebagai destination namun juga accomodation.
Terlebih, konsep yang ditawarkan adalah desa wisata yang memang dikelola oleh desa bukan pihak swasta. Menurut Bagiarta Negara, desa akan dijadikan sebagai body corporate.
"Sebagai awalan, desa wisata kami terapkan di Kemetug Gunung Salak Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan," imbuhnya.
Menurut Bagiarta, dipilihnya Desa Kemetug Gunung Salak sebagai desa wisata didasarkan atas persetujuan tim.
"Sebelumnya, terdapat beberapa pilihan seperti desa sidemen karangasem, namun berdasarkan hal-hal tertentu dipilihlah Desa Kemetug Gunung Salak," imbuhnya.
Dijelaskan, bahwa
Desa Kemetug Gunung Salak memiliki karakteristik yang memang sesuai dijadikan desa wisata. Seperti alamnya yang unik berupa adanya pertanian organik dengan lahan terasering setinggi 400 meter.
Dari kawasan persawahan pula dapat dilihat pemandangan pantai. Belum lagi, ada sumber mata air pegunungan yang membawa daya tarik tersendiri. Ditambahkan pula, aktivitas masyarakat sesuai untuk menjadikan Desa Kemetug gunung Salak sebagai Desa Wisata.
"Desa Wisata ini memang belum tuntas dan dalam proses pengerjaan, namun kami (red: Swastika Bali) sudah mendapat permintaan dari pemerintah Badung untuk menjadikan salah satu desanya menjadi desa wisata," imbuhnya.
Sementara, mengenai pendanaan, Bagiarta Negara menyatakan bahwa pihaknya menggalang dana dari dua sumber yakni lewat crowdfunding dan pemerintah provinsi Bali. Hingga saat ini, pendanaan dari pemerintah provinsi bali baru akan dicairkan di bulan februari 2017.